Ode Untuk Jiwa Merdeka

Monday, 3 March 2008

Minggu sore, 10 Februari 2008, di Popo Danes Art Cafe, Denpasar.

Dipanggung berdiri seorang berbadan tambun dengan kepala botak yang mengilat, berceloteh tentang teriakan serak jiwa-jiwa yang sepenuhnya rindu untuk menikmati kemerdekaannya sebagai manusia, ditengah negeri merdeka yang tak pernah ingin sedikitpun membiarkan bangsanya berdiri tegak dengan gagah sebagai manusia merdeka dihadapan bangsa-bangsa lain didunia. Kerinduan atas ekstase kemerdekaan yang membuat kita selama ini tak lebih ibarat seorang bocah remaja yang berkhayal dalam fantasinya yang paling liar untuk mereguk kenikmatan birahi dalam onani-nya.

Bermula dari keinginan untuk melakukan gerakan anti terhadap segala upaya untuk mewujudkan satu tatanan yang mengikat jiwa-jiwa manusia agar tunduk menyalahi kodratinya yang terlahir tanpa sehelai kain menutup tubuhnya. Dan atas nama segala Tirani Mayoritas dari Demokrasi, yang berlindung dibalik topeng “Vox Vopulli Vox Dei”, maka terkutuklah segala keinginan dan usaha untuk menyeret bocah-bocah bertelanjang badan kedalam bui penjara dengan jerat Undang-undang Pornografi dan Pornoaksi.

Kepada mereka, tangan kiri mengacung erat mengepal, “Hanya ada satu kata, LAWAN!”.

Ditelinga terdengar Isiah Berlin membisikkan dalil “kemerdekaan negatif”-nya. Satu-satunya agen yang paling mungkin untuk membatasi kemerdekaan individu adalah pemerintah. Oleh karenanya, dengan segala adab dan budi kita sebagai manusia, arahkanlah mata dan telinga kita untuk mengawasi semua gerak-gerik keputusan dan kebijakan pemeritah, untuk diteriakkan lewat mulut kita bilamana ada satu coreng menyimpang dari awalnya. Sebab itu adalah swa-dharma kita sebagai anak manusia yang terlahir dan menyusu pada ibu pertiwi, untuk kemudian terbujur kaku berkalang tanah dalam dekapnya.

Hembuskanlah selalu kedalam telinga-telinga mereka, segala bisikan tentang sajak kerinduan jiwa yang ingin merdeka. Segala do’a dan pinta terucap, semoga bisikan-bisikan ini menjadi angin yang akan membawa perubahan pada negeri ini kelak dikemudian hari. Dan terberkatilah mereka-mereka yang selama ini tak kenal lelah untuk membisikkan itu pada mereka-mereka yang rindu atas jiwa yang merdeka.

Notabene : Sebuah ode untuk jiwamerdeka.blogspot.com

Ada 1 komentar untuk “Ode Untuk Jiwa Merdeka”

  1. devari berujar:

    skrinsyuut nya mana? ;)

Beri komentar