Agama Langit dan Agama Bumi
Di suatu sore di Surabaya yang panas. Sehabis kuliah, tapi enggan pulang. Seperti kebiasaan mahasiswa lainnya, saya memilih cangkruk di kampus. Kebetulan ada teman. Kami berbincang banyak hal, mulai dari politik, kampus hingga masalah musik. Entah kenapa tiba-tiba obrolan ini berbelok arah menjadi perbincangan agama.
Menurut teman saya ini, agama diklasifikasikan menjadi 2, yakni agama langit (samawi) dan agama bumi. Agama langit adalah agama-agama yang diturunkan dari langit, berdasarkan wahyu Tuhan yang diterima oleh orang-orang suci. Agama bumi adalah agama-agama ciptaan manusia tanpa adanya wahyu dari Tuhan, atau agama pagan. Hindu dan Budha merupakan salah satu contoh dari agama bumi.
Terlepas dari semuanya, dikotomi pengklasifikasian ini secara akal sehat akan susah dibuktikan kebenarannya. Karena ketika kita berbicara masalah pengklasifikasian, maka kita pasti berbicara mengenai standar-standar tertentu yang dijadikan patokan untuk pengklasifikasian tersebut.
Permasalahannya, standar apa dan yang mana yang akan dipakai dalam mengklasifikasikannya. Dan akan sangat jelas objektifitas ilmu pengetahuan tidak akan berlaku disini. Warna subjektif akan terasa kental karena akan didasari oleh maksud-maksud tertentu yang dipergunakan untuk membela ranah-ranah pribadi, dalam hal ini agama yang diyakini.
Siapa yang akan menjamin menjamin standar tersebut akan objektif adanya? Dan siapa pula yang dapat membuktikan bahwa klasifikasi tersebut tidak akan condong mengarah pada satu kepentingan agama tertentu saja. Maka jadilah klasifikasi tak bertanggungjawab yang tak bisa dibuktikan kebenarannya.
Oleh karenanya, tehadap pernyataan kawan saya tadi, saya hanya bisa menjawab sekenanya.
Agama bumi diciptakan untuk kepentingan hidup manusia di bumi. Oleh karenanya sifatnya membumi. Sebab tujuan diciptakan memang untuk membawa kedamaian bagi makhluk bumi. Walau tak jarang dalam prakteknya tidak sedikit kesengsaraan ditimbulkan. Tapi harap maklum, karena ia cuma agama ciptaan manusia.
Sedangkan agama langit diciptakan untuk kebaikan di langit. Oleh karena itu, sifatnya membumbung tinggi dilangit. Karena diciptakan untuk kebaikan di langit, maka ketika diturunkan ke bumi ia menjadi tidak cocok. Tidaklah heran bila mendapati catatan sejarah bahwa selama 2 milenium ini banyak darah yang tertumpah, baik secara langsung maupun tidak langsung, karenanya. Dan tidak usah heran pula bila melihat kenyataan bahwa diantara pemeluk agama-agama langit sejak dulu saling berperang dan saling mengkafirkan satu sama lain.
Sangat susah menjaga objektifitas pemikiran diluar ranah ilmu pengetahuan. Terlebih lagi dalam hal agama. Sama seperti jawaban saya diatas. Walau saya berusaha mati-matian berteriak sampai serak bahwa jawaban itu sifatnya objektif, tetap saja banyak yang tidak percaya. Dan salah satu orang yang paling tidak percaya bahwa jawaban saya ini bersifat objektik, adalah saya sendiri.
March 24th, 2008 at 10:31 pm
Rahmat Tuhan bagi kita semua,
kemerdekaan kita untuk berpikir apakah sanggup untuk menjawab realitas tentang agama, atau jangan-jangan kemerdekaan kita untuk berpikir belum mampu melihat kemerdekaan relitas itu sendiri
May 27th, 2008 at 3:07 pm
Setahu saya mah, Tuhan itu satu, Dia menciptakan langit dan bumi, dari yang besar hingga sekecil-kecilnya. Sebagai pencipta, mustahil Dia tidak mengerti akan kebutuhan setiap mahluk yang Dia ciptakan, aturan2Nya sering dianggap tidak bijaksana oleh manusia karena sebetulnya manusia itu punya daya fikir yang terbatas. Hanya orang2 yang mau belajar dan yang memiliki kebeningan hati yang dapat “melihat” keniscayaan bahwa Tuhan adalah Maha Bijaksana.
Memang kalo kita ngedengerin apa kata orang suka sebel, apalagi yang sok pinter padahalmah sama ngga taunya. Kekesalan itu jangan dipendem aja, jangan cuma denger celoteh orang yang sama2 ngga punya ilmunya, cari kebenarannya, dengan begitu kamu pasti puasss.
