lupa
Rinai hujan tak lagi deras menetes dari langit. Halilintar tak lagi bersahut sambung menyambung. Mega mendung telah berlalu pergi seiring sinar matahari yang menyeruak pilu. Burung-burung mengibaskan tubuh mereka untuk mengusir basah di bulu mereka. Cacing-cacing keluar tanah mencari udara segar.
Wajah-wajah tertunduk dalam ratap tangis gelisah. Memandang sayu pada air yang menggenang. Menatap kelam pada tanah merata yang menghampar. Menunduk sayu pada riak mengahnyut harta yang terbawa. Suara tercekat tak lagi menjerit papa. Desah mengadu pada kuasa ilahi. Dalam doa memohon ampun pada cobaan yang mendera.
Tak insaf akan tingkah yang tak lebih baik dari binatang. Tak ingat pada tawa yang menggelak seiring jerit pohon bertumbangan di tangan gergaji. Terlupa akan gunung yang merangas dalam kekeringan. Tak sadar pada ceria yang merekah seiring jerit tangis sungai yang mengering ditelan sampah. Terlupa akan ratap rawa yang tak lagi menggenang.
Pada ilahi mengadu. Seolah azab yang ada berpangkal dari tangan-tangan perkasa-Nya. Seakan semua derita berawal darinya. Seperti Ia sangat tega memainkan nyawa manusia seenak hati. Tak cukupkah petaka datang untuk menyadarkan. Masih kurangkah bencana mendera untuk mengubah sikap. Bahwa sekalian alam tercipta bukan untuk kemakmuran pribadi, namun tenteram dunia manusia.
Beri komentar