Lelaki Pengecut
Hari ini mungkin akan menjadi hari tersial dalam hidupku. Di hari kelahiranku ini, aku ingin mengajak pergi untuk merayakannya hanya berdua. Ingin memintamu untuk pergi bersamaku menikmati indah alam Pulau Dewata dimalam hari. Ingin mengajakmu berkencan denganku. Jujur, aku tidak berani untuk mengutarakannya.
Entah kurasa bayangmu biarlah tetap hadir dalam indah mimpi-mimpiku saja. Tanpa maksud aku menganggapmu tak sempurna, karena semua wanita tercipta untuk menjadi sempurna dibalik semua kekurangannya. Tuhan menitipkan kesempurnaan lelaki dibalik tulang rusuknya. Tapi ada kenyataan-kenyataan yang masih terkecap pahit dilidah. Ada realitas tentang sesuatu yang entah membuat kesempurnaanmu bak mimpi tak teraih.
Dua hari lagi kau akan kembali pulang ke kotamu. Dan aku masih disini terdiam dalam kepengecutan yang bersembunyi dibalik semua keangkuhan dan kesombongan laki-laki. Berlindung dibalik relung-relung kebekuan hati yang mendingin. Diatas klise berkilah bahwa cinta tak harus saling memiliki. Mungkin aku tidak ingin menyatakan cinta padamu, tapi aku hanya ingin bersamamu saat ini, hingga nanti kau tak ada disini lagi.
Ingin menikmati sisa waktu yang akan segera kau habiskan disini, entah itu berkayuh bersama diatas sepeda melintasi pedestrian Nusa Dua atau berbincang sesuatu yang tiada habis dibahas. Entahlah aku tak yakin akan melakukan semua itu. Sementara niat terus menggebu dibalik kepengecutanku untuk mengajakmu pergi berkencan. Mungkin hari ini aku tidak akan berbicara lagi denganmu. Maaf, aku hanya tidak ingin terbelit dalam semu bayang angan yang tak pernah akan teraih. Hanya tidak yakin apakah nanti aku mampu mewujudkan pesona kesunyataanmu diatas realita mahligai tersusun. Kuharap engkau memaafkanku.