Kenapa Orang Indonesia Suka Membunuh?

Thursday, 21 February 2008

Kenapa orang Indonesia suka membunuh? Karena orang Indonesia tidak terlalu suka MEMFITNAH. Kenapa orang Indonesia tidak terlalu suka MEMFITNAH? Karena FITNAH lebih kejam daripada PEMBUNUHAN. Daripada anda memfitnah seseorang, lebih baik anda membunuhnya. Bila dikaitkan dengan terorisme, maka akan timbul pertanyaan seperti ini : kenapa Amrozy dkk lebih memilih menjadi seorang teroris? Karena Amrozy dkk tidak suka MEMFITNAH.

Silahkan anda menganggap saya bergurau atau tidak mempercayai pernyataan tersebut. Namun sebaiknya, saya sarankan anda melakukan penelitian terhadap perkara pidana yang diputus oleh lembaga peradilan yang ada diseluruh Indonesia, dan jangan terkejut jika anda mendapati kenyataan bahwa jumlah perkara PEMBUNUHAN yang ada lebih banyak daripada perkara FITNAH (pencemaran nama baik). FITNAH dalam bahasa hukum diterjemahkan sebagai “PENCEMARAN NAMA BAIK”.

Entah kenapa pepatah “FITNAH lebih kejam daripada PEMBUNUHAN” bisa ada di Indonesia. Dan entah apa dasar logika berpikir yang dipakai sebagai perbandingan, sedemikian rupa sehingga dosa PEMBUNUHAN dianggap lebih ringan dibanding dosa karena MEMFITNAH. Apakah karena hal ini didasari oleh pepatah lain, “UJUNG LIDAH LEBIH TAJAM DARIPADA MATA PEDANG”, sehingga keduanya akan terlihat saling melengkapi? Dengan kata lain, bila pepatah yang pertama dibalik : “PEMBUNUHAN lebih kejam daripada FITNAH”, maka pepatah yang kedua terlihat konyol karenanya.

Andai boleh saya berandai-andai, jika saya MEMFITNAH, misalnya, bahwa Baladika telah melakukan operasi penggantian kelamin di Thailand. Paling-paling orang akan menuduh Baladika hanya sebagai “seorang lelaki yang terlahir tomboy”. Dan jika suatu saat ia ternyata menikah dengan seorang wanita, paling orang akan menyebut bahwa operasi kelaminnya gagal; atau Baladika telah bertobat untuk kembali menjadi LELAKI PAKAR LENDIR SEJATI; atau, paling buruk mereka akan disebut pasangan homoseksual. Dan bila mereka ternyata kelak istrinya hamil dan kemudian melahirkan anak, paling orang akan menyebut istrinya sebagai seorang heteroseksual; atau anaknya dianggap anak haram. Dan kesemua FITNAH yang saya tuduhkan akan menjadi terbantahkan manakala seorang Baladika berani memamerkan “ALAT LENDIRNYA” pada kita semua, untuk membuktikan bahwa itu masih asli dan belum pernah “TURUN MESIN”. 1

Bagaimana bila saya MEMBUNUH Baladika? Misalnya, bila Baladika telah mempunyai anak-istri, maka saya telah membuat anak menjadi seorang yatim dan istrinya menjadi seorang janda. Lebih dari itu saya telah membuat keluarga itu kehilangan orang yang menjadi penopang hidup mereka dan mungkin akan membuat mereka kehilangan kesempatan untuk menikmati hidup yang indah dimasa depan. Terutama sekali, saya telah merampas hak asasi Baladika untuk hidup dan untuk menikmati “TETES-TETES LENDIR” yang terus mengalir dari rekening PAYPAL-nya. 2

Sekali anda MEMFITNAH, belum tentu anda dicap sebagai “TUKANG FITNAH”. Tapi sekali anda MEMBUNUH, selamanya anda akan dicap sebagai “PEMBUNUH”. Dan walau anda berkali-kali melakukan fitnahpun, anda tidak akan dicap “TUKANG FITNAH”; paling “SI MULUT BUSUK” atau “SI PAHIT LIDAH”.

