<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Kenapa Orang Indonesia Suka Membunuh?</title>
	<atom:link href="http://www.meonx.com/2008/02/kenapa-orang-indonesia-suka-membunuh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.meonx.com/2008/02/kenapa-orang-indonesia-suka-membunuh/</link>
	<description>Blognya orang sinting dan iseng</description>
	<pubDate>Sun, 23 Nov 2008 18:58:59 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
		<item>
		<title>By: Lemah Semata</title>
		<link>http://www.meonx.com/2008/02/kenapa-orang-indonesia-suka-membunuh/#comment-248</link>
		<dc:creator>Lemah Semata</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Apr 2008 06:16:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.meonx.com/2008/02/kenapa-orang-indonesia-suka-membunuh/#comment-248</guid>
		<description>Maafkan saya juga sdr Meonx. Mungkin logika anda benar kalau asumsinya pembunuhan lebih keji dari fitnah. Sementara perspektif saya berkebalikan dengan anda. 
Bisa kita bayangkan seandainya rentetan peristiwa G30S-PKI itu tidak berakibat pembunuhan massal (tapi sayang begitulah kenyataannya), mungkin akan terlihat tidak terlalu keji jika dibandingkan teror bom Bali itu. Mestinya cukup dengan mengadili para pemimpin PKI saja dengan hukuman yang setimpal, hukum mati. Tetapi karena mereka (PKI) menganggap itu fitnah, maka mereka tentu menerima hukuman yang kejahatannya tidak pernah mereka lakukan. Bagi saya itulah fitnah yang kekejamannya melebihi pembunuhan itu sendiri!
Anjuran anda kepada saya untuk bereksperimen melakukan pembunuhan tentu akan melanggar persepsktif dan keyakinan saya: karena membunuh tanpa alasan yang jelas bisa diterima adalah dosa besar yang saya tidak mungkin sanggup memikulnya (di dunia apalagi di akhirat); dan fitnah tentu lebih berat lagi dari itu  :mrgreen:</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Maafkan saya juga sdr Meonx. Mungkin logika anda benar kalau asumsinya pembunuhan lebih keji dari fitnah. Sementara perspektif saya berkebalikan dengan anda.<br />
Bisa kita bayangkan seandainya rentetan peristiwa G30S-PKI itu tidak berakibat pembunuhan massal (tapi sayang begitulah kenyataannya), mungkin akan terlihat tidak terlalu keji jika dibandingkan teror bom Bali itu. Mestinya cukup dengan mengadili para pemimpin PKI saja dengan hukuman yang setimpal, hukum mati. Tetapi karena mereka (PKI) menganggap itu fitnah, maka mereka tentu menerima hukuman yang kejahatannya tidak pernah mereka lakukan. Bagi saya itulah fitnah yang kekejamannya melebihi pembunuhan itu sendiri!<br />
Anjuran anda kepada saya untuk bereksperimen melakukan pembunuhan tentu akan melanggar persepsktif dan keyakinan saya: karena membunuh tanpa alasan yang jelas bisa diterima adalah dosa besar yang saya tidak mungkin sanggup memikulnya (di dunia apalagi di akhirat); dan fitnah tentu lebih berat lagi dari itu  <img src='http://www.meonx.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: meonx</title>
		<link>http://www.meonx.com/2008/02/kenapa-orang-indonesia-suka-membunuh/#comment-246</link>
		<dc:creator>meonx</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 05:51:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.meonx.com/2008/02/kenapa-orang-indonesia-suka-membunuh/#comment-246</guid>
		<description>:arrow: Lemah Semata
Pertama-tama, maafkan saya atas kekurangtahuan saya bahwa ternyata saya telah menyitir kalimat yang ada didalam Al-Quran., tepatnya Surat Al-Baqarah ayat 191.
Baik fitnah maupun pembunuhan merupakan dua perbuatan keji. Tentu tak adil bila kita membandingkan kadar dosa diantara keduanya.
Saya disini hanya mencoba bermain logika. Maaf jika terasa kurang berkenan dihati. Tapi sebaiknya anda mencoba sedikit mengganggu hidup anda sendiri dengan memperbaiki alur logika anda sendiri.
Ketika anda mencoba mengaitkan hal ini dengan tragedi G 30 S/PKI, silahkan memaksa otak anda berpikir apa yang menyebabkan peristiwa itu tampak keji. Fitnahnya-kah atau pembunuhannya-kah? Bagaimana bila peristiwa itu tidak dibarengi pembantaian massal, masihkah terlihat keji? 
