Di Atas Mutiara Timur Malam
Nyaring peluit riuh berbunyi seiring suara-suara mendesis datang membising. Teriak sirene tertiup kencang. Perlahan-lahan semua berlalu. Pilar-pilar hijau menjauh. Bangku-bangku teronggok kosong dalam kebisuannya. Hangat memeluk dua bocah yang menggigil dalam kegelapan. Bangunan tua sekilas menantang.
Gemulai berjalan, mendecit tiada henti. Di atas jembatan, lalu-lalang kehidupan masih berlanjut hingga pagi kian menjelang. Berpadu dengan kerlap-kerlip cahaya yang datang silih berganti. Gubuk-gubuk kumuh datang menyapa. Berhiaskan jemuran yang melambai tertiup angin. Tak lama gedung kokoh menjulang dengan angkuhnya. Oh elok nian pemandangan ini.
Kembali gubuk-gubuk kumuh membentang risih. Bata-bata pucat menghias dindingnya. Tiang-tiang antena mencuat menembus keremangan malam. Sangkar-sangkar merpati bertengger di atapnya.
Seorang wanita berpakai sedikit terbuka terlihat duduk di satu kursi sebuah warung. Gincu tebal, rias menor dan berbekal sebatang rokok menyala di mulut, mereka menunggu pelanggan mereka yang hendak berkunjung mereguk kenikmatan dalam belaiannya. Satu-dua tenda kecil bercahayakan temaram kecil menari-nari mulai terlihat. Mendekap setiap lenguh lelaki hidung belang yang terkapar dalam kenikmatan di atas tubuh wanita-wanita malam.
Seorang berandal tidur terlentang di satu kursi sebuah stasiun tua. Mungkin terbuai dalam buai aroma alkohol yang diminumnya. Tak jauh darinya dua orang pengemis nampak sibuk menghitung penghasilan mereka hari ini. Dua orang pemulung mengais-ngais rezeki dalam sampah yang berserak.
Buain kantuk mulai datang menyerang ketika kereta dengan angkuhnya meninggalkan stasiun tua itu. Menyisakan asap menggumpal dalam kesuraman. Hangat mimpi membelai dalam pelukan malam.
Beri komentar