Pun demikian, didalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), jika kita hendak menakar bobot kedua dosa itu secara legal. Baik PEMBUNUHAN maupun PENCEMARAN NAMA BAIK merupakan TINDAK PIDANA KEJAHATAN, Namun bila kita bandingkan ancaman hukuman maksimal atas kedua tindak pidana kejahatan tersebut, tindak pidana PEMBUNUHAN ancaman hukuman terberatnya adalah hukuman mati. Sedang PENCEMARAN NAMA BAIK tidak sampai 3 tahun penjara, kecuali mungkin di masa kolonial. 3

Jadi anda lebih suka yang mana, MEMFITNAH atau MEMBUNUH :?:

Maka atas dasar ini, saya mengusulkan agar pepatah “FITNAH lebih kejam daripada PEMBUNUHAN” diganti saja menjadi : “FITNAH LEBIH KEJAM DARIPADA TIDAK MEMFITNAH”. Dan kepada para LASKAR-YANG-SUKA-MAIN-HAKIM-SENDIRI itu, agar merobek dan membakar setiap buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia yang mencantumkan pepatah “FITNAH lebih kejam daripada PEMBUNUHAN”, daripada merobek buku-buku pelajara sejarah yang tidak mencantumkan kata PKI (Partai Komunis Indonesia) didalamnya.

Notabene :
1 Menjadikan Baladika sebagai perumpaan disini lebih didasari pada “dendam kesumat” saya pada perlakuannya yang tidak mengacuhkan saya ketika menjabat tangannya pada acara “Launching Bali Blogger Community”. Saat ini masih mencari inspirasi untuk membalas perlakuan Balivetman dan Antonemus.
2 Saya telah memikirkan cara terbaik untuk membunuh Baladika, yakni dengan menjatuh uang sebanyak 1 juta Dollar Australia, dalam bentuk pecahan 20 sen, diatas kepalanya.
3 Karena termasuk dalam TINDAK PIDANA PELANGGARAN, hukumannya sebenarnya bukan PIDANAN PENJARA, melainkan PIDANA KURUNGAN.
:arrow: Atas permintaan saudara Ahmad Mardianto, penambahan spasi untuk memisahkan masing-masing paragraf telah dilakukan.
Lagi asyik makan lontong Cap Go Meh.

Ada 11 komentar untuk “Kenapa Orang Indonesia Suka Membunuh?”

  1. Mardies berujar:

    Dilarang memuji
    Tulisannya dibikin paragraf yang baik, donk! Pusing, nih. BTW, yang namanya lidah memang mengerikan. Satu lidah bisa menghabisi 100 nyawa. Cuma dengan satu lidah.

    Tulisannya bagus, lho. Kreatip
    *lupa kalo dilarang memuji*

  2. devari berujar:

    analoginya keren euuy LOL

  3. eka berujar:

    “Saat ini masih mencari inspirasi untuk membalas perlakuan Balivetman”
    wah jadi takut nie……
    jangan-jangan bli meonx dendam gara-gara saya tidak bawa kertas kosong untuk tanda tangan ya???????
    maklum saya kesana cuma bawa perut kosong aja…
    sebelum saya jadi korban selanjutnya~~~~~~~~kabur

  4. Malaikax berujar:

    Kenapa Orang Indonesia Suka Membunuh? Karena yang menulis ini seorang pembunuh ! simplekan heuaheauh….***kabooeerrr

  5. bukan baladika berujar:

    mengerikan…. pembunuhan… jadi inget bang rhoma :mrgreen:

  6. pink berujar:

    Kenapa orang Indonesia suka membunuh? Karena orang Indonesia tidak terlalu suka MEMFITNAH. Kenapa orang Indonesia tidak terlalu suka MEMFITNAH? Karena FITNAH lebih kejam daripada PEMBUNUHAN. Daripada anda memfitnah seseorang, lebih baik anda membunuhnya.

