Hari Ini Beberapa Tahun Yang Lalu
“Selamat pagi, pak!”.
“Pagi. Silahkan duduk dan, seperti biasa, ada beberapa pertanyaan yang harus saudara jawab. Bisa kita mulai?”
“Bisa pak”
“Nama saudara?”
“Putu Winarta”
Terdengar suara mesin ketik.
“Marga saudara?”
“Lie”
“Lengkapnya?”
“Lie Liang Wei, pak”
“Umur?”
“16 tahun”
“Apakah saudara mengerti mengapa anda dipanggil ke ruangan ini?”
“Mengerti pak”
“Bisa saudara jelaskan”
“Saya dipanggil kesini terkait dengan beberapa hal yang menyangkut masalah status kewarganegaraan dan nasionalisme saya”
“Baik. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa Pancasila yang menjadi dasar negara ini tidak menghendaki adanya pembeda-bedaan kelas dalam masyarakat yang bermotifkan SARA. Apakah saudara mengerti akan hal tersebut?”
“Mengerti pak”
“Dengan kata lain, Pancasila menginginkan adanya sebuah harmonisasi kehidupan masyarakat di Indonesia yang dilandasi oleh prinsip Bhineka Tunggal Ika. Apakah saudara juga mengerti tentang hal itu?”
“Mengerti pak”
“Dan oleh karenanya, Pancasila anti terhadap segala bentuk perlakuan yang sifatnya mementingkan kepentingan golongan atau kelompok masyarakat tertentu diatas kepentingan golongan atau kelompok masyarakat lainnya. Apakah saudara paham mengenai hal itu?”
“Paham pak”
“Bahwa berdasarkan hal tersebut, maka pihak kepolisian sebagai aparatur negara diberi tugas untuk menjaga agar ketertiban dan keamanan tetap berlangsung dimasyarakat. Baik, sampai disini apakah saudara paham atau ada beberapa pertanyaan yang hendak saudara ajukan?”
“Paham pak”
“Ada pertanyaan?”
“Tidak pak”
“Baik. Bila tidak akan saya lanjutkan. Seperti yang kita ketahui, kemarin merupakan perayaan tahun baru Imlek. Dan, seperti juga telah kita ketahui, para warga peranakan Cina di Indonesia merayakan hari tersebut dengan bersembahyang ke kelenteng yang ada disekitar mereka. Apakah saudara bersama anggota keluarga saudara melakukan hal yang sama?”
“Iya pak”
“Bahwa perayaan tersebut bukanlah bersifat ritual keagamaan, melainkan tradisi Kong Hu Cu yang dijalankan turun-temurun dikeluarga saudara. Apakah betul begitu?”
“Betul pak”
“Karena hal itu adalah tradisi budaya belaka, tentunya dalam hal ini saudara tidak menganggap Kong Hu Cu sebagai sebuah agama. Apakah betul begitu?”
“Betul pak”
“Perlu dijelaskan, bahwa negara Republik Indonesia tidak melarang para warga peranakan Cina untuk menjalankan tradisi tersebut. Namun, patut diketahui tradisi tersebut sifatnya asing karena tidak tumbuh dan berkembang di Indonesia melainkan berasal dari negara Cina. Dan sebagai seorang warganegara Pancasila, sudah sepatutnyalah kaum peranakan Cina di Indonesia untuk menghormati tradisi dan kebudayaan leluhur yang telah tumbuh dan berkembang sejak masa lamapu di Indonesia. Apakah saudara paham akan hal tersebut?
“Paham”
“Dan oleh karenanya, hingga saat ini saudara masih menjadi salah satu pemeluk dari kelima agama yang diakui oleh negara. Dalam hal ini, saudara mengaku beragama Hindu, apakah betul begitu?
… … … … … … … …
“Saya ulangi. Hari ini telah datang menghadap seorang anak laki-laki berusia 16 tahun, bernama Lie Liang Wei atau yang dikenal dengan nama Putu Winarta. Terlahir dari seorang warga keturunan bernama Lie Sie Say, yang berayahkan Lie Tie Djoe atu yang dikenal dengan nama I Made Teja kepada siapa ia memperoleh kewarganegaraan Indonesia pada awal mulanya.”
“Kepadanya telah ditanyakan beberapa hal yang terkait dengan masalah status kewarganegaraannya, yang ia jawab dengan sangat memuaskan … … … Sekian pertanyaan dari kami dan suadara diperbolehkan kembali ketempat saudara.”
“Terimakasih pak. Selamat siang. Oh ya, ini ada titipan dari bapak saya”
Notabene : Selamat tinggal diskriminasi Ang Pao!
February 9th, 2008 at 10:47 pm
salam kenal bli meonx…
February 10th, 2008 at 3:07 am
hi bli, mungkin bisa diulas lagi dengan gaya narasi?
menarik sekali.
February 11th, 2008 at 11:09 am
tulisannya kereeeeeeeeeeeeeeeen. asik banget. endingnya itu yg keren. narasinya dong. lalu aku colong buat balebengong. :))
sori sajan, bli. kemarin ga bs ngobrol2. pdhl pgn kenal lbh banyak nok. nah, kanggoang malu. kpn2 ketemu lg.
February 11th, 2008 at 11:47 am
kerenn……
February 11th, 2008 at 6:10 pm
masih di nuansa imlek ya…
February 11th, 2008 at 8:33 pm
Yang seperti ini seharusnya memang dipublikasikan, biar publik tahu! Makane mai ngeblog pang sing belogina!!!
February 12th, 2008 at 7:47 am
Tidak memuji bli!
Salam kenal aja dulu!
February 12th, 2008 at 7:50 am
Sorry salah URL, Nich yang bener!
February 12th, 2008 at 9:50 am
Dilarang memuji..paling tidak sampeyan ndak kena gendam spt saya..[hari ini mengingat masa lalu]
February 15th, 2008 at 3:00 pm
Salam kenal juga
Kalau ditulis naratif, takutnya saya akan menjadi terkenal karenanya dan diwawancarai di mass media
Ya dunk. Orang sombong, tunggu pembalasan dariku!!!
Sepakat aja deh
Kedua url-nya sepertinya salah
Betul pak, gara-gara Garuda Pancasila teman saya kena gendam
February 15th, 2008 at 3:10 pm
MujahirMuhajirDilarang mencari
Lelasanalasan. Sudah biasa tidak diacuhkan.Jangan menghasut saya untuk menjadikannya lebih naratif , saya tidak mau jadi orang terkenal
Dengan berbagai alasan, saya menolak untuk membuatnya lebih naratif. Satu hal, saya tidak ingin orang Bali dicap diskriminatif. Padahal selama ini orang Bali sangat toleran dan beberapa malah melindungi kaum peranakan Cina. Dan alkulturasi budaya diantara keduanya sudah terjalin sedemikian erat. Perlakuan yang saya terima itu lebih dikarenakan rezim yang berkuasa saat itu.