Benci
Saat cinta datang membara, jurang agama jadi satu pemisah. Menjauhkan satu pesona indah perempuan ke dalam bingkai rasa muak yang terhebat yang pernah ada. Entah mengapa manusia terlalu bodoh memaksakan agama untuk menjadi sekat pembeda satu sama lain. Bagaimana bila wahyu itu turun manakala seorang agitator murahan memungutnya dibalik tumpukan sampah berserak.
Berusaha melupakan segala sesuatu yang terkait dalam hadirnya, dan mewujudkannya dalam satu rasa benci atas segala keindahan yang ada dalam dirinya, namun bayangnya tak pernah henti menari. Selalu memaksa hadir dalam lintasan mimpi-mimpi malam yang sepi.
Saat rindu tak lagi menggoda dan api cinta berangsur pada, semua yang pernah terjadi berusaha dilupakan. Mungkin persahabatan lebih indah tinimbang satu jalinan asmara. Entah setan apa yang menyulutnya menjadi nyala rindu kehadirannya disisi.
Dan malam-malam pun menghadirkan lagi mimpi-mimpi indah yang dulu pernah hadir. Sama menyiksanya dengan sebelumnya. Mengapa seperti ini. Mengapa rasa ini tak pernah padam menjangkaunya dalam nyanyian rindu. Selalu ingin memetik dan menyuntingnya sebagai satu kembang idaman hati sepanjang hayat. Aku benci semua ini.
Dan bersama angin semua rasa terlarut dalam hati yang tertawan oleh indah arti hadirmu disini. Hati yang ingin berdendang bersamamu mengalunkan lagu tentang kisah yang tak lekang hingga akhir masa.
Beri komentar