Yahukimo

Tuesday, 21 August 2007

Kepak-kepak sayap gagak menyeruak di balik pepohonan. Berkicau parau dengan suara mereka yang serak. Mengabarkan satu berita duka tentang petaka kematian yang mewabah bersama lenguh penggali kubur yang terduduk kelelahan di atas satu nisan.

Matanya yang memerah, menyala menahan tangis. Mengisahkan satu cerita kelam anak manusia. Tentang pecahan periuk yang tak lagi ingin menanak sagu. Tentang perapian yang terbakar sia-sia tanpa ketela terbaring dalam baranya. Tentang tombak dan panah yang hancur berkarat karena tak lagi diasah darah binatang buruan.

Tentang bocah-bocah tak berdosa yang meronta sedih dalam cengkeraman maut yang datang menerjang. Tentang orang-orang yang menyanyi sedih dalam tubuh kering mengisut. Tempat dimana tubuh-tubuh kecil kurus tergolek lemah dalam dekapan orang tuanya. Dua tatapan matanya yang nanar memandang sunyi ke arah ajal yang segera menjelang.

Lalat-lalat bermuram durja tak ingin berpesta dalam bencana. Burung-burung bangkai menggeletak tak berdaya dalam tangis memandang ke arah asad-jasad kering dengan tulang yang menonjol berbalut tipis kulit yang mengeriput berserak. Satu kata terucap dibalik lidah mulut-mulut mereka yang menganga. Lapar.

Disana di Yahukimo itu terjadi. Di tanah Papua yang kaya. Jauh dari peradaban mereka berada. Dibalik megah Jayawijaya, tersembunyi di balik mega.

Beri komentar