    I like it. haha

  7. meonx berujar:

    :arrow: Mardies

    Maaf bukankah sudah ada paragrafnya? Apakah maksud anda spasi antar paragraf?
    Terburu-buru makan lontong cap go meh, jadi lupa memberikan spasi pada masing-masing paragraf. :mrgreen:

    Permohonan anda sudah dipenuhi …

    :arrow: Devari
    Betul banyak yang bilang begitu :mrgreen: [NARSIS mode ON]

    :arrow: Eka
    Takkan lari gunung dikejar. :twisted:
    Belum usai peluit. Belum habis putaran roda. Tunggu tanggal mainnya :twisted:

    :arrow: Malaikax
    Bukan pembunuh. Orang sinting yang iseng tepatnya …

    :arrow: Baladika Bukan
    Ternyata Baladika adalah Edi Sud. Eh Dia Suka Dangdut lho :mrgreen:
    Maaf pak. Walau tulisannya sedikit menjurus ke arah character assasination, tapi saya harap bapak tidak marah karena banyak link mengarah ke lendir blog anda :twisted:

    :arrow: Pink
    So if you like that, do you like me? And if you like me, do you love me? [PEDOFILIA mode ON] :twisted:

  8. Lemah Semata berujar:

    Meonx bertanya-tanya mengapa orang Indonesia suka membunuh? Pertanyaan aneh tapi nyata! Aneh karena atas dasar apa tiba-tiba Meonx menyimpulkan bahwa orang Indonesia suka membunuh. Ataukah ada perbandingan yang sungguh signifikan bila dibandingkan dengan (misalnya) bangsa Jepang, Somalia, Serbia, Irak, Inggris, India atau Amerika?! Pertanyaan aneh itu akhirnya menjadi lucu ketika Meonx mengkorelasikan ajaran Islam (penganut mayoritas) dengan fenomena ’suka membunuh’ tersebut. Sungguh lucu karena dalam alam pikirannya ternyata fitnah tidaklah sekejam pembunuhan. Apanya yang lucu?

    Ya, dengan nalar sederhana memang fitnah dalam kehidupan sehari-hari terasa ringan dan bahkan bisa sangat menyenangkan dan menghibur. Tapi fitnah, apapun tingkat kekejiannya, tujuannya adalah untuk merusak atau bahkan membunuh karakter dengan cara memutar-balik fakta yang sebenarnya. Pedang fitnah bisa membabat orang yang diserang (kalau telak/ efektif), tapi juga mampu mencincang si penyerang (kalau katahuan), atau malah (ini yang paling seram) mampu menciptakan pertikaian antar individu, kelompok, golongan, suku atau bangsa. Kalau Meonx baca ulang sejarah (terutama sejarah kolonial di Indonesia) menjalankan fitnah sepertinya merupakan modus yang jitu diterapkan Penguasa Kolonial dalam memecah-belah bangsa ini guna mempertahankan cengkramannya selama lebih 300 tahun. Inilah akibat nyata dari fitnah: sebuah bangsa terpecah-belah, dijajah, diperbudak, ditindas selama 6 atau 7generasi (300 thn) sehingga sampai sekarang tetap merangkak dalam kemiskinan, kebodohan, korupsi, saling fitnah, idiot dlm berbangsa dan bernegera. Bukankah lebih baik bersatu dan angkat senjata melawan tanpa termakan fitnah? Bukankah lebih baik hukum mati para koruptor (pejabat maupun pengusaha)? Karena akibatnya jauh lebih kejam dari pembunuhan.

    Karena ungkapan “fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan” ada termaktub dalam Al-Qur’an (al-baqarah: 191), maka pastilah konteksnya adalah dunia-akhirat. Adakah kita punya gambaran bagaimana akibat pembunuhan di akhirat dibandingkan dengan akibat fitnah? Seorang pelaku fitnah di dunia ini pasti punya seribu wajah yang bisa ia tampilkan, tapi di akhirat (atau di alam bathin) wajah aslinya tidak pernah bisa dikelabui dengan seribu wajah. Kalau anda bisa menyaksikan wajah asli ini paradigma anda mungkin akan berubah drastis. Meonx silahkan berekspireman melakukan fitnah terhadap seseorang (tentu saja dengan kesungguhan), sejenak setelah fitnah itu anda hembuskan, saksikan gemanya di alam luar sana dan dalam bathin anda. Selamat mencoba jika anda masih terlalu sinting merasa puas dengan cara berpikir anda. Tks:

