Sarekat Islam dan Organisasi Kebangkitan Nasional [2]

Sunday, 30 December 2007

Sarekat Islam bisa dibilang mengambil semacam kebijakan “non-kooperatif” terhadap pemerintah Hindia Belanda, sesuai dengan tujuan awal berdirinya, yakni untuk sebisa mungkin tidak melakukan perdagangan dengan pemerintah Hindia Belanda dan antek-anteknya. Ada penekanan khusus terhadap kata perdagangan disini.

Untuk beberapa saat lama, Sarekat Islam tetap berjalan sesuai dengan relnya yakni sebagai wadah organisasi para pedagang Islam. Saya tidak tahu dengan pasti mulai kapan masuknya infiltrasi ide-ide anti-kolonialisme yang sesungguhnya, dalam hal ini semangat untuk menjadi bangsa merdeka, mulai merasuk didalam tubuh organisasinya.

Begitu pula dengan masuknya infiltrasi ide dari para anak ideologis Snevliet, seperti Semunov, Darsonov, Alminski, Muso dkk ke dalam tubuh organisasi tersebut yang menyebabkan pecahnya organisasi tersebut menjadi SI Merah dan SI Putih. *

Namun satu hal yang patut digarisbawahi disini adalah fakta bahwa Sarekat Islam didirikan untuk mewadahi serta melindungi kepentingan para pedagang Islam dikala itu. Benar atau tidak pernyataan saya ini? Lalu bagaimana dengan pernyataan yang ini :
suatu saat HOS Cokroaminoto menjadi anggota Volkskraad yang membuat ia bermusuhan dengan mantan menantunya. Benar atau salah?

Kembali pada inti permasalahan, yakni tentang predikat sebuah organisasi kebangkitan nasional. Masing-masing dari kita tentu punya kriteria tersendiri untuk melabelkan predikat tersebut. Baiklah jika beberapa dari anda menganggap Sarekat Islam sebagai organisasi kebangkitan nasional yang pertama. Terlepas dari perspektif apa yang anda pakai, tidak ada salahnya kita sedikit memfokuskan pandangan pada dua hal.

Yang pertama, patut diingat bahwa fase awal tahun 1900-an merupakan fase pergerakan nasional dalam babad sejarah Indonesia. Pergerakan nasional yang dimaksud adalah tumbuhnya kehendak untuk bersatu dalam kebersamaan untuk menentang imperialisme
yang amat menindas. Dari titik ini, coba kita pertanyakan kembali pada diri kita, patutkah sebuah organisasi dagang kita sebut sebagai organisasi nasional? Sama halnya dengan menyebut Boedi Oetomo, yang tak lebih dari kumpulan sekelompok priyayi Jawa, sebagai organisasi kebangkitan. Betul bahwa mahasiswa STOVIA, tapi lihatlah anggota yang tergabung didalamnya.

Yang kedua adalah kata “nasional” yang menyertai kata “organisasi kebangkitan”. Kata “nasional” bermakna sebagai suatu keadaan kebangsaan yang menyeluruh. Bergunjing tentang kebangsaan yang menyeluruh, saya kira kawan Badrus harus membuka celana mata dengan lebar untuk melihat fakta bahwa masyarakat Indonesia tidak hanya terdiri dari orang Islam saja. Dan sebuah organisasi yang hanya bergerak disatu kepentingan sektarian saja apakah patut untuk diberi predikat organisasi kebangkitan nasional. Sama halnya ketika bertanya, masih layakkah PAN menyandang kata Nasional dibelakangnya ketika ia mulai menjurus sebagai parpol yang bernuansa agamis yang tidak lebih merupakan representasi kaum Muhammadiyah ditataran politik praktis?

Ada yang salah dengan pemahaman konsep nasionalisme dan nation-state (negara bangsa) didalam benak anda.**

Pernyataan kawan Badrus yang lain, bahwa Sarekat Islam tidak dianggap sebagai organisasi kebangkitan yang pertama di Indonesia karena tidak terdaftar secara resmi pada Pemerintah Hindia Belanda.

