Kebenaran Dalam Hindu
Bagaimana Hindu memformulasikan suatu kebenaran, baik yang terkait dengan ilmu pengetahuan maupun dalil agama, mungkin suatu hal yang menarik untuk dikaji. Dan akan lebih menarik lagi bila ia secara terbuka juga menunjukkan cara untuk menguji kebenaran-kebenaran atas dalil yang terkait padanya.
Tersembunyi dibalik banyaknya ajaran-ajaran yang ada, keberadaannya sering dilupakan. Sebagai manusia, terlalu seringakal dan pikiran kita ini hanya sebagai hiasan kepala ketika hendak memasuki tabir dunia religi. Dan sesungguhnya suatu kebenaran suci berlindung dibaliknya, menunggu untuk diungkap.
Dan ia disebut sebagai Tri Pramana. Tri berarti tiga, Pramana berarti cara atau jalan. Sebagai satu kesatuan, Tri Pramana bermakna tiga cara atau jalan untuk mendapatkan suatu kebenaran. Yakni, Pratyaksa Pramana, Anumana Pramana dan Sabda/Agama Pramana.
Pratyaksa Pramana adalah suatu jalan untuk menemukan kebenaran melalui pengamatan atau penyelidikan secara langsung dengan memanfaatkan fungsi panca indra, seperti mata, telinga, hidung, lidah dan kulit.
Anumana Pramana, anu berarti menurut, mana berarti ukuran atau standarisasi, adalah suatu jalan untuk membuktikan kebenaran melalui perhitungan atau pemikiran logis, baik berdasarkan data, gejala-geja;a yang dapat diamati, dan lain sebagainya. Dari perhitungan logis tersebut kemudian ditarik kesimpulan untuk membuktikan kebenaran tersebut.
Sabda/Agama Pramana adalah suatu jalan untuk mengetahui kebenaran melalui pemberitahuan maupun mendengarkan suatu ucapan, dalil, cerita dan sebagainya dari seseorang yang dipercaya karena kemampuan, kejujuran, kesucian dan keluhuran budinya.
Ketiga jalan tersebut, menurut saya, bukanlah masing-masing berdiri sendiri, tapi terkait satu sama lainnya. Dengan kata lain, kita tidak akan menerima suatu kebenaran hanya dengan mengandalkan satu cara saja dalam pembuktiannya. Terlepas dari cara yang mana diambil sebagai awal pembuktian, tetaplah ketiganya merupakan satu rangkaian cara yang tak dapat dipisahkan.
Misalnya kita hendak menyelidiki suatu kebenaran. Guru memberitahu kita bahwa sesuatu yang panas, dapat membakar, menghangatkan, mendidihkan dan/atau menghanguskan sesuatu, memiliki warna tertentu sesuai dengan tingkat kepanasannya, disebut sebagai api. Maka bila kita menemukan sesuatu yang menyala dengan warna merah kekuningan, terasa panas, kemudian kita taruh kertas kering didalamnya dan kertas itu terbakar serta kita dapat mencium bau hangus menyertainya. Dan ketika kita taruh panci berisi air di atasnya, air tersebut mendidih. Maka yakinlah kita bahwa itu api.
Beri komentar