Ode untuk si dungu

Thursday, 8 November 2007

Di Merapi ia bernyanyi. Padu padan suara beriring dawai terpetik. Dalam sayu, mata menatap mengais simpati. Telinga tertutup oleh tuli, mengusir suara menjerit tangis yang tak berhenti. Seolah derita tak pernah terjadi. Terbujuklah sudah oleh tipu daya menghasut. Tetap larut dalam nada, menunggu datang pagi ceria.

Datanglah ia bersama burung besi mengangkasa. Terbang berputar dalam liukan jumawa. Menatap layar derita terbentang menghampar di atas tanah mendidih menggelegak. Dibawah, ribuan mata menatap rindu. Berharap temu mampu mengunyah semua derita.

Tiba-tiba ia berbelok berbalik pergi. Tinggalkan rindu diatas senyum terkembang cerah. Cukuplah sudah setiap bulan menghimbau Bakrie, tanpa perlu kehilangan semua dana manakala datang saat berkampanye.

Ribuan mata, menjadi beringas mulut memaki. Tak kabul sudah harapan membasuh rindu derita diatas ciuman tangan si dungu. Bersama hujat, doa terucap meratap. Semoga Bakrie menjadu abu.

Datanglah lagi ia dibawah Kelud yang cemberut membawa kalut. Seolah kawah tiada akan meluap sejurus masa datang sang dungu. Untunglah Kelud tiada bersimpati pada si dungu.
Entah kapan semua ini segera berlalu. Tak cukuplah derita hilang bagi bangsa dengan simpati.

Beri komentar