Bandingkan pula dengan tragedi Bom Bali. Adakah fitnah bermain dalam peristiwa itu? Bila tidak, lalu kenapa tragedi itu tampak keji?
Terkadang otak kita harus dipakai berlogika secara terbalik agar kita bisa menemukan kesimpulan dibalik sesuatu.
Saya akan bereksperimen untuk memfitnah seseorang dengan kesungguhan hati bila anda juga berkenan membunuh seseorang. Untuk korbannya, mungkin &lt;a href="http://www.baladika.info" rel="nofollow"&gt;Baladika&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://www.balivetman.wordpress.com" rel="nofollow"&gt;Balivetman&lt;/a&gt; bisa dijadikan target.  :mrgreen:</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p> <img src='http://www.meonx.com/wp-includes/images/smilies/icon_arrow.gif' alt=':arrow:' class='wp-smiley' /> Lemah Semata<br />
Pertama-tama, maafkan saya atas kekurangtahuan saya bahwa ternyata saya telah menyitir kalimat yang ada didalam Al-Quran., tepatnya Surat Al-Baqarah ayat 191.<br />
Baik fitnah maupun pembunuhan merupakan dua perbuatan keji. Tentu tak adil bila kita membandingkan kadar dosa diantara keduanya.<br />
Saya disini hanya mencoba bermain logika. Maaf jika terasa kurang berkenan dihati. Tapi sebaiknya anda mencoba sedikit mengganggu hidup anda sendiri dengan memperbaiki alur logika anda sendiri.<br />
Ketika anda mencoba mengaitkan hal ini dengan tragedi G 30 S/PKI, silahkan memaksa otak anda berpikir apa yang menyebabkan peristiwa itu tampak keji. Fitnahnya-kah atau pembunuhannya-kah? Bagaimana bila peristiwa itu tidak dibarengi pembantaian massal, masihkah terlihat keji?<br />
Bandingkan pula dengan tragedi Bom Bali. Adakah fitnah bermain dalam peristiwa itu? Bila tidak, lalu kenapa tragedi itu tampak keji?<br />
Terkadang otak kita harus dipakai berlogika secara terbalik agar kita bisa menemukan kesimpulan dibalik sesuatu.<br />
Saya akan bereksperimen untuk memfitnah seseorang dengan kesungguhan hati bila anda juga berkenan membunuh seseorang. Untuk korbannya, mungkin <a href="http://www.baladika.info" rel="nofollow">Baladika</a> atau <a href="http://www.balivetman.wordpress.com" rel="nofollow">Balivetman</a> bisa dijadikan target.  <img src='http://www.meonx.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Lemah Semata</title>
		<link>http://www.meonx.com/2008/02/kenapa-orang-indonesia-suka-membunuh/#comment-245</link>
		<dc:creator>Lemah Semata</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 05:06:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.meonx.com/2008/02/kenapa-orang-indonesia-suka-membunuh/#comment-245</guid>
		<description>sekedar tambahan:
Fitnah mampu menciptakan kekejaman yang berlipat-lipat dari sekedar pembunuhan. Silahkan anda menyimak tregedi 30 September 1965. Tentu tidak sekedar nyaris 3 juta orang dibantai tanpa proses hukum yang berlaku. Mengapa mereka dibunuh? Karena mereka anggota PKI. Kalau keanggotaan mereka bisa dibuktikan dengan kartu anggota (atau sekedar termuat dalam daftar hadir rapat partai), apasalahnya, toh para pentolannya duduk dengan mantap di Parlemen. Bagaimana dengan orang-orang yang ternyata sekedar dicap PKI? Duh Fitnah betapa biadab dan durjananya akibat yang kau timpakan pada mereka, tapi .... mengapa anak-cucu mereka yang terbantai harus sengsara juga selama orde baru berkuasa? Maka Pramudya pun terbakar sendirian mengalami dan menyaksikan segala kebiadaban fitnah itu. 
