Orang Rimba

Monday, 13 August 2007

Mereka menari dalam riang kegelapan tanpa satu cahaya dian menemani. Kayu bakar raib, seiring deru gergaji menumbangkan pohon-pohon. Lenyap tanpa sisa. Tak ada lagi nyanyian burung-burung menemani. Bahkan semut pun tak mau menyaksikan mereka bernyanyi. Mereka berpesta di atas panggang hampa. Buruan pergi menghilang entah kemana. Lari terusir dari padang rerumputan yang kering menghampar. Tusukan kayu berserak tak berguna. Anak-anak mereka berbaring merintih dengan kulit dan daging yang tersisa ditubuhnya. Kelaparan telah lama menghantui. Mereka bernyanyi dalam jerit suara serak. Dahaga tak kunjung lepas dari tenggorokan mereka. Telaga mengering, menyembunyikan air entah di mana. Sisa tulang ikan berserak di dasarnya, bersama lumut-lumut yang gersang merangas. Dengus tamak, tuan-tuan serakah mengejek memicingkan mata. Hanya sekumpulan makhluk purba biadab. Jauh dari peradaban, tak patut mereka di lindungi. Kayu lebih berguna bagi peradaban manusia kota. Saat hutan tak lagi menjadi rumah mereka. Hewan buruan tak lagi menjadi penyambung hidup mereka. Telaga tak lagi dapat membasahi kering dahaga mereka. Hanya satu yang pasti. Kematian menghantui hidup mereka.

Beri komentar