Sekali lagi kita berbicara tentang metode penelitian sejarah. Dimana suatu nota atau catatan tertulis dimasa lampau bisa menjadi bukti untuk menyusun sebuah alur sejarah.

Sebuah organisasi modern, saya harus menyebut seperti ini untuk membedakannya dengan organisasi sosial masyarakat adat yang sudah sejak dulu ada di Indonesia, pastilah memiliki sekurang-kurangnya sebuah visi dan sebuah misi. Sehingga tujuan pendirian organisasi tersebut serta arah perkembangannya dapat diketahui dengan jelas.

Saya tidak mengetahui secara pasti bagaimana aturan yang berlaku pada saat itu untuk membentuk sebuah organisasi. Namun bila benar Sarekat Islam berdiri pada tahun 1906 dan tidak terdaftar di dinas pemerintahan Hindia Belanda, maka ada sedikit pertanyaan ragu yang akan muncul. Benarkah Sarekat Islam pada waktu sudah mencerminkan sebuah organisasi modern yang membedakannnya dengan organisasi tradisional masyarakat adat yang sudah ada sebelumnya? Tidakkah Sarekat Islam itu mula-mula berdiri sebagai sebuah organisasi sosial paguyuban antar pedagang Islam? Jika benar ia hanya sebuah organisasi sosial paguyuban, apa yang membuatnya layak untuk menyandang predikat sebagai organisasi kebangkitan nasional.

Notabene :
* Nama-nama ini saya ambil dari sebuah novel yang beberapa tahun yang lalu pernah laris di Indonesia dan kemudian dilarang beredar oleh rezim Orde Baru. Apa kira-kira judul novel tersebut? Jawaban benar pertama akan saya beri tautan dari blog ini.
Ditunggu hingga hingga 11 Januari 2008. Syarat dan ketentuan berlaku :).

** Saya akan menulis artikel tentang konsep nasionalisme dan nation-state bila ada waktu.

Ada 12 komentar untuk “Sarekat Islam dan Organisasi Kebangkitan Nasional [2]”

  1. eka berujar:

    mampir cuma mo ngucapin met tahun baru 2008…
    sukses selalu buat bli meonx.com :lol:

  2. Badrut Tamam Gaffas berujar:

    Terimakasih atas kegelisahannya…

    Pernyataan tentang SI sebagai Organisasi Pergerakan Kebangsaan pertama menurut anda memang “fanatik” sebagaimana komentar anda yang juga dilandasi oleh semangat “fanatik” juga, jadi meski banyak fakta yang akan sesungguhnya bisa saya ungkapkan rasanya tak penting lagi…lagian toh anda bukan orang yang mencari kebenaran melainkan sengaja mencari pertentangan dengan mengatakan saya “membual dan tidak perlu ditanggapi” (siapa juga yang butuh tanggapan anda :roll: ???)
    Menurut saya anda termasuk kelompok orang - orang yang tak rela dengan pergerakan Islam dan gerakan islam politik dan terlalu “angkuh” untuk mengakui fakta tentang SI termasuk bahwa awalnya pancasila itu berasal dari Piagam Jakarta yang didalamya terdapat “tujuh kata” yang ditanggalkan lantaran mengedepankan persatuan bangsa.