Sekarang, ketika reformasi menyediakan ruang objektifitas untuk berbeda pendapat, fitnah itu secara perlahan tapi pasti berbalik menerjang para pelaku dan keluarganya. Menyakitkan memang jika berjuta orang harus menuntut keadilan kepada para penguasa rezim orde baru. Siapakah yang bisa menanggung beban itu? Bisakah rekonsiliasi untuk meringankan derita itu?!! Kini, ketika nyala api akibat fitnah itu kian berkobar, mungkinkah ada kesadaran yang menyejukkan bahwa memang sebaiknya jangan pernah lagi lepas dari akal-sehat, rasionalitas, intelektualitas, kecerdasan emosional dan spritual ..... maka anda pasti mengerti akan makna "fitnah lebih kejam dari pembunuhan" itu.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sekedar tambahan:<br />
Fitnah mampu menciptakan kekejaman yang berlipat-lipat dari sekedar pembunuhan. Silahkan anda menyimak tregedi 30 September 1965. Tentu tidak sekedar nyaris 3 juta orang dibantai tanpa proses hukum yang berlaku. Mengapa mereka dibunuh? Karena mereka anggota PKI. Kalau keanggotaan mereka bisa dibuktikan dengan kartu anggota (atau sekedar termuat dalam daftar hadir rapat partai), apasalahnya, toh para pentolannya duduk dengan mantap di Parlemen. Bagaimana dengan orang-orang yang ternyata sekedar dicap PKI? Duh Fitnah betapa biadab dan durjananya akibat yang kau timpakan pada mereka, tapi &#8230;. mengapa anak-cucu mereka yang terbantai harus sengsara juga selama orde baru berkuasa? Maka Pramudya pun terbakar sendirian mengalami dan menyaksikan segala kebiadaban fitnah itu.<br />
Sekarang, ketika reformasi menyediakan ruang objektifitas untuk berbeda pendapat, fitnah itu secara perlahan tapi pasti berbalik menerjang para pelaku dan keluarganya. Menyakitkan memang jika berjuta orang harus menuntut keadilan kepada para penguasa rezim orde baru. Siapakah yang bisa menanggung beban itu? Bisakah rekonsiliasi untuk meringankan derita itu?!! Kini, ketika nyala api akibat fitnah itu kian berkobar, mungkinkah ada kesadaran yang menyejukkan bahwa memang sebaiknya jangan pernah lagi lepas dari akal-sehat, rasionalitas, intelektualitas, kecerdasan emosional dan spritual &#8230;.. maka anda pasti mengerti akan makna &#8220;fitnah lebih kejam dari pembunuhan&#8221; itu.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Lemah Semata</title>
		<link>http://www.meonx.com/2008/02/kenapa-orang-indonesia-suka-membunuh/#comment-244</link>
		<dc:creator>Lemah Semata</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 03:41:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.meonx.com/2008/02/kenapa-orang-indonesia-suka-membunuh/#comment-244</guid>
		<description>Meonx bertanya-tanya mengapa orang Indonesia suka membunuh? Pertanyaan aneh tapi nyata! Aneh karena atas dasar apa tiba-tiba Meonx menyimpulkan bahwa orang Indonesia suka membunuh. Ataukah ada perbandingan yang sungguh signifikan bila dibandingkan dengan (misalnya) bangsa Jepang, Somalia, Serbia, Irak, Inggris, India atau Amerika?! Pertanyaan aneh itu akhirnya menjadi lucu ketika Meonx mengkorelasikan ajaran Islam (penganut mayoritas) dengan fenomena 'suka membunuh' tersebut. Sungguh lucu karena dalam alam pikirannya ternyata fitnah tidaklah sekejam pembunuhan. Apanya yang lucu? 

Ya, dengan nalar sederhana memang fitnah dalam kehidupan sehari-hari terasa ringan dan bahkan bisa sangat menyenangkan dan menghibur. Tapi fitnah, apapun tingkat kekejiannya, tujuannya adalah untuk merusak atau bahkan membunuh karakter dengan cara memutar-balik fakta yang sebenarnya. Pedang fitnah bisa membabat orang yang diserang (kalau telak/ efektif), tapi juga mampu mencincang si penyerang (kalau katahuan), atau malah (ini yang paling seram) mampu menciptakan pertikaian antar individu, kelompok, golongan, suku atau bangsa. Kalau Meonx baca ulang sejarah (terutama sejarah kolonial di Indonesia) menjalankan fitnah sepertinya merupakan modus yang jitu diterapkan Penguasa Kolonial dalam memecah-belah bangsa ini guna mempertahankan cengkramannya selama lebih 300 tahun. Inilah akibat nyata dari fitnah: sebuah bangsa terpecah-belah, dijajah, diperbudak, ditindas selama 6 atau 7generasi (300 thn) sehingga sampai sekarang tetap merangkak dalam kemiskinan, kebodohan, korupsi, saling fitnah, idiot dlm berbangsa dan bernegera. Bukankah lebih baik bersatu dan angkat senjata melawan tanpa termakan fitnah? Bukankah lebih baik hukum mati para koruptor (pejabat maupun pengusaha)? Karena akibatnya jauh lebih kejam dari pembunuhan.

