Panggil saja saya “Indon”

Friday, 9 November 2007

Kita memang terlalu lekas naik pitam ketika mendengar berita bahwa orang-orang Indonesia dipanggil oleh orang-orang negeri jiran dengan panggilan Indon di Malayasial. Terlalu lekas naik pitam karena kita tidak pernah bercermin pada diri kita sendiri sebelumnya. Bak menyipak air telaga, muncratnya ke muka kita jua.

Coba kita telusuri dengan baik kenapa kita dipanggil Indon oleh mereka? Benarkah kita hanya sekumpulan bangsa yang bodoh.

Setelah 60 tahun lebih menjadi negara merdeka, kita masih saja menjadi negara tertinggal. Bahkan kualitas pendidikan yang ada sekarang lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun 1950-an. Dulu kita mengirimkan tenaga pengajar ke Malayasial, tapi sekarang orang-orang kita malah berbondong-bondong belajar ke Malayasial.

Bahkan salah satu mantan menteri kita menamatkan studi doktoralnya dalam ilmu hukum tata negara disana. Aneh, seseorang yang mengaku pakar tata negara di Indonesia belajar ke Malayasial, karena sistem hukum yang dipakai di Indonesia lebih banyak mengacu pada tata hukum Belanda, karena dulu para perumus UUD 1945 kebanyakan merupakan sarjana lulusan Belanda.

Kenapa kita harus marah, sedangkan kebanyakan dari kita tidak pernah tergerak untuk sekadar memperjuangkan kemajuan pendidikan di Indonesia.

Ada banyak bocah-bocah kecil yang tidak bisa memperoleh pendidikan akibat keterbatasan tenaga pengajar yang ada. Apakah kita pernah tergerak untuk menjadi tenaga pengajar sukarela disana? Tidak, kita lebih memilih untuk datang ke pub dan diskotik untuk berhura-hura. Kita lebih suka berpura-pura sangat sibuk belajar untuk mengejar IPK 3. Padahal tidak ada manusia yang mampu belajar selama 24 jam tanpa henti.

Salah seorang teman saya geram terhadap perlakuan orang-orang Malayasial ini. Ia berencana hendak merancang unjuk rasa memprotes perilaku orang-orang Malayasial yang menurutnya tidak mencerminkan asas good neighborhood. Sayangnya, ia menggunakan kartu seluler “XL”, dari penyedia jasa layanan provider Excelcomindo yang notebene adalah perusahaan dari Malayasial.

Mana yang lebih baik bagi kita, dipanggil Indon? Ataukah munaif, gabungan dari kata munafik dan naif?


PS : Sebuah jawaban untuk antobilang.wordpress.com : Jangan Panggil Aku “Indon” dan Farah ‘Fairy’ Mahdzan : “Dont Call Us “Indon” serta Nasrullah Ali-Fauzi : Perkataan “Indon”

Ada 6 komentar untuk “Panggil saja saya “Indon””

  1. antobilang berujar:

    (edit)Mas, anda sedang membandingkan sesuatu yang tidak setara. :mrgreen:

    (Asli)mas sedang membandingkan sesuatu yang tidak setara. :mrgreen:

  2. meonx berujar:

    Bung Antobilang, terkadang sebagai manusia, katanya, kita harus sering-sering menyentuh bumi agar tidak melayang terlalu tinggi :lol: . Saya sebenarnya marah juga disebut “Indon”. Tapi mungkin kita harus bercermin diri juga melihat kenyataan yang ada. :mrgreen:

  3. ahmad fairuz berujar:

    Assalamuaaikum. Saya amat prihatin terhadap apa yang terjadi ke atas bangsa Indonesia di bumi Malaysia. Pada pandangan saya, kedua-dua belah pihak-Malaysia dan Indonesia perlu mencari jalan penyelesaian secara bijaksana dalam menangani masalah ini. Tidak perlu diperbesarkan perkara yang remeh-temeh ini kerana kita adalah dari rumpun yang sama. Hubungan Malaysia-Indonesia adalah seperti adik beradik. Bak kata pepatah Melayu ,”Sedangkan lidah lagi tergigit”, inikan pula hubungan antara “adik dan abang”. Pasti ada sedikit pergaduhan. Begitulah hubungan Malaysia dan Indonesia, sememangnya memerlukan antara satu sama lain untuk terus mengharungi globalisasi yang mendatang seperti air dicincang takkan putus. Ingatlah wahai Malaysia-Indonesia, apabila sesama kita bergaduh, pastinya ada “orang ketiga” yang gembira dan bertepuk tangan dengan situasi ini kerana “mereka” tahu Malaysia dan Indonesia adalah kuasa utama di Nusantara ini.

  4. meonx berujar:

    Komentar diatas diposting oleh saudara kita dari Malaysia. Sengaja tidak saya ubah. :oops: Hanya sebagai suatu perbandingan bagi kita, bahwa tidak semua orang Malaysia berpandangan negatif terhadap bangsa dan negara kita. :wink:

  5. Badrut Tamam Gaffas berujar:

    <p><em>Wah…</em> orang Malaysia mungkin lidahnya memang sengaja diciptakan oleh Tuhan terpelintir sehingga tidak bisa jelas mengucap kata Indonesia. Tetap cekak saja “INDON”<br />
    Begitupun kontroversi lagu “Rasa Sayange” yang katanya asalnya dari Malaysia. Mungkin memang betul lagu itu dari Malaysia, tapi lidah mereka terpelintir untuk mengatakan lagu itu dari jiran Malaysia yakni Indonesia. Mungkin “TRAGEDI TERPELINTIRNYA LIDAH ORANG MALAYSIA” ini baru akan berakhir setelah Reformasi berhasil dan Anwar Ibrahim yang Pro Indonesia terpilih memimpin Malaysia…. :mrgreen:</p>

  6. indon berujar:

    Sepatutnya bangsa <strong>Indon</strong> dipanggil <strong>Indon</strong>… mau tahu kenapa? Kunjungi situs <a href=”http://arezeo.blogspot.com” rel=”nofollow”>http://arezeo.blogspot.com</a>

Beri komentar