Miskinnya negara ini
Hari jumat kemarin, tanggal 16 Nopember 2007, saya berbincang dengan seorang wisatawan mancanegara, asal Belgia, namun tinggal di Belanda, tepatnya di kota tempat kesebelasan FC Twente bermarkas. Topik pembicaraan awalnya menyangkut seputar sepakbola Belanda. Lambat laun mengarah pada kehidupan di Belanda. Dari informasi yang saya baca di koran sebelumnya, saya mengetahui bahwa tingkat kemakmuran masyarakat Belanda memang termasuk tinggi untuk ukuran Eropa.
Harga 1 liter air mineral kemasan disana sekitar 13.000 rupiah. Ya untuk penduduk Indonesia mungkin itu sangat mahal karena disini harganya hanya sekitar 3.000-5.000 rupiah per 1.5 liternya. Kecuali di Papua, sebab menurut informasi dari salah seorang teman saya yang bekerja di Wamena, harga air mineral kemasan gelas disana sangat mahal, yakni 3.000 rupiah! Bagi penduduk Belanda, harga 13.000 rupiah untuk 1 liter air mineral kemasan tersebut tergolong murah.
Wisatawan tadi pun mengatakan hal yang sama. “Tingkat kemakmuran penduduk di negara kami memang sangat tinggi. Di satu sisi hal tersebut sangatlah membanggakan. Namun di sisi lain, hal itu menyebabkan biaya hidup disana menjadi mahal. Mungkin tingkat kemakmuran penduduk Indonesia masih rendah, namun imbasnya biaya hidup disini pun amatlah murah.” : katanya.
Sangat miris sekali, ketika penekanan intonasi terhadap kalimat “masyarakat Belanda termasuk tinggi untuk ukuran Eropa”, dan diucapkan berulangkali. Karena sebelum era penjelajahan samudera dimulai, Belanda termasuk kerajaan miskin di Eropa. Setelah kurang lebih 350 abad mengeruk hasil bumi Indonesia melalui cengkeraman kolonial mereka, kini kerajaan tersebut menjadi kerajaan yang kaya raya. Belum lagi ditambah hasil dari piutang kerajaan tersebut pada Indonesia sebagai akibat Konferensi Meja Bundar.
Negeri kita sangat miskin. Sudah dijajah selama 350 tahun. Setelah merdeka kita dituntut melunasi hutang pada si penjajah atas berbagai bangunan dan instalasi yang mereka bangun selama masa penjajahan. Mungkin kewajiban melunasi hutang ini merupakan salah satu hal yang membuat negeri kita hampir bangkrut dua kali.
Bayangkan saja, di tahun 1920-an, dengan uang 2,5 f (gulden) saja Bung Hatta bisa bervakansi selama sebulan di Paris, sudah termasuk biaya perjalanan, sewa hotel dan uang makan. Padahal uang 2,5 f pada waktu itu di Indonesia, hanya cukup untuk membeli 1 liter beras saja. Pada waktu itu, orang-orang Eropa sering menganggap bahwa penduduk Indonesia banyak yang kaya raya. Meskipun dalam keadaan dijajah, tingkat biaya hidup di Indonesia di masa itu sangatlah mahal. Harap dimaklumi, pada waktu itu Belanda termasuk salah satu negara yang tidak mengalami terhindar dari krisis finansial yang melanda Eropa.
Semua hal tersebut kini hanya tinggal romantisme sejarah masa silam. Memang Belanda beberapakali memberikan bantuan dana cuma-cuma pada negara ini, namun tentu saja bantuan dana tersebut tidak seimbang dengan hasil yang mereka peroleh selama 350 tahun menjajah negeri ini. Satu hal lain yang lebih menyakitkan adalah sampai saat ini Belanda selalu berusaha memungkiri kenyataan bahwa mereka pernah menjajah Indonesia.
Beri komentar