Dibayar untuk Mengritisi *
Di Surabaya, beberapa teman biasanya membayar saya untuk mengritisi diri mereka dan apa yang telah mereka lakukan. Pekerjaan mereka, gaya bicara mereka, cara mereka bersosialisasi dan lain sebagainya. Bayarannya pun bermacam-macam, ada yang membayar dengan persahabatan sejati, ada yang mentraktir makanan, ada yang menawarkan beberapa pekerjaan dan lain sebagainya. Satu hal terpenting dari apa yang mereka bayarkan adalah mereka menaruh kepercayan pada saya, bahwa apa yang saya lakukan bukan untuk menghina, memperolok atau menjebak mereka, tapi untuk menunjukkan beberapa sisi yang mungkin selama ini tidak mereka perhatikan dalam hidup mereka.
Pada dasarnya saya tidak suka memperhatikan orang lain, penampilan mereka, tingkah laku dan lain-lain. Saya termasuk orang yang acuh tak acuh terhadap beberapa manusia yang ada di sekitar saya. Saya tidak akan mengritisi mereka jika mereka tidak meminta, karena budaya seperti itu masih tabu di masyarakat kita. Tapi bergunjing dibelakang malah merupakan budaya yang dilestarikan.
Untuk urusan pertemanan, satu hal yang kita perlukan adalah kepercayaan. Dari kepercayaan ini, beberapa teman kita mungkin akan, baik sengaja maupun secara tidak sengaja, akan membukakan jalan kita menuju kesuksesan. Ini saya pelajari dari bapak saya, seorang sopir truk yang tidak tamat SMP, tapi bisa memiliki sebuah truk dan mobil pick-up sendiri dan mampu menyekolahkan 3 orang anaknya hingga ke perguruan tinggi. Semua hanya berasal dari kepercayaan seorang teman. Beberapa orang di desa saya juga bisa hidup mapan hanya karena kepercayaan seorang teman. Yang membedakannya dengan bapak saya, teman bapak saya itu seorang pengusaha dedak asal lombok dan seorang peternak ayam dari desa tetangga. Sedangkan mereka bisa sukses karena ada orang asing yang memercayai mereka untuk mengelola aset orang asing tersebut dalam bentuk bangunan hotel dan villa.
Orang dungu, angkuh dan sombong selalu marah bila dikritik. Kedewasaan bukan ditunjukkan dari umur, tapi bisa diukur dari sikap mereka untuk menerima sebuah kritik salah satunya. Kalau ada orang yang lebih tua yang marah atau sebaliknya malah menganggap kita marah-marah terhadap mereka, gara-gara kita kritisi, itu menunjukkan bahwa kedewasaan mereka masih tertanam dalam sebuah pot tanaman bonsai. Terlebih lagi jika menganggap kita memfitnahnya. Pak Edy, apakah anda termasuk salah satu orang semacam ini? Satu hal bung, ingatlah untuk berselancar didunia maya kita membutuhkan biaya. Dan saya membayar ketika mengkritisi anda, yakni dengan memberikan tautan ke blog milik anda, termasuk pada Bu Jeny.
Saya dan Ken Reidy mungkin termasuk memiliki kata-kata “tajam” dan “pedas” ketika berbicara. Itu semua hanya gara-gara kefasihan kami menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi. Saya mungkin tidak terima jika kawan saya itu dibilang melakukan fitnah terhadap Asian Brain Marketing. Dan sayangnya seorang yang mengaku marketer yang menuduhkan hal ini.
Saya tidak tahu apakah Bu Anne Ahira akan menuduhkan hal yang sama pada kami. Satu hal yang pasti, mungkin lebih baik Pak Edy memperdalam lagi ilmu pemasarannya yang hanya seujung kuku itu. Pada kenyataannya kami sering menemukan pop-up window dan email sampah yang meresahkan, sejak satu setengah tahun yang lalu dari pemasar Asian Brain Marketing. Dan ketika kritik ini kami sampaikan ke sebuah perusahaan semacam Asian Brain Marketing, harusnya mereka bersyukur. Karena kompetitor mereka tidak akan melakukan hal ini. Akan terlihat sangat jelas sedangkal apa otak yang ada dibelakang meja perusahaan ini ketika menganggap kawan saya ini memfitnah.
Baiklah saya tidak akan mengritisi Asian Brain Marketing lagi. Saya akan mengajak kawan saya Ken Reidy untuk melakukan hal yang sama. Silahkan bayar kami jika hendak meminta kami mengritisi Asian Brain Marketing lagi. Sebelum anda ingin membayar kami, saya minta pihak Asian Brain Marketing meminta maaf terlebih dahulu secara terbuka pada kawan saya Ken Reidy, atas tuduhan fitnah yang disampaikan oleh pemasarnya.
Notabene :
* Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia karangan JS Badudu, setiap kata yang diawali huruf konsonan “K”, yang diberi awalan “Me”, maka huruf “K” yang ada diawal mengalami peluruhan. Jadi bentuk “MENGRITISI” adalah benar, sedangkan “MENGKRITISI” adalah salah.
Contoh :
Me + Kirim = MENGIRIM
Me + Kilat = MENGILAT
Me + Kawin + I = MENGAWINI
Me + Kacau + Kan = Mengacaukan
December 29th, 2007 at 12:40 am
Waduh… saya difitnah apa toh? Malah belum tahu ini….
Maklum bos, lagi jarang konek internet. Sibuk bantuin kakak…. akhir tahun malah ga bisa santai niyy… persiapan menyambut tahun 2008….
January 2nd, 2008 at 4:07 am
Kini, saya betul-betul dibayar untuk mengkritisi. Hanya saja, untuk langkah pertama ini, saya dibayar dengan paket hosting singapore 250 MB oleh IDWebSpace untuk mereview paket hosting milik mereka.
January 4th, 2008 at 2:40 pm
Waduh, kok bisa ya….

Bagaimanakah caranya, ajari donk
January 8th, 2008 at 11:08 am
Mas, saya tidak marah ketika anda mengkritik saya dan Jennie, saya hanya mencoba memberi penjelasan kenapa hal yang membuat anda kecewa itu terjadi. Kalau tanggapan saya terkesan marah bagi anda, maafkan saya, saya tidak ada niat untuk marah-marah sama Anda dan mas Ken. Karena saya tidak marah, maka saya tidak termasuk sebagai orang dungu, angkuh dan sombong. Semoga.
Saya mengatakan mas Ken memfitnah karena sepanjang yang saya tahu, apa yang dia tuduhkan sebagai black SEO tidak pernah diajarkan di AB.
Penggunaan kata yang “tajam” dan “pedas” tidak serta merta menunjukkan kefasihan berbahasa Indonesia mas, kata-kata yang “lembut” dan “manis” juga bisa menunjukkan kefasihan berbahasa.
Tetapi anda benar mas, pengetahuan marketing saya memang masih seujung kuku, itulah sebabnya saya berusaha terus belajar. Terimakasih atas saran Anda.