Kelud (Berguru pada Giri bagian 2)

Tuesday, 27 November 2007

Ke selatan memandang, terkesiap hati menatap gejolakmu yang membuat resah. Lama ternanti, engkau menegur lagi menyuarakan kehadiranmu yang terlupakan. Apakah pangeran yang terpendam dalam perutmu bergejolak marah menatap manusia yang tak pernah adil pada alamnya? Ataukah ia marah pada tingkah laku manusia disekitarmu yang perlahan-lahan menggerus keagunganmu dengan mata cangkul dan sekopnya diatas tanahmu?
Adakah kau rindu wahai Keludku, menikmati kelut yang berkemelut diatas manusia yang menginjak-injak agungmu?

Terakhir kali kusaksikan marahmu saat aku masih polos dan belum mengerti tentang kejamnya manusia pada dunianya. Pernah aku bertanya, kenapa Tuhan tidak memindahmu di atas lautan? Maafkan aku, ketika itu, aku trenyuh melihat gelimang mayat yang menjadi mayatmu. Waktu itu aku hanya seorang bocah yang belum mampu menimbang rasa.

Terkadang tertawa pula melihat tingkah laku manusia disekitarmu. Sekali engkau menggeram, lintang-pukanglah mereka berlarian mencari perlindungan. Seolah benak mereka membayangkan lagi kisah-kisah perkasa kegagahanmu yang menakutkan. Terlupa pada alam yang seharusnya mereka pelihara. Terlupa merawat satu warisan yang tertinggal diatas kelopak daun-daun menghijau. Terlupa untuk menjaga satu pusaka yang telah menjaga nyawa manusia didalam tubuhnya.

Di puncak Arjuno, diujung Anjasmoro atau bahkan langkah kakiku menapak Welirang, yang terdengar hanya gagahmu yang berdiri menjulang. Adakah kau ingat padaku? Lelaki sinting yang terserang vertigo, diatas dua roda yang berjalan oleng, ketika hendak mencicipi sejuknya air didanaumu itu.

Kembali terdengar kisah lama nan usang. Tentang seseorang yang selalu berusaha menarik simpati diatas derita rakyat yang dipimpinnya. Sebagaimana kisah ketika Eyang Merapi sedikit tersengal dalam batuknya ketika menghirup nafas tuanya. Kisah seorang pandir diatas jutaan manusia bodoh yang dipimpinnya. Orang bebal yang lebih suka mencari simpati daripada bekerja memimpin rakyatnya. Orang dungu yang terpilih sebagai pemimpin atas simpati yang ia alami.

Beri komentar