Maaf, Sekolah Tidak Membuat Kita Menjadi Pintar
Pada dasarnya, kita harus berlapang dada menerima kenyataan bahwa pola kurikulum pendidikan dan metoda belajar-mengajar yang diterapkan di Indonesia, tidak akan pernah membuat kita menjadi PINTAR. Mendekati pun tidak.
Kita juga harus berlapang dada menerima realita bahwasanya penerapan kurikulum pendidikan yang ada selama ini tidak dilandasi oleh suatu konsep filosofi pendidikan yang paten, melainkan lebih didasari pada logika politik untuk menyatakan eksistensi seorang kader partai. Kita tidak mungkin menyebut perubahan kurikulum yang selalu terjadi pada setiap pergantian Menteri Pendidikan sebagai suatu bentuk dinamis karena terkadang perubahan itu hanya berjalan ditempat. Dan walaupun terjadi perubahan, namun perubahan itu dilakukan tanpa tujuan pasti serta tidak dilakukan secara berjenjang. Sehingga praktek dilapangan, para guru dan siswa kesulitan untuk mengadopsi kurikulum baru tersebut.
Belum lagi, fakta kita harus tunduk pada prinsip bahwa GURU ADALAH TUHAN. Oleh karena itu, Guru selalu benar; Guru tidak pernah salah.
Akibatnya, walau kita telah 12 tahun menimba ilmu dari sekolah dasar hingga ke sekolah menengah atas, terutama karena kurikulum yang selalu berubah-ubah, ketika memasuki bangku perguruan tinggi, kita masihlah tetap ORANG BODOH. Setelah melewati fase perkuliahan Strata-1, saat itu kita hanya menjadi ORANG yang AGAK BODOH. Kemudian, bila kita melanjutkan ke Strata-2, setelah menamatkan jenjang Magister kita hanya menjadi ORANG yang SEDIKIT BODOH. Apabila melanjutkan ke Strata-3, setelah menyelesaikan studi doktoral kita, saat itu kita baru menjadi ORANG yang SEDIKIT. Kecuali bila kita memiliki kecerdasan diatas rata-rata, misalnya 123 seperti saya
, setelah menamatkan studi doktoral, kita mungkin bisa menjadi ORANG yang AGAK PINTAR.
Memang seperti itulah kenyataan ironis yang ada terkait masalah pendidikan di Indonesia.
Lalu kapan kita akan menjadi ORANG PINTAR? Untuk menjadi orang pintar kita tidak memerlukan sekolah. Cukup dengan sedikit rapalan mantra jampi-jampi, tapa semadi, sedikit ilmu kanuragan, pakaian serba hitam, serta kumis, cambang dan jenggot yang sedikit lebat, niscaya anda akan disebut ORANG PINTAR. Tapi ini tidak berlaku menyeluruh, sebab meskipun ia disebut ORANG PINTAR, orang-orang tidak pernah memanggil Ki Joko Bodo sebagai Ki Joko Pintar. Dengan jalan pintas, untuk menjadi ORANG PINTAR kita hanya perlu minum TOLAK ANGIN.
Tapi kapan kita bisa menjadi PINTAR? KITA AKAN MENJADI PINTAR APABILA KITA MAU BELAJAR. Seorang THOMAS ALFA EDISON tidak perlu tamat sekolah dasar untuk menemukan Bohlam Lampu dan Pita Rekaman. Seorang Megawati pun tidak perlu menamatkan pendidikan Strata-1 untuk menjadi seorang presiden. 1
Sekolah tidak pernah menjanjikan kepintaran, raihan impian cita-cita ataupun harapan akan perubahan hidup. Namun sekolah hanya menjanjikan sebuah proses untuk meraih kesemuanya itu. Dan untuk bergelut dalam proses tersebut, tidak ada jalan lain bagi kita kecuali BELAJAR dan BELAJAR. Sekolah, dalam arti formal, terbatas pada ruang, gerak dan waktu. Tapi BELAJAR tidak terbatas oleh apapun. Kapan dan dimanapun kita bisa BELAJAR, selama kita mau melakukannya.
Notabene : sebuah ungkapan kasih sayang untuk seorang adik, yang memilih untuk drop-out dari perkuliahan Teknik Elektro Universitas Udayana, gara-gara seorang dosen yang, entah kenapa memiliki sentimen pribadi terhadap keluarga kami.
1 Konon, tekanan politiklah yang membuat Megawati Soekarnoputri tidak pernah menamatkan kuliah Strata-1-nya, baik di Fakultas Kedokteran maupun Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
March 6th, 2008 at 3:23 am
oke bgt artikel anda, tpi mas kita juga harus tetap menghargai pemerintah yang telah bersusah payah menyelkengarakan pendidikan di negeri kita. dan yang jelas walau bagaimanapun guru juga patut kita beri penghargaan yang tinggi.
March 6th, 2008 at 10:13 am
Minum berapa banyak tolak angin Put…. ?
March 6th, 2008 at 9:04 pm
sekolah hanyalah rutinitas formal yg mesti dijalankan
March 10th, 2008 at 1:11 pm
mungkin pemerintah memang sudah sepantasnya dihargai karena selalu berupaya menciptakan sistem pendidikan yang pas untuk negara kita. tapi mohon nasib guru dan siswa juga harus diperhatikan, apakah mereka sudah siap menerima sistem pendidikan yang baru atau belum.
March 10th, 2008 at 1:49 pm
Separah itukah?….
Note : wah masih adakah dosen jaman sekarang yang sekeji itu?