  9. Lemah Semata berujar:

    sekedar tambahan:
    Fitnah mampu menciptakan kekejaman yang berlipat-lipat dari sekedar pembunuhan. Silahkan anda menyimak tregedi 30 September 1965. Tentu tidak sekedar nyaris 3 juta orang dibantai tanpa proses hukum yang berlaku. Mengapa mereka dibunuh? Karena mereka anggota PKI. Kalau keanggotaan mereka bisa dibuktikan dengan kartu anggota (atau sekedar termuat dalam daftar hadir rapat partai), apasalahnya, toh para pentolannya duduk dengan mantap di Parlemen. Bagaimana dengan orang-orang yang ternyata sekedar dicap PKI? Duh Fitnah betapa biadab dan durjananya akibat yang kau timpakan pada mereka, tapi …. mengapa anak-cucu mereka yang terbantai harus sengsara juga selama orde baru berkuasa? Maka Pramudya pun terbakar sendirian mengalami dan menyaksikan segala kebiadaban fitnah itu.
    Sekarang, ketika reformasi menyediakan ruang objektifitas untuk berbeda pendapat, fitnah itu secara perlahan tapi pasti berbalik menerjang para pelaku dan keluarganya. Menyakitkan memang jika berjuta orang harus menuntut keadilan kepada para penguasa rezim orde baru. Siapakah yang bisa menanggung beban itu? Bisakah rekonsiliasi untuk meringankan derita itu?!! Kini, ketika nyala api akibat fitnah itu kian berkobar, mungkinkah ada kesadaran yang menyejukkan bahwa memang sebaiknya jangan pernah lagi lepas dari akal-sehat, rasionalitas, intelektualitas, kecerdasan emosional dan spritual ….. maka anda pasti mengerti akan makna “fitnah lebih kejam dari pembunuhan” itu.

  10. meonx berujar:

    :arrow: Lemah Semata
    Pertama-tama, maafkan saya atas kekurangtahuan saya bahwa ternyata saya telah menyitir kalimat yang ada didalam Al-Quran., tepatnya Surat Al-Baqarah ayat 191.
    Baik fitnah maupun pembunuhan merupakan dua perbuatan keji. Tentu tak adil bila kita membandingkan kadar dosa diantara keduanya.
    Saya disini hanya mencoba bermain logika. Maaf jika terasa kurang berkenan dihati. Tapi sebaiknya anda mencoba sedikit mengganggu hidup anda sendiri dengan memperbaiki alur logika anda sendiri.
    Ketika anda mencoba mengaitkan hal ini dengan tragedi G 30 S/PKI, silahkan memaksa otak anda berpikir apa yang menyebabkan peristiwa itu tampak keji. Fitnahnya-kah atau pembunuhannya-kah? Bagaimana bila peristiwa itu tidak dibarengi pembantaian massal, masihkah terlihat keji?
    Bandingkan pula dengan tragedi Bom Bali. Adakah fitnah bermain dalam peristiwa itu? Bila tidak, lalu kenapa tragedi itu tampak keji?
    Terkadang otak kita harus dipakai berlogika secara terbalik agar kita bisa menemukan kesimpulan dibalik sesuatu.
    Saya akan bereksperimen untuk memfitnah seseorang dengan kesungguhan hati bila anda juga berkenan membunuh seseorang. Untuk korbannya, mungkin Baladika atau Balivetman bisa dijadikan target. :mrgreen:

  11. Lemah Semata berujar:

    Maafkan saya juga sdr Meonx. Mungkin logika anda benar kalau asumsinya pembunuhan lebih keji dari fitnah. Sementara perspektif saya berkebalikan dengan anda.
    Bisa kita bayangkan seandainya rentetan peristiwa G30S-PKI itu tidak berakibat pembunuhan massal (tapi sayang begitulah kenyataannya), mungkin akan terlihat tidak terlalu keji jika dibandingkan teror bom Bali itu. Mestinya cukup dengan mengadili para pemimpin PKI saja dengan hukuman yang setimpal, hukum mati. Tetapi karena mereka (PKI) menganggap itu fitnah, maka mereka tentu menerima hukuman yang kejahatannya tidak pernah mereka lakukan. Bagi saya itulah fitnah yang kekejamannya melebihi pembunuhan itu sendiri!
    Anjuran anda kepada saya untuk bereksperimen melakukan pembunuhan tentu akan melanggar persepsktif dan keyakinan saya: karena membunuh tanpa alasan yang jelas bisa diterima adalah dosa besar yang saya tidak mungkin sanggup memikulnya (di dunia apalagi di akhirat); dan fitnah tentu lebih berat lagi dari itu :mrgreen:

Beri komentar