Sarekat Islam dan Organisasi Kebangkitan Nasional [1]

Saturday, 29 December 2007

Sejarah adalah sebuah jejak rekaman peristiwa yang bercerita pada kita tentang apa yang terjadi di suatu masa lalu. Sejarah merupakan dialog antara manusia dengan manusia tentang masa lampau dan masa sekarang. Tanpa adanya dialog ini paradigma sejarah menjadi menyempit hanya terpasung pada kejadian-kejadian tertentu di waktu tertentu oleh orang-orang tertentu pula.Dan pemasungan ini bukanlah sesuatu kehendak yang alami datangnya, tapi karena adanya sesuatu kepentingan yang berlindung dibaliknya. Sehingga munculah adagium yang menyatakan bahwa sejarah adalah cerita tentang para pemenang.

Sungguh teramat susah untuk membantah suatu sejarah, terlepas dari benar atau tidaknya fakta yang diceritakan didalamnya. Karena untuk melakukan hal tersebut kita harus memisahkan benang kusut dongeng yang membumbuinya untuk membuktikan kebenaran empirisnya.

Hal terpenting dalam membincang sejarah adalah bagaimana upaya kita untuk melepaskan semua ego tentang pengkultusan individu. Sehingga perspektif kita dalam membahasnya akan menjadi lebih lebar dan terangkai sebagai bingkai faktual.

Tulisan ini saya ajukan untuk menjawab sebuah komentar milik kawan Badrus Taman Gafar, tentang Sarekat Islam dan ketokohan HOS Cokroaminoto didalamnya. Namun sebelumnya, saya harus meminta maaf, karena tulisan ini saya bagi menjadi 2 karena terlalu panjang.

Dari beberapa buku yang saya baca, memang banyak yang menyebut tokoh yang rumahnya ada disebelah Toko Buku Uranus Surabaya, sebagai Raja Jawa Tanpa Mahkota.* Nama HOS Cokroaminoto memang tidak bisa dilepaskan dari Sarekat Islam yang pernah ia pimpin.

Terkait dengan pernyataan kawan Badrus, tentang Sarekat Islam sebagai organisasi kebangkitan yang pertama di Indonesia, saya tergelitik untuk menanggapinya. Bukan sebuah percobaan untuk pelurusan fakta karena saya sendiri bukan seorang sejarawan, ataupun sebuah bantahan karena saya sendiri tidak mengetahui secara pasti perspektif yang digunakan kawan Badrus untuk menyatakan hal ini. Walaupun dalam hati saya menganggap ini sebagai pernyataan bodoh dan sedikit fanatik. Dan untung saja otak saya sedang fokus pada kepentingan lain, bila tidak mungkin secara emosional saya sudah meminta kawan Badrus untuk segera berhenti membual.

Tapi coba kita lupakan itu sejenak, dan membuka ruang pikiran kita untuk sebuah terawang tentang pemahaman sebuah Organisasi Kebangkitan Nasional.

Sejarah berdirinya Sarekat Islam merupakan muara aspirasi dari kaum pedagang yang beragama Islam yang antipati terhadap pemerintah Hindia Belanda. Apakah kegelisahan ini disebabkan oleh sikap antikolonialisme mereka ataukah mungkin lebih merupakan cerminan kecemburuan atas perlakuan pemerintah Hindia Belanda yang dirasa kurang adil pada waktu terhadap pedagang Islam, tidak banyak informasi mengenai hal ini.

Kelahiran Sarekat Islam memang turut dibidani oleh HOS Cokroamito, namun kita tidak boleh juga melupakan jasa pedagang-pedagang Muslim asal Sumatera, Jawa dan mungkin Madura lainnya. Sekali lagi kita harus menyingkirkan kultus pribadi disini.

Untuk kawan Badrus, dan mungkin para kompatriot yang sealiran dengan perspektif pandangnya, saya ingin sedikit memahami alur pemikiran anda. Untuk itu, mana dua diantara pernyataan berikut yang benar :

  1. Ide pendirian Sarekat Islam berasal dari HOS Cokroaminoto dan kemudian ia bicarakan dengan kawannya sesama pedagang Muslim; atau
  2. Ide pendirian Sarekat Islam berasal dari pedagang Muslim yang pada saat itu berkumpul di rumah HOS Cokroaminoto;

Pertanyaan yang kedua, pernahkah Haji Agus Salim memimpin Sarekat Islam sebagai ketua? Jika benar, ia melakukannya sebelum atau sesudah HOS Cokroaminoto diangkat sebagai pemimpin Sarekat Islam?

Bersa

Notabene :
* Konon rumah ini merupakan hadiah dari Bung Karno. Rumah HOS Cokroaminoto yang sebenarnya, tempat Soekarno pernah indekos didalamnya, berada di daerah Makam Peneleh. Saya pernah mencoba menelusurinya tapi tidak berhasil menemukannya.

Ada 1 komentar untuk “Sarekat Islam dan Organisasi Kebangkitan Nasional [1]”

  1. arief berujar:

    ngawur ni wong,

Beri komentar