Krakatoa (Berguru pada Giri bagian 1)

Monday, 26 November 2007

Ke barat pandang menatap. Putramu nampaknya mewarisi segala bakatmu yang melegenda. Legenda tentang ribuan nyawa menghilang terhempas satu gelombang yang pernah kau hempas disekitar Muara Angke, Merak hingga ke lepas dermaga sang ratu menyeberang jauh ke utara meniti teluk-teluk kecil disekitar Bakahueni.

Disana, di London dan New York ia bermula. Kisah tentang kabel-kabel bawah laut dibawah kakimu, yang mengabarkan pada dunia melintas Singapura, anak benua Asia hingga ke jazirah gurun pasir menuju Benua Biru. Kisah keliru tentang namamu. Kisah tentang Krakatau menjadi Krakatoa. Hingga terdengar olehku semua kisah tentang riwayatmu yang melegenda.

Legenda tentang muntahmu yang membawa kegelapan pada dunia dalam dua hari kelam. Hingga berbulan lamanya menggelayut diatas langit nusantara. Bersama Tambora ditanah Umbu Landu Paranggi, engkau menyiramkan kesuburan diatas tanah-tanah nusantara. Hingga ia tampak menguntai hijau bak zamrud menghias khatulistiwa.

Muntahmu yang masih nampak membekas sewaktu kulihat sang bagaskara membuka pintu rumahnya dan ketika ia berjalan pulang menuju peraduannya. Atau seperti yang dituturkan oleh debu-debu halus yang terperangkap membeku didalam es dikedua belah kutub. Atau terbawa kisah oleh salju-salju yang turun diatas permukaan.

Merindu hadirmu, yang membawa sejuk pada dunia. Kabulkanlah pintaku wahai engkau Krakatau. Pintalah agar putramu tersayang menghempaskan segala isinya. Menghempaskan kecamuk yang bergejolak dalam dadanya dengan segala rasa sayangnya pada duniaku.

Kabulkanlah, agar dunia yang panas ini kembali mendingin. Kabulkanlah agar Tanah Hijau kembali tertutup oleh putihnya salju. Kabulkanlah, agar dahaga anak-anak di Jaya Wijaya kembali dapat bermain-main dengan salju yang menyusut diatas Piramida Cartenz. Kabulkanlah, agar anak-anak Buenos Aires yang lama tak pernah dibelikan baju hangat, kembali dapat bercanda riang di atas salju pada saat Natal hadir dimalam bahagia mereka.

Kemana cucuran atap terbawa, ke pelimbahan jua arahnya. Kemana burung-burung terbang pulang, ke sarangnya jua ia menuju. Sebelum usia menutup mataku, kuingin menyaksikan sendiri keagunganmu yang perkasa.

Beri komentar