MalayaSial

Wednesday, 22 August 2007

Dera cambuk melecut pungung-punggung yang terbungkuk oleh beban yang makin menumpuk. Panas setrika tertelan dalam didih keringat yang mengucur deras dari tubuh yang bersimbah peluh penderitaan. Makian kata-kata menghujam ke sanubari yang telah tuli oleh pekik tangis keluh kehidupan yang tanpa harapan. Sulut rokok tak mampu hadirkan siksa.

Tangan menengadah dalam gelimang harta terbayang. Meraih mimpi dalam setiap angan yang menerawang. Berbalut nista tekad membaja. Dalam ratap tangis dan doa, airmata mengucur membasuh duka.

Diatas derita berjuang demi asa akan kehidupan yang cerah. Demi rasa akan ceria yang menghiasi hari-hari. Demi masa hadirnya bahagia dalam hidup. Cerah ceria bahagia yang hanya mampu terbeli dari cucuran keringat derita menggali timbunan harta. Cerah ceria bahagia yang hadir dalam kantong-kantong harta yang terbungkus di saku.

Saat negeri tak lagi mau menyuapkan nafas kehidupan ke mulut-mulut mereka. Ke jiran mereka mencari kembara. Mengemis diantara duli kuasa harta yang menggiur nikmat. Lengan menyingsing mengusir azab yang menimpa.

Sementara tuan-tuan serakah tertawa menganga dibalik mulut mereka yang selalu lapar. Memerah keringat dan darah yang tersisa dari mereka. Menjebak perangkap perdaya dalam setiap senyum mengembang yang menyungging dibibir yang kembali dari kembara. Mencoba menguras kantong mengembang dibalik saku mereka.

Tanpa sadar mulut ini berkata. Sungguh kita adalah orang-orang Melayu sial.

Beri komentar