Manifesto Dewa-Dewi

Sunday, 5 August 2007

ari sekian banyak pertanyaan tentang keberadaan Hindu sebagai agama, maka pertanyaan yang kerap muncul adalah tentang keberadaan Dewa-Dewi dalam agama Hindu yang mengarah pada konsep politheisme, yang tentunya ditabukan oleh banyak kalangan yang terbius oleh dogmatika monotheisme. Dalam beberapa sudut, pertanyaan ini akan mengarah pada perspektif apakah Hindu itu agama?

 

Dewa dan dewi yang berasal dari kata “Deva” dan “Devi” dalam bahasa Sansekerta, memiliki urat kata yang sama yakni “Div”, yang artinya sinar suci. Bila dianalogikan bak sinar matahari, maka Ia-lah yang memberikan sinar kehidupan pada semua makhluk di alam semesta. Dengan kata lain, kata “Deva” dan “Devi” tak lain dan tak bukan merupakan Tuhan itu sendiri.

Dalam teologi Hindu, konsep Dewa dan Dewi ini dikenal sebagai bentuk manisfestasi Tuhan dalam penggambaran sederhana yang dikaitkan dengan sifat-sifat-Nya. Bila merujuk pada konsep keakuan manusia, terdapat beranekaragam sifat yang dimiliki oleh Tuhan. Hanya sifat-sifat tertentu saja yang diwujudkan dalam konsep Dewa-Dewi ini. Misalnya, Tuhan dalam manifestasi sebagai pencipta, disebut Dewa Brahma. Manifestasi sebagai pemelihara, disebut Wisnu. Manifestasi sebagai pelebur segala sesuatu, disebut Siwa. Sebagai sumber pengetahuan, Ia disebut Saraswati, dan lain-lain

Sama halnya dengan bentuk frase sederhana yang digunakan ketika menyebut Tuhan. Misalnya sebagai Sang Pencipta, Sang Khalik, Yang Maha Kuasa, dan sebagainya. Begitu pula sama halnya dengan Al-Rahman, Al-Rahim, dan 98 nama lainnya.

Dengan analogi sederhana dapat digambarkan sebagai berikut. Misalnya nama saya Samidjan. Teman-teman sepermainan saya memanggil saya Mijan. Di dunia selebriti saya dipanggil Ian Kasela. Orangtua saya memanggil saya Thole. Kakak saya memanggil Dik. Adik saya memanggil Kang. Istri saya memanggil Mas. Anak saya memanggil Ayah. Keponakan saya memanggil Oom. Cucu saya memangil Mbah. Anak buah saya memanggil Pak Ian. Kenek bus kota memanggil saya Abang. Padahal saya tetap satu, Samidjan.

Hindu dibahasakan dalam bentuk kompleksitas pemikiran filosofis yang rumit. Konsep manifesto Dewa-Dewi ini dihadirkan untuk menanamkan satu bentuk pemahaman sederhana tentang Tuhan. Dengan ini diharapkan timbul satu bentuk kesadaran nurani tentang mengenai keberadaan Tuhan itu sendiri dalam kehidupan manusia.

Dalam prakteknya, harus diakui bahwa terkadang umat Hindu sendiri tidak sanggup membedakan hal ini, karenanya tak jarang mereka menyatakan bahwa Tuhan dan Dewa itu berbeda, sehingga tuduhan politheisme kerap ditudingkan.

Namun apakah itu salah? Teramat sulit untuk mengatakannya. Terlebih lagi ketika konsep monotheisme terlalu mengakar dalam benak, akan sangat sulit menerimanya. Harus diakui pula Hindu tak hanya mengenal satu konsep monotheisme saja. Konsep politheisme, bahkan atheisme pun terdapat didalamnya. Namun sayangnya, para misionaris keparat dengan kedok kesarjanaannya, entah karena tendensi agama, salah pemikiran, ataupun ketidaksetujuan, terlalu enteng menyebut hal tersebut sebagai bentuk kekafiran pemikiran manusia.

 

 

Beri komentar