Karena ungkapan "fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan" ada termaktub dalam Al-Qur'an (al-baqarah: 191), maka pastilah konteksnya adalah dunia-akhirat. Adakah kita punya gambaran bagaimana akibat pembunuhan di akhirat dibandingkan dengan akibat fitnah? Seorang pelaku fitnah di dunia ini pasti punya seribu wajah yang bisa ia tampilkan, tapi di akhirat (atau di alam bathin) wajah aslinya tidak pernah bisa dikelabui dengan seribu wajah. Kalau anda bisa menyaksikan wajah asli ini paradigma anda mungkin akan berubah drastis. Meonx silahkan berekspireman melakukan fitnah terhadap seseorang (tentu saja dengan kesungguhan), sejenak setelah fitnah itu anda hembuskan, saksikan gemanya di alam luar sana dan dalam bathin anda. Selamat  mencoba jika anda masih terlalu sinting merasa puas dengan cara berpikir anda. Tks:</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Meonx bertanya-tanya mengapa orang Indonesia suka membunuh? Pertanyaan aneh tapi nyata! Aneh karena atas dasar apa tiba-tiba Meonx menyimpulkan bahwa orang Indonesia suka membunuh. Ataukah ada perbandingan yang sungguh signifikan bila dibandingkan dengan (misalnya) bangsa Jepang, Somalia, Serbia, Irak, Inggris, India atau Amerika?! Pertanyaan aneh itu akhirnya menjadi lucu ketika Meonx mengkorelasikan ajaran Islam (penganut mayoritas) dengan fenomena &#8217;suka membunuh&#8217; tersebut. Sungguh lucu karena dalam alam pikirannya ternyata fitnah tidaklah sekejam pembunuhan. Apanya yang lucu? </p>
<p>Ya, dengan nalar sederhana memang fitnah dalam kehidupan sehari-hari terasa ringan dan bahkan bisa sangat menyenangkan dan menghibur. Tapi fitnah, apapun tingkat kekejiannya, tujuannya adalah untuk merusak atau bahkan membunuh karakter dengan cara memutar-balik fakta yang sebenarnya. Pedang fitnah bisa membabat orang yang diserang (kalau telak/ efektif), tapi juga mampu mencincang si penyerang (kalau katahuan), atau malah (ini yang paling seram) mampu menciptakan pertikaian antar individu, kelompok, golongan, suku atau bangsa. Kalau Meonx baca ulang sejarah (terutama sejarah kolonial di Indonesia) menjalankan fitnah sepertinya merupakan modus yang jitu diterapkan Penguasa Kolonial dalam memecah-belah bangsa ini guna mempertahankan cengkramannya selama lebih 300 tahun. Inilah akibat nyata dari fitnah: sebuah bangsa terpecah-belah, dijajah, diperbudak, ditindas selama 6 atau 7generasi (300 thn) sehingga sampai sekarang tetap merangkak dalam kemiskinan, kebodohan, korupsi, saling fitnah, idiot dlm berbangsa dan bernegera. Bukankah lebih baik bersatu dan angkat senjata melawan tanpa termakan fitnah? Bukankah lebih baik hukum mati para koruptor (pejabat maupun pengusaha)? Karena akibatnya jauh lebih kejam dari pembunuhan.</p>
<p>Karena ungkapan &#8220;fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan&#8221; ada termaktub dalam Al-Qur&#8217;an (al-baqarah: 191), maka pastilah konteksnya adalah dunia-akhirat. Adakah kita punya gambaran bagaimana akibat pembunuhan di akhirat dibandingkan dengan akibat fitnah? Seorang pelaku fitnah di dunia ini pasti punya seribu wajah yang bisa ia tampilkan, tapi di akhirat (atau di alam bathin) wajah aslinya tidak pernah bisa dikelabui dengan seribu wajah. Kalau anda bisa menyaksikan wajah asli ini paradigma anda mungkin akan berubah drastis. Meonx silahkan berekspireman melakukan fitnah terhadap seseorang (tentu saja dengan kesungguhan), sejenak setelah fitnah itu anda hembuskan, saksikan gemanya di alam luar sana dan dalam bathin anda. Selamat  mencoba jika anda masih terlalu sinting merasa puas dengan cara berpikir anda. Tks:</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: meonx</title>
		<link>http://www.meonx.com/2008/02/kenapa-orang-indonesia-suka-membunuh/#comment-185</link>
		<dc:creator>meonx</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Feb 2008 16:13:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.meonx.com/2008/02/kenapa-orang-indonesia-suka-membunuh/#comment-185</guid>
		<description>:arrow: Mardies

&lt;blockquote&gt;Maaf bukankah sudah ada paragrafnya? Apakah maksud anda spasi antar paragraf?
