Soputan (Berguru pada Giri 3)
Entahlah, baru beberapa kali aku mendengar namamu sewaktu aku menghadap utara. Mungkin pernah kita berjumpa selintas sewaktu Bunaken memandikanku dalam siraman indah taman lautnya. Ataukah ketika kendara membawaku menapak trans Celebes dari Palu menuju Gorontalo hingga jauh dimana Ratulangi bersemayam dalam istirahat panjangnya. Entahlah, terlupa aku akan hadirmu disana. Mungkin karena Nasi Jaha telah mendongengkan cerita pada cacing dalam perutku yang kekenyangan.
Mungkinkah beberapa kali ayunan gempa yang mengguncang pijakan langkahku, karena dirimu ingin memperkenalkan diri padaku. Maaf bila aku tak merasakan hadirmu disana.
Harusnya kusadari hadirmu ketika pucuk-pucuk hijau dedaunan yang menghampar diatas belantaramu mengusap lembut wajahku dengan semilir anginnya. Tak mungkinlah hijau alam terawat disana tanpa ada dirimu. Harusnya kusadari hadirmu ketika berusaha menenangkan tanah yang bergejolak karena magma yang membakar.
Tak pernah ada yang menghargai usahamu merawat taman-taman penjaga hayat makhluk-makhluk disekitarmu. Mereka mencacimu ketika kau menebarkan benih-benih kesuburan sewaktu pepohonan meronta berteriak meminta jatah makannya padamu. Mereka memakimu dalam sumpah serapah dari mulut-mulut kotor manusia yang tak pernah mengindahkanmu. Berdoa agar kuasa Yang Esa segera memindahkanmu ketempat dimana tak satupun mau hidup disana.
Dalam tulus, hatiku hanya bisa memohon dibawah dulimu. Kumohon, tetaplah tegar berdiri disana. Kuatkan hatimu. Tutup telinga, jangan dengarkan semua itu. Jagalah selalu alam disana. Agar setiap kali aku merindu pada laut Bunaken dan semilir anginnya, aku masih bisa bertemu denganmu hai Soputan kekasihku.
Beri komentar