Aku dan Tubuhku

Thursday, 2 August 2007

Dalam suatu bentuk pribadi, terkadang jiwa ini terlalu rumit untuk dipahami. Bingkaian alur pemikiran dan sifat-sifat pribadi yang ada serta tindakan yang dilakukan, terkadang saling berbenturan satu sama lain. Bila satu perspektif diambil, dua sisi paradoksial bisa tercermin bagi dua sisi mata uang yang selalu berbeda. Menuntun pada satu titik dimana dua pribadi berkembang pada satu tubuh.

Ketika pemikiran memilah satu simpul antara salah-benar dan baik-buruk, sifat-sifat yang ada berusaha meracuninya dengan segala itikad buruk yang ada. Manakala tindakan dilakukan, harapan akan berbeda dengan kenyataan yang terjadi. Kecewa merebak, dan segera tertutup oleh rasa acuh tak acuh yang semenjak kecil menjangkit dengan ganasnya.

Di satu titik keakuan, sombong tak mau kalah menjalar, walau di sisi lain tahu hal itu bukanlah satu yang harus diabadikan. Terkadang mulut ini terlalu cepat mengumbar kata-katanya tanpa sempat mengolahnya dalam pikir dan rasa. Bara api amarah dan syak wasangka tak jarang menambah runyam suasana.

Saat renungan mengalir dalam kesendirian, putus asa menyeruak dalam usaha memahami segala yang ada. Keinsafan untuk berubah dan rasa malu atas apa yang telah terjadi pun datang menghantam. Dan buku-buku selalu menjadi pelarian atas kesepian yang ada.

Hanya pengecut yang melarikan diri dari kenyataan. Ketika sadar itu bukan jalan terbaik yang bisa menyelesaikan, kemuraman menyaput. Tuangkan dalam kata-kata satu cara yang baru berhasil ditemukan. Untuk itu ego ditulis.

Beri komentar