Sedikit Lagi
Apakah kita tidak pernah belajar untuk menepati sesuatu? Apakah mengarahkan satu kucuran terasa sulit dilakukan tinimbang memilih satu diantara dua rasa? Apakah semua orang, cacat tak berdaya hingga tak mampu lakukannya? Apakah semua mata buta, sementara lubang menganga lebar didepan mata?
Mengapa selalu menumpahkannya pada tembok-tembok yang meratap sedih karenanya? Mengapa selalu bersandar pada pohon-pohon yang berdiri tanpa salah ditepi jalan? Mengapa selalu bersembunyi dibalik samar bak pengecut, sementara ia bertebaran disekitar kita? Adakah roda-roda bersalah hingga ia menerima siksaan ini?
Terkadang hanya satu siraman kecil lagi, semua itu akan berlalu sirna. Ia takkan lagi mengganggukan ulahnya pada manusia. Ia akan berhenti mencoba menusuk-nusuk senjatanya didepan hidung kita. Tak perlu lagi tangkisan tangan terarah atau kernyit wajah benci terpasang. Tak ada jijik yang terpasang lagi pada wajah munafik seolah tak pernah lakukannya.
Semoga pesing tak lagi mengendus baunya diwajah.
Beri komentar