September 8th, 2008 at 10:23 am
Biasanya pengkotakan agama itu dibuat dengan maksud untuk mengatakan bahwa agamanya yg paling bagus dan agama lain itu jelek. Dan pasti yg pertama ngomong itu adalah para pemimpin agamanya. Dan ini yg bahaya karena umat yg tidak tahu apa-apa akan mengiyakan bahkan akan menuruti kemauan sang pemimpin tersebut. Lebih bahaya lagi kalau sang pemimpin menyuruh umatnya untuk membantai umat lain.
September 15th, 2008 at 9:37 am
Agama langit dan bumi kalau kita umpamakan dalam negeri ini adalah:
- Agama langit : Cakupanannya luas (seluruh jagat Raya ) - Lingkungan seluruh indonesia dg pemimpin presiden yg bijaksana
- Agama Bumi: Cakupannya kecil (cuma bumi aja) - Lingkungan desa dg pemimpinya kepala desa yg bijaksana
-Agama langit: Tuhannya Tinggal jauh dilangit sana (Presiden tinggalnya di istana negara)
-agama bumi: Tuhannya tinggal di bumi bersama umatnya (kades tinggal dilingkungan warganya)
-agama langit: peraturanya tegas dan sanksi nyata karena sudah digariskan dalam kita hukum alam semesta -seperti matahari terbit ditimur dan tenggelam dibarat - kalau hukumnya diubah bisa mengacaukan seluruh jagat raya (negara punya hukum yg sangat jelas dan sanksinya juga jelas)
-agama bumi: hukumnya menyesuaikan keadaan masyarakat asal untuk kebaikan masyarakat itu (peraturan disesuaikan dg kondisi masyarakat desanya)
- AL: Bertemu tuhan ada waktunya, tdk bisa setiap saat karena tuhan punya jadwal yg sangat padat - Tidak boleh bertemu presiden seenaknya saja
- AB: Bertemu tuhan bisa kapan saja asal diniati - Bertemu kades bisa kapan saja, wong rumahnya dekat kok
-AL: Meskipun Tuhan maha bijaksana tapi peraturannya tidak boleh di langgar (apapun alasannya), kalau berani neraka menanti, karena hukumnya sudah paten - Jangan coba-coba melanggar peraturan pemerintah.
-AB: Peraturan boleh dilanggar kalau memang terpaksa - Adat bisa dilanggar kalau terpaksa dan masyarakatnya memaklumi
-AL: Umatnya tidak berani melanggar perintahnya karena takut hukumannya - Masyarakat tidak berani melanggar aturan karena takut penjara.
-AB: Umatnya tidak mau melanggar aturan karena sayang kepadanya - Masyarakat tdk berani melanggar aturan karena sungkan sama kadesnya (wong setiap hari bertemu)
-AL: Dimanapun umat berada, dia tidak akan mau mengubah kebiasaan yg ada dlm kitab sucinya (sepeti dalam suatu olahraga tertentu yg mengharuskan memakai pakaian tertentu, dia tdk mau memakainya, tp dia harus ikut olehraga tsb) - Pegawai pemerintahan kemana-mana pakaiannya sama.
-AB: Bisa menyesuaikan diri dengan adat setempat - seorang warga bisa mengikuti peraturan desa lain.
September 15th, 2008 at 10:10 am
-AL: makan, minum, berpakaian, kencing, berak (urusan pribadi) diatur dalam kitab suci - semua perilaku masyarakat diatur dalam peraturan negara.
_AB: Silahkan makan minum apa aja asal menyehatkan, sopan dan tidak mengganggu orang lain - silahkan warga mengatur diri sendiri asal tdk mengganggu yg lain
-AL: umat bisa membunuh, merampok, memperkosa atas nama agama - orang bisa membunuh sesuai kitab hukum negara
-AB: membunuh, merampok itu urusan pribadi, agama tdk bisa dijadikan alasan - membunuh orang tidak ada dlm adat desa.
-AL: Seorang nabi bisa menentukan siapa yg masuk sorga atau neraka - Org kepercayaan pemerintah bisa merekomendasikan seseorang untuk dipenjara atau tidak.
-AB: Masuk sorga atau neraka perbuatan sendiri yg menentukan - penjara atau tidak tergantung perbuatannya.
-AL: sorga adalah tempat yg menyenangkan yg bisa mendapatkan apa saja yg diinginkan, termasuk ngeseks dg 40 bidadari - Kalau sdh tinggal diistana, apa saja bisa didapatkan termasuk cewek2 cantik.
-AB: sorga adalah keadaan dimana kita bisa menahan dari godaan duniawi (tdk terangsang melihat cewek telanjang, tidak tergiur melihat makanan enak, tidak merasa marah melihat/mendengar sesuatu yg menyakiti perasaan, merasa senang mendengar musik merdu dan wewangian harum) - warga yg akur dan damai, tidak iri dan dengki.
-AL: sorga didapatkan setelah mati - kesenangan didapat jika tinggal di istana
-AB: sorga bisa didapatkan sewaktu masih hidup dan sesudah mati - kebahagiaan bersama2 kapan saja