    Perlu anda ketahui bahwa sudah banyak fakta yang mengungkap argumentasi Boedi Oetomo itu gerakan kebangsaan itu lemah…tapi bukankah berdiri atas fakta yang lemah itu lebih menguntungkan bagi anda dan orang - orang yang mencari kebenaran semu ??? (Jujur dong pada hati nurani anda:razz: )

    Saya juga bukan sejarawan seperti kata anda jadi tak usalah diperpanjang, anda juga bukan sejarawan tapi pandai menulis hingga berkali - kali posting dalam beberapa bagian hanya sekedar menjawab ini (Luar Biasa…saya salut atas anda :lol: ) Jadi apa anda merasa diri anda sejarawan yang bisa memutuskan benar tidaknya catatan sebuah sejarah yang terekam dengan beragam versi yang salah satunya telah saya katakan ?!?! (betapa naifnya anda)

    Semoga anda bertambah yakin atas kebenaran anda sendiri…selamat

  3. adhe_5381 berujar:

    saya ngga memuji… Mas, halooo
    masih ingatkah dengan saya…

  4. eka berujar:

    Wah, sekarang udah pake wajah baru nie bli?

  5. meonx berujar:

    :arrow: Untuk Badut Taman Gaffas
    Piagam Jakarta :?: Masihkah ini anda perjuangkan :?:
    Saya tahu tentang keberadaan Piagam Jakarta. Saya juga tahu bahwa Mr. Ketut Pudja dan Dr. Leimena dkk yang “memperjuangkan” agar tujuh kata terakhir sila pertama Piagam Jakarta dihapus. Saya juga tahu Hatta dan Wahid Hasyim [Ayahnya Abdurrahman Wahid] adalah dua orang yang mendukung ide penghapusan tersebut. Dan saya masih menyimpan buku tentang Piagam Jakarta ini dalam koleksi saya.

    FANATIK :?:
    Saya fanatik terhadap Republik yang berbentuk Kesatuan ini. Saya fanatik terhadap pluralitas.
    Setidaknya di Republik ini saya bukan merupakan salah satu simpatisan partai sektarian agama. Bahkan tidak berniat untuk ikut ambil bagian dalam rencana pembentukan partai Hindu nasional, walau sudah diundang berkali-kali ikut dalam tim perumusannya.
    Dan walau saya seorang Machiavellist, setidaknya saya tidak berusaha menjual agama saya sebagai komoditas politk.

    :arrow: Untuk Adhe
    Maaf saya baru saja terkena amnesia. :mrgreen:
    Kalau mau mengingatkan teman, kenapa tidak diberi tautan ya? :lol:

  6. Badrut Tamam Gaffas berujar:

    Klop sudah ini memang blognya orang sinting dan iseng !!! benar kan. :roll: ..anda sendiri yang bilang bukan saya …ha…ha..ha

  7. adhe berujar:

    usulan diterima mas…
    bereszzz……… :mrgreen: :mrgreen:

  8. Trunodongso berujar:

    Mengapa orang-orang Sinting malah bertengkar tentang organisasi pelopor dan nasionalisme? Bukankah yang kita cari kewarasan semata agar tidak saling ejek yang dipicu oleh prasangka-prasangka primitif? Ya prasangka primitif yang mampu membuat manusia modern merasa sangat beradab ketika semua ukuran kebenaran hanya membludak di balik tengkoraknya semata. Peduli apa orang Sinting dengan semua atribut, bahkan agama sekalipun apalagi sekedar suku, kalau yang perlu dipelototi (atau malah dimeremi atau dipicingi) justeru motif inti yang mampu membuat semua anak bangsa ini tersenyum riang bersama sebagai Hindu, Budha, Islam, Kristen atau Nasakom saja silahkan. Boedi Oetomo, Sarekat Islam, IP, ISDV, Insulinde atau apalah namanya ketika itu, adakah mereka satu jiwa, satu motif yang membakar semangat, menggelegakkan harapan, mengoyak kejumudan bahwa: hidup ternyata harus merdeka. Itu saja. Dan kalian orang-orang sinting, atau aku yang jadi linglung, sudahkah kita merdeka sebagai manusia dan anak bangsa?! Mengapa diam melongo saja? Begitu pentingkah kebenaran tafsir historis itu menurut anda jika ternyata malah membelenggu kemerdekaan intelektual anda. Dasar sinting! Tancapkan tolak ukur bersama, hanya sekedar thermometer ilmiah yang bisa mengukur ketepatan derajat perspektif anda agar tidak mandeg dalam perbantahan mana yang lebih panas. Masih belum waras?! Begitu saja kok sinting. :grin:

  9. fadh ahmad berujar:

    Sarekat islam memang adalah pelopor sebenarnya kebangkitan nasional, buktinya tidak bawa-bawa nama/misi anti agama seperti budi utomo atau kesukuan seperti jong java!. Sebenarnya kebenaran bahwa islam adalah spirit kebangkitan nasional sering kali ditutup-tutupi oleh penguasa sekuler-atheis di zaman orde lama dan orde baru. ya kalau gak tau sejarah silakan berguru kepada saya!

  10. Rivalri berujar:

    Biarin saja orang-orang Nasionalis tidak mengakui SI sebagai Organisasi pelopor kebangkitan Nasional. SI dibentuk memang bukan hanya untuk tujuan-tujuan nasional yang sempit tetapi lebih dari itu. SI didirikan untuk medirikan Daulah Islamiah di Indonesia.
    SI lebih tepat disebut sebagai organisasi kebangkitan Islam. Bangsa ini sangat berutang padanya. Indonesia tidak akan bisa merdeka tanpa benih-benih perlawanan dari SI. Sedangkan Organisasi Budi Utomo cuma pengekor saja.Tapi dasar orang nasionalis sekuler !! selalu tidak mau kalah walau fakta bicara.

  11. ATHA berujar:

    Gunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
    Aq setuju dg fadh ahmad……nasionalisme tidak akan membawa kebangkitan yang ada hanya kehancuran…buktinya nyata!Kebangkitan yang sejati hanya dr ideologi ISLAM n Daulah islamiah adalah penjaganya…

  12. Jegong berujar:

    beli,kalo beli bilang kata ‘nasional’ harus ada di organisasi kebangkitan nasional kok kliatannya maksa banget.Boedi oetomo tuh gak pake embel-embel nasional lho.Malah cuma menerima orang jawa dan madura saja.orang bali enggak boleh masuk.Boemi Poetra pimpinan tjipto mangunkusumo juga gak ada embel-embel nasionalnya lho beli.Jong java apalagi.bahkan waktu itu budi utomo malah terbentuk karena sentimen suku.merasa iri dengan orang manado yang gajinya lebih tinggi daripada orang jawa.(cek di wikipedia).see,BU sebenarnya dilatari semangat iri hati terhadap bangsa sendiri (orang manado).
    Kenapa Sarekat dagang Islam memakai label islam karena pada waktu itu hanya islamlah yang bisa dijadikan sebagai identitas milik rakyat indonesia.karena semua identitas sudah diambil sama belanda.Jujur saja,waktu itu islamlah yang mengambil jarak dengan belanda.kalo toh mau diembel-embeli ‘jawa’ orang jawa banyak yang jadi kakitangan belanda atau diembel-embeli ‘ambon’ ini sudah terlanjur identik dengan KNIEL yang terkenal sebagai laskarnya belanda.jadi islamlah yang diambil karena memang saat itu islam bisa menyatukan semangat kebangsaan dengan tokoh-tokohnya yang berasal dari seluruh negeri.ada H.Samanhudi dari solo.Tjokroaminoto dari Jatim,K.H. Agus Salim dari Sumbar dan AM Sangaji dari maluku/ambon.

    Kalo ditanya knapa pemerintah hindia belanda tidak mencatat organisasi ini.karena memang SI memilih konfrontasi dengan penjajah belanda lain dengan BU yang memang dekat dengan belanda.kalau baca di wiki pun sebenarnya Belanda akhirnya mencatat SI sebagai badan hukum pada tahun 1912.

    Seorang pramudya ananta toer pun mengakui keberanian SI melawan belanda daripada BU.

Beri komentar