Terburu-buru makan lontong cap go meh, jadi lupa memberikan spasi pada masing-masing paragraf.  :mrgreen: &lt;/blockquote&gt;
Permohonan anda sudah dipenuhi ...

 :arrow: Devari 
Betul banyak yang bilang begitu  :mrgreen:  [NARSIS mode ON]

:arrow: Eka
Takkan lari gunung dikejar.  :twisted: 
Belum usai peluit. Belum habis putaran roda. Tunggu tanggal mainnya  :twisted: 

:arrow: Malaikax
Bukan pembunuh. Orang sinting yang iseng tepatnya ...

:arrow: Baladika Bukan
Ternyata Baladika adalah Edi Sud. Eh Dia Suka Dangdut lho  :mrgreen: 
Maaf pak. Walau tulisannya sedikit menjurus ke arah character assasination, tapi saya harap bapak tidak marah karena banyak link mengarah ke &lt;strike&gt;lendir &lt;/strike&gt; blog anda    :twisted: 

 :arrow: Pink 
So if you like that, do you like me? And if you like me, do you love me? [PEDOFILIA mode ON]  :twisted:</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p> <img src='http://www.meonx.com/wp-includes/images/smilies/icon_arrow.gif' alt=':arrow:' class='wp-smiley' /> Mardies</p>
<blockquote><p>Maaf bukankah sudah ada paragrafnya? Apakah maksud anda spasi antar paragraf?<br />
Terburu-buru makan lontong cap go meh, jadi lupa memberikan spasi pada masing-masing paragraf.  <img src='http://www.meonx.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p></blockquote>
<p>Permohonan anda sudah dipenuhi &#8230;</p>
<p> <img src='http://www.meonx.com/wp-includes/images/smilies/icon_arrow.gif' alt=':arrow:' class='wp-smiley' /> Devari<br />
Betul banyak yang bilang begitu  <img src='http://www.meonx.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  [NARSIS mode ON]</p>
<p> <img src='http://www.meonx.com/wp-includes/images/smilies/icon_arrow.gif' alt=':arrow:' class='wp-smiley' /> Eka<br />
Takkan lari gunung dikejar.  <img src='http://www.meonx.com/wp-includes/images/smilies/icon_twisted.gif' alt=':twisted:' class='wp-smiley' /><br />
Belum usai peluit. Belum habis putaran roda. Tunggu tanggal mainnya  <img src='http://www.meonx.com/wp-includes/images/smilies/icon_twisted.gif' alt=':twisted:' class='wp-smiley' /> </p>
<p> <img src='http://www.meonx.com/wp-includes/images/smilies/icon_arrow.gif' alt=':arrow:' class='wp-smiley' /> Malaikax<br />
Bukan pembunuh. Orang sinting yang iseng tepatnya &#8230;</p>
<p> <img src='http://www.meonx.com/wp-includes/images/smilies/icon_arrow.gif' alt=':arrow:' class='wp-smiley' /> Baladika Bukan<br />
Ternyata Baladika adalah Edi Sud. Eh Dia Suka Dangdut lho  <img src='http://www.meonx.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /><br />
Maaf pak. Walau tulisannya sedikit menjurus ke arah character assasination, tapi saya harap bapak tidak marah karena banyak link mengarah ke <strike>lendir </strike> blog anda    <img src='http://www.meonx.com/wp-includes/images/smilies/icon_twisted.gif' alt=':twisted:' class='wp-smiley' /> </p>
<p> <img src='http://www.meonx.com/wp-includes/images/smilies/icon_arrow.gif' alt=':arrow:' class='wp-smiley' /> Pink<br />
So if you like that, do you like me? And if you like me, do you love me? [PEDOFILIA mode ON]  <img src='http://www.meonx.com/wp-includes/images/smilies/icon_twisted.gif' alt=':twisted:' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: pink</title>
		<link>http://www.meonx.com/2008/02/kenapa-orang-indonesia-suka-membunuh/#comment-183</link>
		<dc:creator>pink</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Feb 2008 09:04:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.meonx.com/2008/02/kenapa-orang-indonesia-suka-membunuh/#comment-183</guid>
