Gadis Payung Fantasi
Tiada sengaja aku menatapmu ketika kau tawarkan keteduhan dibalik payung itu, untuk memgusir basah dari gerimis hujan yang mengguyur di Nusa Dua. Hari pertama mengenalmu berlalu begitu saja tanpa ada tanda satupun jerat benang-benang perangkap terpasang mengancam didepan. Semua berlalu seiring hujan yang gerimis merintik hingga larut matahari terbenam bersama malam yang datang menjelang. Bahkan saat makan bersama pun aku tidak berniat untuk menatapmu lagi.
Siang tatkala kulihat engkau terduduk sendiri memandangi layar yang tak pernah terhenti berhenti brgerak dalam kecepatan warna. Entahlah sepintas samar-samar wajah yang pernah membekas dalam di ingatan kembali membayang diparasmu. Ah, lagi-lagi ia hadir menggoda bilik-bilik rindu di hati.
Masih kunikmati hadirmu diatas tubuh menjulang begitu anggun dalam kehangatan. Tanpa sadar akan perangkap yang menjeratkan belitannya semakin erat dalam setiap pesonamu. Menatapmu. Berbincang denganmu. Berbagi canda tawa denganmu. Sesekali melihatmu mengikat rambut. Melihatmu memasang tampang mengejek setiap kutatap atau mendengarmu memanggilku, ah belitan itu terasa semakin erat mengencang.
Sejenak tersadar, aku tak ingin lagi meraih pesonamu dalam setiap mimpi yang hadir dalam lamunanku. Biarlah disini aku tetap bercengkerama dalam sepi bercumbu bayanganmu yang tak terlepas dari ingatan. Dan semoga semua kerinduan ini selamanya tetap menjadi kerinduan diatas mimpi yang termimpi.