Wahai Pesona

Sunday, 19 August 2007

Di suatu senja yang muram. Sisa-sisa panas matahari masih terasa di udara, walau cahayanya telah meredup tertutup mega-mega di ufuk barat. Kaki melangkah di atas roda, menantang angin untuk mengusir penat ditubuh. Segarkan pikiran yang sejak pagi terus mengusut. Berharap sejuk menghela lelah yang tersisa.

Diatas jembatan berdiri memandang satu arah pasti. Tak hirau lalu-lalang manusia yang hiruk pikuk dalam kemacetan. Terpaku pada satu takjub yang memukau. Peduli setan dengan tatapan sinis yang terheran memandang.

Di bawah terhampar satu sungai yang tak jelas mengalir. Sampah menggenang dalam tautan berangkai. Tak tampak kehidupan, berenang dalam pekatnya air yang menghampar hijau menghitam. Semua membisu dalam statis yang tak kunjung bergerak.

Hanya gubuk liar dan pepohonan, teman bermain di kala sepi datang menjelang. Semua kotoran berteriak gaduh dalam cengkerama yang tak sayup. Menghirup semua nafas kehidupan yang ada didalamnya. Dalam satu hentakan, menyisakan kuburan belulang makhluk-makhluk kecil yang berenang megap-megap sembari menghembuskan nafas terakhirnya.

Sinar matahari makin meredup. Menghadirkan lembayung di ufuk senja. Jingga memerah bergelayut manja dibalik rindang pepohonan. Hadirkan satu pesona indah senja di satu masa kehidupan. Terasa damai mengalun membuai asa. Penat lelah berlalulah sudah, seiring desir angin yang bertiup sepoi-sepoi basa. Andai semua kenangan ini dapat terabadikan.

Beri komentar