Akhirnya Datang Juga [Akhirnya Mati Juga]

Monday, 28 January 2008

Pengadilan Terakhir Bagi SoehartoSetelah sekian hari mengisi lembaran berita harian atas berita tentang sakit yang mendera ditubuh rentanya, akhirnya ia tak kuasa juga menolak datangnya malaikat untuk membawakan maut dijiwa yang fana itu. Malaikat yang sama yang menjemput kematian orang-orang yang tak ia inginkan semasa ia memerintah.

Untunglah ia sekarang sudah mati. Bila tidak, berapa banyak lagi uang negara yang harus dikeluarkan untuk menanggung sakitnya. Dan bila itu ditambahkan dengan jumlah uang negara yang ia curi dibalik jubah Bapak Pembangunan, bertambah panjang pula daftar dosa diatas tubuh rentanya.

Ia begitu dicintai, walau tak sedikit yang membenci.

Dibalik semua kemajuan, kenyamanan dan ketentraman yang pernah ia ciptakan semasa berkuasa, terdapat borok yang nantinya akan berakhir bak bola salju, manakala anak dan cucu kita harus menerima kenyataan bahwa negara yang mereka cintai menunggak hutang sekian banyak. Bahwa tanah pertiwi yang mereka hormati terancam ambruk tertimpa kebangkrutan. Dan dibalik semua itu, tersimpan lubang menganga tentang perilaku menyimpang sanak dan kroninya yang bergelimang mewah, menari diatas derita kemiskinan rakyat negeri ini.

Selamat jalan, pak. Semoga akhirat dapat memberimu keadilan yang terindukan diatas keadilan-keadilan semu yang pernah ia ciptakan diatas kepastian hukum yang ia nistakan.

Terselip tanya dihati, kenapa bangkaimu harus disimpan oleh pertiwi? Kenapa tak berakhir seperti kolega Tagalog-mu? 1 Diawetkan dan diabadikan dalam kotak kaca untuk dipajang dan dipertontonkan pada khalayak ramai sehinggadikemudian hari anak-cucu kita dapat mengenang semua keburukanmu dan berjanji dalam hati takkan lagi mengulangi apa yang telah kau nistakan di dunia ini.

Sekarang kita hanya tinggal menunggu apakah uang negara yang pernah ia curi akan dikembalikan atau tidak? Ataukah sandiwara tentang pengadilan cepat akan berakhir seperti dagelan politik yang biasa terjadi di republik ini.


Notabene :
1 Sekitar tahun 1996-an, Mendagri kala itu, Syarwan Hamid pernah menuduh Gus Dur dan Megawati seolah-olah hendak meniru tiga serangkai dari Filipina yang berperan besar dalam aksi “People Power” menjatuhkan rezim yang berkuasa saat itu. Gus Dur berperan seperti Kardinal Sin serta Megawati sebagai Corazon Aquino. Namun menurut Syarwan, hal tersebut tidak akan terjadi karena tidak ada tokoh yang berperan sebagai Fidel Ramos. Nama Amien Rais sempat dimunculkan sebagai figur Fidel Ramos.
Mendengar hal ini, Gus Dur dengan enteng menjawab, jika mereka diibaratkan sebagai tiga serangkai, Kardinal Sin, Aquino dan Ramos, lalu siapa yang menjadi Ferdinand Marcos-nya?
[Diambil dari : Biografi Abdurahman Wahid yang ditulis oleh Greg Bartons]

Foto doambil dari Berpolitik.Com

Ada 4 komentar untuk “Akhirnya Datang Juga [Akhirnya Mati Juga]”

  1. eka berujar:

    wah lagi emosi nie bli?tenang bos jangan emosi dunk buat postingan…
    jadi takut baca nie…. :mrgreen:

  2. eka berujar:

    bli datang ke acara launchingnya Bali Bloger Comunity ga?
    pengen tau nie gimana seeh bli meonx di alam nyata….

  3. meonx berujar:

    :arrow: Eka
    bli datang ke acara launchingnya Bali Bloger Comunity ga :?:
    Vini, Vidi, Vici … :mrgreen:
    pengen tau nie gimana seeh bli meonx di alam nyata…
    :?:
    Cari orang gemuk dengan tampang angkuh nan sombong, sedikit cengengesan dan bergaya acuh tak acuh. Jangan lupa siapkan sebuah kertas kosong untuk ditandatangani :mrgreen:
    Dengar-dengar Baladika menjadi penari seksi [sexy dancer] disana. Kesempatan yang langka ini tidak boleh dilewatkan sama sekali. :mrgreen:

  4. marsal berujar:

    Kata mbak dukun :
    Bedanya hewan ama manusia cuma soal hitung-hitungan aja.

    Kalau manusia satu …. dua ….. tiga ……

    Kalau hewan u….. a…… a……………

Beri komentar