		<description>&lt;blockquote&gt;Kenapa orang Indonesia suka membunuh? Karena orang Indonesia tidak terlalu suka MEMFITNAH. Kenapa orang Indonesia tidak terlalu suka MEMFITNAH? Karena FITNAH lebih kejam daripada PEMBUNUHAN. Daripada anda memfitnah seseorang, lebih baik anda membunuhnya.&lt;/blockquote&gt;

I like it. haha</description>
		<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Kenapa orang Indonesia suka membunuh? Karena orang Indonesia tidak terlalu suka MEMFITNAH. Kenapa orang Indonesia tidak terlalu suka MEMFITNAH? Karena FITNAH lebih kejam daripada PEMBUNUHAN. Daripada anda memfitnah seseorang, lebih baik anda membunuhnya.</p></blockquote>
<p>I like it. haha</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: bukan baladika</title>
		<link>http://www.meonx.com/2008/02/kenapa-orang-indonesia-suka-membunuh/#comment-182</link>
		<dc:creator>bukan baladika</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Feb 2008 20:49:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.meonx.com/2008/02/kenapa-orang-indonesia-suka-membunuh/#comment-182</guid>
		<description>mengerikan.... pembunuhan... jadi inget bang rhoma  :mrgreen:</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mengerikan&#8230;. pembunuhan&#8230; jadi inget bang rhoma  <img src='http://www.meonx.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Malaikax</title>
		<link>http://www.meonx.com/2008/02/kenapa-orang-indonesia-suka-membunuh/#comment-181</link>
		<dc:creator>Malaikax</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Feb 2008 09:37:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.meonx.com/2008/02/kenapa-orang-indonesia-suka-membunuh/#comment-181</guid>
		<description>Kenapa Orang Indonesia Suka Membunuh? Karena yang menulis ini seorang pembunuh ! simplekan heuaheauh....***kabooeerrr</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kenapa Orang Indonesia Suka Membunuh? Karena yang menulis ini seorang pembunuh ! simplekan heuaheauh&#8230;.***kabooeerrr</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: eka</title>
		<link>http://www.meonx.com/2008/02/kenapa-orang-indonesia-suka-membunuh/#comment-180</link>
		<dc:creator>eka</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Feb 2008 02:35:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.meonx.com/2008/02/kenapa-orang-indonesia-suka-membunuh/#comment-180</guid>
		<description>"Saat ini masih mencari inspirasi untuk membalas perlakuan Balivetman"
wah jadi takut nie......
jangan-jangan bli meonx dendam gara-gara saya tidak bawa kertas kosong untuk tanda tangan ya???????
maklum saya kesana cuma bawa perut kosong aja...
sebelum saya jadi korban selanjutnya~~~~~~~~kabur</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Saat ini masih mencari inspirasi untuk membalas perlakuan Balivetman&#8221;<br />
wah jadi takut nie&#8230;&#8230;<br />
jangan-jangan bli meonx dendam gara-gara saya tidak bawa kertas kosong untuk tanda tangan ya???????<br />
maklum saya kesana cuma bawa perut kosong aja&#8230;<br />
sebelum saya jadi korban selanjutnya~~~~~~~~kabur</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: devari</title>
		<link>http://www.meonx.com/2008/02/kenapa-orang-indonesia-suka-membunuh/#comment-178</link>
		<dc:creator>devari</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 17:18:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.meonx.com/2008/02/kenapa-orang-indonesia-suka-membunuh/#comment-178</guid>
		<description>analoginya keren euuy LOL</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>analoginya keren euuy LOL</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
