Taj Mahal, Monumen Cinta?
Shah Jahan membangunnya sebagai kenangan terhadap mendiang permaisurinya, Muntaz Mahal. Berdiri megah menjulang bertahtakan arsitektur nan indah ini terletak di kota Agra, Uttar Pradesh, India. Taj Mahal, begitu ia dikenal. Bangunan marmer serba putih ini, kini dikenang sebagai, sesuai dengan jargon promosi wisata pemerintah India, monumen perlambang cinta kasih sayang nan tiada tara.
Benarkah itu?
Muntaz Mahal bukanlah satu-satunya wanita yang hadir dalam hidup Shah Jahan. Ia memiliki, seperti kebiasaan para raja di masa dahulu, beberapa orang selir dan juga beberapa perempuan lain yang menjadi selingkuhannya. Bahkan, konon kabarnya, ia berselingkuh dengan putri kandungnya sendiri.
Pembangunan Taj Mahal sendiri dilakukan dengan mengerahkan ribuan pekerjapaksa selama duapuluh tahun, dengan menelan biaya yang amat mahal. Bayangkan saja, harga singgasananya saja pada abad ke-VII ditaksir mencapai lebih dari 6 juta Poundsterling. Dan agar keindahan Taj Mahal ini tidak tersaingi oleh bangunan lain didunia, setelah pembangunannya dirampungkan, konon pula kabarnay, Shah Jahan langsung memenggal kepala arsitek pembangunannya serta memotong tangan para tukang pahat dan tukang batu yang terlibat didalamnya.
Jika kenyataannya seperti itu, masihkah ia layak dipandang sebagai bangunan cinta kasih sayang nan tiada tara?
Bila ditelusuri lagi, naiknya Shah Jahan sebagai raja bukanlah dengan cara yang terhormat. Ia menggulingkan kekuasaan ayahanya sendiri dan lalu memenjarakannya. Ia juga membunuh kakak-kakaknya sendiri guna melapangkan jalannya menuju kekuasaan. Tragedi ini tidak berhenti sampai disini. Shah Jahan sendiri akhirnya digulingkan oleh Aurangzeb, anak kandungnya sendiri! Ia dipenjarakan disebuah bangunan yang letaknya tidak jauh dari kawasan Taj Mahal.
Andaikata ia tidak digulingkan dari tahtanya, ada kemungkinan Shah Jahan akan kembali mewujudkan ambisi megalomaniaknya, yakni merealisasikan rencana pembangunan istana marmer serba hitam, yang akan digunakan sebagai mahamakamnya sendiri, berdampingan dengan Taj Mahal.
Notabene : Tulisan ini dijiplak dari rubrik Kelirumologi di Majalah Intisari yang diasuh oleh Pak Japra (Jaya Suprana). Namun maaf saya lupa kapan persisnya tulisan ini dimuat.
February 15th, 2008 at 10:44 pm
wah ironis sekali cerita di bali taj mahal ini. pasti pemerintahnya tidak mau mengexpose ttg sisi gelap ini. tapi pada umumnya zaman2 dulu memang pake pekerja paksa kok membangun yg monumental begitu misalnya piramid mesir juga tembok china. bagaimana dengan borobudur dan prambanam ya?
February 16th, 2008 at 9:55 pm
dan, sejarah kita memang penuh dg ironi. semua yg besar2 itu selalu lahir dr ketidakmanusiawian, sebenarnya. mungkin tidak hanya taj mahal.
nice article. aku jg baru tau soal ini. cuma referensinya kira2 dr mana ya? harus jelas jg tuh. isinya serem soale.
February 18th, 2008 at 2:37 pm
Konon Pekerja paksa yang dikerahkan mencapai 20 ribu orang. Dan bisa dipastikan semua bangunan megalomaniak, seperti Borobudur dll, pasti membutuhkan tenaga kerja yang ribuan jumlahnya, tapi itu bersifat paksaan, siapa yang tahu?
Sejarah penuh ironi … karena sejarah adalah milik para pemenang. Ini artikel saya tulis kira-kira dua tahun yang lalu. Ada beberapa referensi yang saya dapatkan dengan memakai “google search”. Tapi terus terang pada waktu itu belum ada niatan untuk mencatat referensi alamatnya.
March 1st, 2008 at 12:36 am
terima kasih
October 8th, 2008 at 10:59 pm
aku barusan baca, ada seorang arkeolog India yang berhasil membuktikan bahwa Shah Jahan tidak membangun Taj Mahal, tapi hanya merombaknya. Taj Mahal sebenarnya adalah Kuil untuk pemujaan Dewa Siwa dari Kerajaan Jaipur, yang dikalahkan oleh Shah Jahan. Untuk “menghilangkan jejak peninggalan Hindu”, bangunan kuil lalu dirombak menjadi makam yang megah. Jadi, kematian istrinya sebenarnya hanya digunakan sebagai alasan politik untuk melegalkan kepada dunia, bahwa tidak ada peninggalan Hindu yang diwariskan dari kerajaan Jaipur. Lagipula, bila ia sangat mencintai istrinya, tentu tidak akan berpoligami atau menyimpan harem-harem yang lain. Seorang pria yang mengagungkan cinta tentu juga tidak melakukan cara-cara biadab untuk meraih kekuasaan, seperti membunuh kakak-kakaknya dan memenjarakan ayahnya sendiri.
Kasus-kasus semacam ini juga terjadi di Indonesia, seperti pembangunan makam di pondasi candi yang dihancurkan di Trowulan (Jatim) dan Garut (Jabar), Benteng Indrapuri di atas bekas istana Hindu di Aceh, dan lain-lain.
December 8th, 2008 at 8:27 pm
assalamualaikum wr wb. wah ternyata aku baru tahu, dibalik karya arsitektur yang tinggi dan keindahan yang luar biasa dari taj mahal ada sisi buruknya juga. ini juga bisa jadi pelajaran bagi kita bahwa sesuatu yang indah tidak berarti ada dengan cara yang indah pula,…
December 16th, 2008 at 11:22 am
jahat banget ya dia(shah jahan), tega banget ma keluarga sendiri n para pekerjanya serta arsiteknya….padahal kalo g ada mereka, dia(shah jahan) g akan lahir kedunia ini n g ad yang namanya taj mahal…. raja apa kayak gitu???? ga pantes banget jadi raja…