Cakalele

Tuesday, 7 August 2007

Mereka yang menari diiringi gemuruh suara tifa. Mengobarkan semangat juang diatas ujung tombak. Membendung serbuan musuh dibalik perisai yang terangkat kokoh di tangan kiri. Melangkah gagah bersama dalam satu harmoni. Semangat Matullessy mengalir di darah mereka. Menyusup ke balik relung kalbu. Parang tajam tersampir dipinggang. Berteriak lantang menggelegar. Menentang satu bentuk tirani yang mencengkeram. Gigih tak kenal kata menyerah mengusir mereka yang telah lalim bercokol di bumi putra-putri sang alam. Mereka yang menari diiringi gemuruh suara tifa. Tak lagi membawa satu kobar semangat mengusir penjajahan. Kini mereka lantang berteriak menantang satu pelukan saudara. Benang Raja terikat di setiap kepala. Melangkah gagah dalam setiap didih darah yang hendak melepaskan diri dalam pelukan ibu pertiwi. Benang Raja berkibarlah engkau. Berkibarlah engkau merobek angkasa, jika Merah Putih tak lagi perkasa memelukmu dalam damai. Berkibarlah engkau kemilau sinar matahari, bila Merah Putih tak lagi mencerahkan hari-harimu. Berkibarlah engkau dalam hembusan angin Manise, andai Merah Putih tak lagi melindungi dalam setiap derita yang datang melanda. Namun ingatlah, tanah ini selalu merindukanmu. Tanah tupah darah yang pernah terbela bersama setiap darah dan nyawa yang melayang mengusir koloni yang mencengkeram.

Beri komentar