Robohnya Pura Kami

Thursday, 17 January 2008

Tadi malam saya mendapatkan sebuah pesan singkat dari seorang kawan yang berdomisili di Mataram, Lombok Barat. Isinya tentang informasi bahwa pada tanggal 15 Januari, pukul 23.30 wita, Pura Sangkareang yang berlokasi di Kecamatan Narmada, Lombok Barat, telah dirusak oleh sekelompok orang tak dikenal. Nampaknya peristiwa ini merupakan lanjutan dari peristiwa perusakan pura yang terjadi beberapa waktu lalu di daerah yang sama.

Terlepas dari semua itu, saya memohon pada seluruh umat Hindu yang ada di Indonesia, khususnya yang berada di Lombok Tengah, untuk menahan diri dan tidak berinisiatif melakukan tindakan balasan. Tidak ada alasan bagi kita untuk membalas semua tindakan yang kurang terpuji dengan jalan kekerasan. Tat Twam Asi dan Ahimsa, pada dua ajaran itu kita bersandar.

Patut diingat bahwa suku Sasak yang ada di pulau Lombok terkenal dengan rasa toleransi yang tinggi terhadap keberagaman agama. Masyarakat Sasak menciptakan sebuah alkulturasi penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam suatubentukkeyakinan yang disebut sebagai Watu Telu. Yakni alkulturasi antara ajaran Hindu, Islam dan kepercayaan lokal masyarakat Sasak. Manifestasinya bisa kita dalam bentuk ritual Perang Tupat, yakni sebuah acara saling melempar ketupat yang diselenggarkan di Pura Narmada.

Bangsa ini sudah lelah dengan kecamuk konflik yang diboncengi sentimen negatif agama. Hendaknyalah kita tidak ikut menambah kucuran darah yang membasahi pertiwi ini hanya karena ulah oknum yang tidak menginginkan kedamaian tercipta di bumi nusantara.

Kepada kompatriot blogger saya : Semeton Bali, Dokter IMCW, Baladika, Dharma Putra, Anton Muhajir, Brokencode, Tude Gendam, Wayan Sudane, Dewi Jember, dan kawan-kawan yang lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, mohon untuk menyebarluaskan info ini dan berdoa agar tidak terjadi aksi balas dendam atas peristiwa ini. Terimakasih.

Mengenai tradisi perang topat, silahkan anda baca disini.

Ada 4 komentar untuk “Robohnya Pura Kami”

  1. baladika berujar:

    saya SMP di lombok. dan saya tau banget rasa toleransi masyarakat disana yang tinggi. salah satunya di praya dimana banyak warga hindu yang hidup rukun berdampingan dengan muslim sasak. akar dari semua kekacauan ini tidak ada sangkut pautnya dengan agama. mungkin hanya motif ekonomi atau kesenjangan sosial. karena setiap agama selalu mengajarkan kedamaian. saya sebagai seorang muslim turut prihatin yang sangat mendalam dengan robohnya pura sebagai tempat suci bagi saudara saya umat hindu . semoga penyelesaian damai menjadi alternatif yang utama.

  2. meonx berujar:

    :arrow: Baladika
    Betul, secara parsial kita harus memisahkan stigma bahwa agamalah yang menjadi latar belakang tindakan tersebut. Dibalik semua akar persoalan konflik berdarah yang berlatar belakang agama di Indonesia, tetap saja faktor kesenjangan ekonomi dan sosial menjadi teras persoalannya.
    Ayo bos, ditunggu postingnya … :mrgreen:

  3. eka berujar:

    Kenapa ya , masih aja ada di antara kita yang berusaha untuk merusak keindahan yang sudah tercipta dari kerukunan antarumat beragama….

  4. anton berujar:

    aduh, maaf bli. aku baru tahu soal tulisan ini. sedih bacanya. masih saja ada orang2 yg melakukan serangan pd orang lain yg dianggap tidak sepaham. benih fasisme ini mmg harus dilawan, meski hanya dg tulisan atau pikiran.

    semoga temen2 di lombok bisa menyelesaikan soal ini tanpa harus membawa ke persoalan agama. ya, sebab agama hampir selalu jd minyak tanah utk menyiram api konflik. wajah agama sudah kadung jd wajah kekerasan. ironis..

Beri komentar