Murka Bumi

Saturday, 25 August 2007

Mengalirlah. Mengalirlah terus sobat. Luapkan semua gemuruh dalam perutmu. Muntahkan dan genangi semua. Jangan ada sedikitpun tersisa. Rendam mereka, basahi dengan amarah yang kau semburkan. Bakar mereka dalam azabmu yang membara. Hingga tak ada lagi yang mampu berdiri tegak menantang.

Tangis duka jangan sampai menghentikan langkahmu. Ratap isak jangan sampai merajuk belas kasihmu. Biarkan derita mewabahkan bencana. Rajamkan deritamu hingga jerit tak lagi mencekam. Sampai nyawa putus meradang karena badan tak lagi sanggup mengekang. Jangan hentikan murkamu hinga tumpah meruah menguburkan kelam yang kejam.

O diwangkara nan agung, pancarkan sinarmu yang membara. Didihkan lautan hingga menggelegak. Uapkan, uapkan semua airnya. Bangkitkan mereka, ajak berpesta airmata.

O bayu perkasa, hembuskan nafasmu sekuat menghentak. Terbangkan didih ke mega-mega. Tiup-tiuplah agar mereka mengerti betapa perkasanya dirimu. Sembunyikan wajah bagaskara dalam mega kelam. Sebab ia tak tahan memandang. Percikkan apimu sebagai ganti cahayanya. Terangi wajah bumi yang merona marah dalam kegeraman.

Sudah, sudah dimulai … Ya sudah dimulai …

Semua merasakannya. Ia menetes. Ia mulai menetes gerimis. O sungguh kelam, pertanda amurka telah datang. Guyurkan lagi, guyurkan bulir-bulir yang lebih lebat lagi! Angin teriakkan gemuruh genderangmu! Petir halilitar pekakkan ledakmu!

O sungguh merdu, sungguh tembang yang merdu. Tembang yang mengalun lirih diatas sendu. Alunan irama satu tari tentang kematian.

Bukalah gerbang neraka hai maut! Terimalah jiwa-jiwa bergelimang dosa ini. Rebus mereka dalam tungku-tungku timah bernanah. Hingga tulang tak lagi kokoh menopang lemah jiwa mereka. Hingga mereka meratap dalam isak tangis atas dosa-dosa yang telah diperbuat.

Beri komentar