Pulang Kampung
Tak terhalang lagi rasa rinduku atas dirimu meluap, membanjir diseluruh darahku. Sekian lama sudah, tetap tak bersarang diatas tanahmu. Hampir sewindu lamanya pijak melangkah di negeri kembara. Melanglang diatas bumi yang terpisah oleh lautan. Meraih satu harapan diatas buku-buku bertumpuk mengundang kantuk untuk dibaca.
Rinduku padamu tertuang dalam aluan syair semilir sang angin. Menancap diatas laut dan ombakmu yang tak henti memacu. Mengapung di relung-relung dedahananmu menghijau. Tertanam pada segar airmu yang mengusir semua dahaga. Tergambar disudut-sudut bibir yang tersenyum ramah menyambutku.
Tak lagi batas yang merintangiku ketika hendak bermandikan asin lautmu, bergulung diatas ombak-ombak yang datang menderu. Tak lagi ada lagi sekat yang menghalangiku untuk mengejar ikan-ikan disamuderamu dengan sebatang panah tombak meruncing. Kenikmatan yang tersaji di atas jerang ikan yang lama sudah tak terjumpai.
Sepanjang alur langkah tertapak menyusuri jalanmu, harum sebatang dupa terus semerbak menghias bunga-bunga di atas janur yang terangkai. Sudah lama hal ini tak kutemui.
Beri komentar