March 12th, 2008 at 4:43 pm
Pemerintah bersusah payah menyelenggarakan pendidikan di negara ini
Didunia ini selalu ada 2 hal yang bertentangan. Saya tidak membutakan mata untuk menghormati semua guru. Karena terkadang mereka tidak paham dengan tugas mereka. Seandainya mereka paham, tentu saja sekolah-sekolah dipedalaman Indonesia tidak kekurangan tenaga pendidik. Tidak dengan alasan apapun, mereka boleh meninggalkan tugas mereka sebagai seorang guru. Walau hal ini lebih bersifat lingkaran setan belaka.
Pemerintah bersusah payah untuk memikirkan bagaimana caranya dana pendidikan bisa dikorupsi, itu baru saya setuju.
Kira-kira setengah kardus. Sepertinya saya tidak menghargai anda yang jadi juragan obat. Harusnya saya minta obat langsung kepada anda.
Ya terkadang hanya sekadar formalitas belaka.
Sebelum nasib guru dan siswa diperhatikan, maka tak perlu ada penghargaan apapun pada pemerintah.
July 11th, 2008 at 10:53 am
1. kalau saat ini kita merasa benar dengan apa yang kita raih. ” yang di mimpikaN sejak balita”
yg igin jd presiden tercapai, ingin jadi DPR tercapai, dll, maka sudah benar sistm penddkan di Ngara ini..!!!!!!!!
2. kalau yang no1 tidak benar dengan keadaan anda ???????? tau deh
3. buat poling
tambahan bpk nur wahid saya kira tidak ada cita2 untuk mjd sprt saat ini
yg baca jgn emosi
yang buat kurikulum minta jatah lagi
yang sakit hati sekolah belum mari
yang gak gerti tanggung jWb P. mentri
July 15th, 2008 at 4:09 pm
SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA BERJALAN SEMBERAWUT SEPERTI “BENANG KUSUT”.
August 4th, 2008 at 2:43 pm
Maaf,sungguh tidak bermoral yang mengungkapkan dan mempunyai pemikiran seperti itu.Saya bingung???Sebenernya faktor apa sih yang membuat anda berpikiran seperti itu.Apa karna apa yang anda impikan tidak terwujud???jadi anda mempengaruhi semua orang untuk menjadi orang yang kalah dalam mewujudkan impian dan cita-cita,saya yakin 100% hanya orang bodoh yang dapat terpengaruh.
yang saya nggak habis pikir,anda dapet ide konyol itu dari mana???Apakah itu adalah bisikan dari setan..?maaf,jika saya berpikir seperti itu..!!!!!
karena kebanyakan orang yang mudah putus asa sering berpikiran yang ngawur……
maaf,sebelumnya.saya hanya ingin anda sadar akan pemikiran anda yang dapat menghancurkan bangsa Indonesia.
Sekian.
August 8th, 2008 at 5:05 pm
Maaf ungkapan pemikiran yang mana yang anda maksud tidak bermoral?
Sekolah memang tidak mencetak orang untuk menjadi pintar. Untuk menjadi pintar kita harus belajar. Coba saja sekolahkan anak anda, tapi jangan disuruh belajar. Apakah anda yakin ia bisa pintar?
Ternyata orang bodohnya itu adalah anda ….
August 21st, 2008 at 1:32 pm
Okey…,saya akui 1/2 dari apa yang anda ungkapkan itu benar.
Tapi,apakah anda tidak berfikir…,jika kita hanya belajar saja tanpa adanya guru atau pembimbing yang dapat membantu saat kita kesulitan menyelesaikan suatu yang kita pelajari lalu siapa yang akan membantu kita??Apakah kita cukup datang kerumah anda dan membeli ramuan anda..?lalu,proses belajar kita berjalan lancar…????
Oya..,Memangnya apa saja yang terkandung dalam “TOLAK ANGIN” yang anda anggap dapat membuat kita pintar..???(buktikan bila memang anda merasa benar)
Maaf,jujur saya TIDAK MEMBUTUHKAN RAMUAN “TOLAK ANGIN ” ANDA, KARNA SAYA TIDAK MASUK ANGIN.
Dasar pemikiran yang konyol…………!!!!!!
September 12th, 2008 at 4:52 pm
Sekolah mengubah pola pikir, kehidupan memberikan kebenaran tentang prinsip hidup dan korelasinya. tp “if you want to be rich don’t go to school (Robert T. kiyosaki)” itu lain lagi lebih bersifat materi (bukan kebenaran hidup keseluruhan). Ok.
November 30th, 2008 at 1:39 pm
ciri belajar adalah adanya perubahan.tempat belajar adalah ruang yang menyediakan sumber belajar.tanpa guru si belajar pun masih bisa mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan. tapi dengan guru akan lebih terarahkan karena keberhasilan tidak hanya aspek kuantitatif tapi juga kualitatif.terukur melalui komparasi dan evaluasi.guru adalah wakil.maka guru yang baik sebaiknya juga benar.pengabdian guru meski sekecil atom tetaplah suatu produk yang harus dihargai meski cuma dgn trm kasih.sedangkan pendidikan dan stake holder yang diberi amanah tetaplah sebagian faktor keberhasilan siswa tuk mencapai tujuan.seberapapun implikasi dari kebijakan tetaplah menjadi bahan pembelajaran sesungguhnya.dan segala sesuatu pantas mendapat penghargaan sebagai konsekuensi.dan sepantasnya eksistensi guru diakui karena tiap diri pribadi adalah guru jua sedemikan sehingga tiap AKu akanmempertahankan eksistensinya.