Antara kejeniusan dan kegilaan

Tuesday, 22 April 2008

Kata Albert Einstein, jenius adalah menemukan suatu pemahaman melalui metode pencarian yang berbeda.

Saya tahu, saya bukan orang jenius, mendekati pun tidak. Namun saya selalu berangan-angan menjadi orang jenius, jika tidak anak-anak dan cucu-cucu saya harus jenius. Oleh karena itu saya mempersiapkan beberapa nama untuk anak-anak saya, misalnya Alvin Taruna Pandunagari, Topan Dairo Adiguna atau Arbi Jaka Sanathadharma.

Kata psikolog, jenius dan gila merupakan satu hal yang sulit untuk terpisahkan dalam diri manusia. Karena kejeniusan yang dimiliki, terkadang apapun yang dipikirkan dan dikatakan oleh tersebut dianggap suatu kegilaan bagi masyarakat lain di sekitarnya.

Benar saya tidak jenius, tapi banyak teman-teman saya menyebut saya gila. Saya tidak pernah tahu, kenapa mereka menyebut saya gila. Mungkinkah karena saya jenius atau saya memang benar-benar gila alias kurang waras.

Sisi negatifnya, mungkin orang lain akan menjauhi saya, karena takut tertular kegilaan saya. Padahal menurut ilmu kedokteran, gila bukan merupakan penyakit menular, melainkan lebih pada terganggunya mental psikis seseorang karena adanya tekanan-tekanan tertentu dalam hidupnya.

Sisi positifnya, karena saya gila atau bahasa hukumnya sedang terganggu kesehatan jiwanya, berarti saya sedang berada dalam pengampuan. Karena saya berada di bawah pengampuan, maka segala perbuatan yang saya lakukan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Akibatnya, jika saya mencaci, mencemarkan nama baik, memfitnah, atau membuat kabar tidak benar lainnya, dalam setiap tulisan saya disini, maka secara hukum tidak dapat menuntut saya di pengadilan.

Jadi apapun yang saya tulis disini, adalah benar-benar karena pengaruh kegilaan saya. Bila anda membaca tulisan saya, membenarkannya dan bahkan mengaguminya, saya curiga, jangan-jangan anda juga orang gila seperti saya. :mrgreen:

Ada 5 komentar untuk “Antara kejeniusan dan kegilaan”

  1. anton berujar:

    om, namanya asik2 tuh. tp kok malah ga keliatan langsung cerdasnya. enakan sekalian yg jelas: anakku cerdik pandai, misalnya. :D

  2. yovie and nuno berujar:

    saya tidak memuji. :grin:

    bagi saya “gila” masih bermakna ambigu. contohnya, gila belajar, gila kekayaan, gila kearifan. dari kosa kata tersebut kita tidak tau akan mengarah ke hal negatif atau positif. sekilas kita dapat memaknai kata kalau “gila belajar” itu cenderung positif… tapi kalau ditambahi kata menjadi kalimat tertentu misalnya. kata tersebut kemungkinan makna “GILA” tersebut akan berubah…

    (saya mengakui, mas putu memang hebat dalam bidang tulis menulis… belajar dimana mas!!!! kok bisa :idea: :idea: :idea: )

  3. Puisi Cinta AB berujar:

    Gila adalah 5% bakat + 95 % kerja keras untuk Gila. He..he..he..

    Sepertinya Mas Meonx sedang berusaha keras untuk menjaga konsistensi kegilaannya. Minimal, jika tidak bisa dijaga sepanjang masa, anak-anak atau cucu-cucu Mas Meonx wajib untuk GILA. Begitu yah maksudnya?

  4. meonx berujar:

    :arrow: Anton
    Terlalu terus-terang. Sedikit disamarkan biar orang sedikit mikir. :mrgreen:

    :arrow: Yovie Nuno
    Belajar menulis dari Alm. Harry Roesli. Tapi prakteknya lebih dikarenakan tidak memasang iklan di blog ini.

    :arrow: Anggrek Biru
    Penyakit menurun kukira.

  5. yovienuno.cn berujar:

    hehehe… sori mas meonx, maksud hati giklan. 100 persen usaha, 50% doa, 50% iklan… total kesuksesan berarti 200% :)

Beri komentar