Mendebat Pancasila

Friday, 29 February 2008

Entah kenapa bulan ini PANCASILA menjadi inspirasi bagi saya untuk menulis. Padahal harusnya, dibulan penuh cinta ini, tulisan-tulisan romansa asmara menggelora yang banyak saya tulis. Apakah itu karena saya jatuh cinta terhadap “PANCASILA”? Ooh … tidak … saya masih lelaki normal. Maaf, hanya sekedar intermezo saja.

PANCASILA. Entah kenapa semenjak kelahirannya pertamakali pada sidang BPUPKI, hingga sekarang terus mengalami perdebatan yang tak henti. Mulai dari, siapa penggagas pertamanya, Yamin ataukah Soekarno? Kapan ia harus diperingati, 1 Juni ataukah 1 Oktober? Patutkah keberadaannya sebagai ASAS TUNGGAL dipertahankan? Apakah ia merupakan nilai-nilai luhur tradisi Indonesia ataukah merupakan nilai-nilai yang berasal dari penbgaruh asing? Dan lain sebagainya, hingga ke hal-hal yang bersifat konyol sekalipun.

Saya pernah membaca salah satu buku koleksi Perpustakaan DPRD Kota Surabaya, saya lua judulnya, tentang teori konspirasi yang mengaitkan PANCASILA dengan ISRAEL dan YAHUDI. Konon, menurut buku itu, Soekarno merupakan seorang kafir keturunan ISRAEL dan orangtua beliau merupakan seorang penganut YAHUDI yang taat. Gagasan Soekarno tentang PANCASILA sebenarnya dia ambil dari dasar negara ISRAEL. Buku ini sangat konyol karena pidato Soekarno tentang dasar negara ini, diucapkan jauh sebelum kaum YAHUDI dilokalisasi oleh Pemerintah Inggris ditanah PALESTINA. Didalamnya, buku itu, juga banyak menajiskan dan mengkafirkan ini-itu, seperti demokrasi, nasionalisme dan lain sebagainya. Tapi setidaknya, buku tersebut, turut menyumbang perdebatan mengenai keberadaan PANCASILA, walau dengan cara konyol.

Sebenarnya perdebatan mengenai keberadaan PANCASILA itu sendiri tidak hanya terjadi dimasa sekarang, tapi jauh pada saat Orde Lama masih berkuasa pun hal tersebut sudah terjadi. Pada tanggal 16-20 Februari 1959, bertempat di Sasana Hinggil Dwi Adad, Yogyakarta, perdebatan akademis mengenai Pancasila secara resmi untuk pertamakali dilangsungkan. Adapun yang hadir sebagai pembicara adalah : 1

  1. Prof., MR., H., Muhammad Yamin; dengan makalah berjudul : Tinjauan Pancasila terhadap revolusi fungsional;
  2. Prof., MR., Drs., Natanegara; dengan makalah berjudul : Pancasila dan religi;
  3. Prof., dr., N. Driyarkoro S.Y.dengan makalah berjudul : Berita pikiran ilmiah tentang kemungkinan jalan keluar dari kesulitan mengenai Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia; serta
  4. Ruslan Abdulgani; dengan makalah berjudul : Pancasila sebagai landasan demokrasi terpimpin.

Kemudian didapat kesimpulan antara lain sebagai berikut : 2

  • Keberadaan Pancasila sebagai dasar negara pada dasarnya tidak perlu diperdebatkan lagi;
  • Masuknya golongan fungsional dalam badan-badan negara merupakan cerminan adanya demokrasi dalam Pancasila;
  • Jaminan pemeliharaan dan perkembangan keyakinan agama yang ada pada sila pertama, merupakan pengakuan Pancasila terhadap keberadaan agama; dan
  • Kembali secara prinsipiil pada Undang-Undang Dasar 1945. 3

Notabene : Oleh-oleh dari Yogyakarta untuk seorang teman yang belum pernah sama sekali menjejakkan kaki di Yogyakarta.
1 Diambil dengan tidak hormat dari ornamen yang ada di BENTENG VREDEBURG, Yogyakarta.
2 Maaf ternyata kemampuan mengingat otak saya sudah payah. Saya tidak bisa menyebutkan secara pasti kesimpulan yang dihasilkan pada saat itu. Sayang pada saat berkunjung kesana, saya tidak membawa pulpen dan kertas. Mungki teman yang kebetulan dari Jogja bisa bantu melengkapi.
3 Ini kemudian menjadi salah satu dasar Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Presiden 1959, yang salah satu isinya adalh kembali ke Undang-Undang Dasar 1945.

Ada 6 komentar untuk “Mendebat Pancasila”

  1. devari berujar:

    pancasila sih sebenarnya ok, cuman terlalu sering dijadikan alat dan tameng politik pihak2 yang berkepentingan.

  2. ady gondronk berujar:

    kalo menurut saya, Pancasila itu ga perlu di otak-atik lagi.
    tinggal bagaimana kita mengamalkan Pancasila tersebut.

    Biasanya Pancasila itu diperdebatkan pada saat moment2 tertentu saja untuk mencari pupularitas semata.

  3. Edi Psw berujar:

    Beragam pendapat tentang Pancasila ini. Benar yang dikatakan oleh Ady Gondronk bahwa pancasila itu sudah tidak perlu di otak-atik lagi. Pemahaman dan pengamalan kita tentang pancasila yang masih kurang.

  4. meonx berujar:

    :arrow: Devari
    Ya begitulah nasib Pancasila ditangan satu kepentingan politik.
    :arrow: Ady Gondronk
    Maaf, saya tidak bermaksud mencari popularitas dengan mendebatkan Pancasila :mrgreen:
    :arrow: Ady gondronk dan Edi PSW
    Saya setuju Pancasila tidak perlu diotak-atik. Tapi sebagai sebuah pemhaman ideologi yang terbuka, perdebatan mengenainya harus ada. Tentu perdebatan ini perdebatan dalam arti positif. Terkadang lewat erdebatan kita menemukan pemahaman.

  5. riri berujar:

    pada dasarnya pancasila bukanlah hal yang penting untuk diperdebatkan tetapi saat ini yang terpenting adalah bagaimana realisasi dari pancasila itu sendiri. dan juga seharusnya sosialisasi pancasila haruslah ditanam kuat dalam tubuh aparatur negara. sejujurnya ideologi dimata yang paling unik didunia tuh ya cuma pancasila kalo yang laennya kan udah biasa tapi kalo pancasila luar biasa, tapi sayang bangsa kita seakan tidak menyadari hal itu.

  6. hana berujar:

    pancasila memang kontroversial dari jaman baheula sampai ayeuna. yang jelas saya pernah baca artikel, pancasila dan asas israel memang sama, termasuk beberapa negara demokrasi juga. pancasila memang gak salah sih,dan bisa diimplementasikan. tapiii… kata aku mah jauh dari sempurna. cz yang sempurna itu cuma satu. terbukti dari kondisi bangsa yang kacau beliau. yang sempurna itu cuma satu. (cari tau sendiri yah…) :mrgreen:

Beri komentar