Soekarno dan Warga Keturunan Cina di Indonesia
Dulu sekitar tahun 1950an, Presiden Soekarno mengeluarkan maklumat mengenai masalah keturunan Cina di Indonesia. Bagi warga keturunan Cina yang memilih untuk menjadi warga negara Indonesia, disuruh untuk segera mengganti nama Cina mereka menjadi nama Indonesia. Misalnya, kakek saya, semula bernama Lie Tie Djoe kemudian berganti menjadi I Made Tedja.
Mungkin banyak yang menganggap hal ini sebagai salah bentuk diskriminasi rasial, dan tak sedikit pula yang membenci Soekarno karena hal ini. Tapi bagi saya, hal tersebut merupakan salah satu langkah Soekarno guna membangkitkan gelora nasionalisme Indonesia dalam sanubari setiap keturunan Cina yang ada di Indonesia. Harus diakui pada masa-masa tersebut, perjuangan nasionalisme merupakan kampanye pergerakan yang paling ampuh pada saat itu. Tidak hanya di Indonesia, juga diberbagai negara-negara dunia ketiga, seperti Kuba, Libya, Cina, Turki, India dan lain-lain.
Tidaklah mungkin bagi kita untuk bergabung dalam satu bangsa bila kita sendiri tidak berbaur secara sosial dengan masyarakat yang ada dalam bangsa tersebut. Sama tidak mungkinnya jika kita hendak mempertahankan satu entitas murni yang berbeda dengan entitas yang ada disekitar. Karena hal tersebut akan menciptakan satu eksklusifitas yang mungkin akan menimbulkan friksi-friksi yang bisa mengerucut menjadi satu bom waktu bagi konflik yang berkepanjangan. Dan keadaan yang berlangsung pada masyarakat Indonesia pada waktu itu sangat memungkinkan untuk terjadi hal tersebut.
Mungkin saja Soekarno berkaca pada tragedi Holocaust yang menimpa masyarakat Yahudi Eropa tahun 1940-an. Begitu pula dengan diskriminasi rasial yang mereka terima di Eropa semenjak Perang Salib berlangsung. Dan penyebab hal ini mungkin eksklusifitas masyarakat Yahudi, yang salah satunya melarang adanya perkawinan antara orang Yahudi dengan masyarkat selain Yahudi. Seperti, kisah Shakespeare dalam Merchant of Venice. Mungkin berkaca dari hal itu pula, Pemerintah Republik Rakyat Cina menerapkan prinsip ius sanguinis dalam hal kewarganegaraan mereka, agar mampu melindungi kaum Cina yang tersebar di seantero penjuru dunia.
Langkah Soekarno ini juga sejalan dengan konsep nation-state Indonesia yang ia usung, yakni kehendak untuk bersatu (le dÈsir d’Ítre ensemble – Ernest Renan), rasa senasib sepenanggungan (eine aus Schiksals-gemeinschaft erwachsene Character-gemeinschaft – Otto Bauer) dan rasa persatuan orang dengan buminya (Endang Suryadinata - Jawa Pos, 3/8/2007). Konsep ini terkait erat dengan semangat antikolonialisme Hindia-Belanda dan Jepang serta keinginan untuk menjadi bangsa yang merdeka yang bergelora dikalangan pribumi pada waktu itu.
Sebagai seorang humanis, Soekarno mencoba merangkul para warga keturunan Cina ini sebagai satu kesatuan bangsa Indonesia. Karena sangat jelas ketiga konsep tersebut tidak mungkin ada di kalangan warga keturunan Cina di Indonesia. Walaupun ada mungkin jumlahnya sangat sedikit. Ditambah pula keturunan Cina menerima perlakuan dari pemerintah kolonial Hindia-Belanda, yang berbeda dengan warga pribumi. Bahkan banyak warga keturunan Cina pada masa penjajahan menjadi Tuan Tanah di Indonesia, yang secara tidak langsung menambah berat penderitaan masyarakat Indonesia yang hidup dalam belengggu penjajahan.
Saya menyaksikan secara langsung bagaimana eksklusifitas warga keturunan Cina ini di Surabaya banyak menciptakan antipati dikalangan warga sekitar mereka. Misalnya hanya menggunakan bahasa Mandarin ketika bercakap-cakap dengan sesama mereka, kaum muda mereka yang cenderung hanya bergaul dengan sesama mereka, dll. Dan entah karena apa, saya pun turut berantipati terhadap mereka, terutama membenci eksklusifitas mereka dan merasa jijik karenanya.
Eksklusifitas hanya akan melahirkan kebencian yang berujung pada konflik sosial.
March 4th, 2008 at 10:21 am
Halo Semuanya. ., Senang sekali saya jadi orang pertama yang berkomentar di blog ini. Saya adalah seorang mahasisiwa semester awal yang kuliah di salah satu universitas swasta di Surabaya. Saya adalah seorang pribumi campuran Flores-Jawa yang lahir serta tinggal di Surabaya sampai sekarang. Dalam kehidupan sehari-hari, saya sering bergaul dengan banyak teman dari kalangan suku dan ras yang berbeda, dan tidak sedikit pula dari kalangan tionghoa. Sejauh ini, tidak terjadi apa-apa dengan hubungan pertemanan saya dengan mereka( warga tionghoa ), bahkan tidak sedikit dari mereka yang menjadi sahabat terbaik saya.
Yang menjadi masalah adalah, disadari atau tidak, masih ada dikriminasi di negeri ini. Dan yang menjadi korban adalah kaum minoritas. Kurang adanya sikap saling menghormati terhadap perbedaan yang ada. Padahal negeri ini dilahirkan dari banyaknya perbedaan, yang pada akhirnya sepakat untuk bersatu. .Semangat persatuan inilah yang harus senantiasa kita pelihara, untuk mewujudkan Kehidupan Berbangsa yang lebih baik. HIDUP INDONESIA!!!!!!!!!!!!!!!!
March 29th, 2008 at 2:25 am
Jujur saja saya masih merasa asing dengan orang-orang keturunan tiong hoa…..memang saya ga bisa membuat statement bahwa tionghoa itu eksklusif, Tapi kalo kita lihat pada kenyataannya kita melihat ” mereka eksklusif” Tetapi .Itu menurut dugaan saya saja. Saya pikir kita sama-sama “mengeksklusifkan diri satu sama lain”