Dan Damai di Hati

Monday, 28 April 2008

Hidup selalu mengalami siklus. Ketika siklus itu bergulir, selalu ada gejala-gejala sosial tertentu yang menjadi fenomena dan menjadi gaya hidup alias trend, yang memberi warna di sepanjang lajunya. Kita masih ingat, pada tahun 70-an ada trend celana cut-bray, akhir 80-an ada trend petrus (penembakan misterius), kemudian dekade 90-an awal ada demam sepeda, disusul trend orang hilang pada saat reformasi bergulir, lalu ada trend sars dan flu burung, trend markus (makelar kasus) terakhir kita dengar ada trend bencana alam yang melanda kepulauan Indonesia. Bahkan teror pun sempat menjadi trend.

Kehidupan beragama pun mengalami gejala ini. Saat ini perkembangan sampradaya-sampradaya Hindu di Indonesia menjadi sebuah gejala sosial dalam masyarakat Hindu. Sisi positif yang bisa kita peroleh, bahwa kesadaran minat masyarakat untuk mendalami ajaran Hindu makin berkembang.

Namun kata pepatah, di manapun Rwa Bhineda itu pasti ada. Berbicara masalah keyakinan, selalu akan berujung pada believe it or not. Telur ayam tidak selalu menetas, menjadi anak ayam. Terkadang ia berakhir di kuali, menjadi telur dadar, atau bahkan terkadang berakhir di wajah seorang politisi yang di-persona non grata-kan oleh masyarakat.

Suatu hari seorang teman pernah bercerita, sebut saja namanya Tantri, bahwa ia tidak berani pulang karena seorang ”misionaris” sampradaya berkunjung ke rumahnya. Bahkan ia selalu berpura-pura tidak ada di rumahnya jika si ”misonaris” tersebut menelepon. Jika ada slogan ”say no to drugs” untuk kampanye anti penggunaan narkoba, mungkin ini slogan baru, ”say no to sampradaya”.

Mungkin terlalu dini untuk menyebut hal ini sebagai gejala sosial. Tapi apa yang salah dengan sampradaya-sampradaya tersebut? Apa yang menyebabkan masyarakat alergi terhadap sampradaya-sampradaya tersebut? Walaupun teramat tidak etis untuk tidak menyebut apa yang kita yakini terhadap ajaran Hindu juga merupakan salah satu bentuk sampradaya, namun sampradaya yang saya maksud disini adalah bentuk apapun yang dipandang sebagai sampradaya saat ini di Indonesia.

Kata Hegel, untuk mencari sintesa, kita terlebih dahulu harus menemukan tesa dan antitesa-nya. Dalam beberapa pembicaraan dengan kawan-kawan yang mengidap penyakit yang sama dengan Tantri, saya menemukan kecenderungan bahwa sikap antipati ini disebabkan oleh beberapa pemikiran-pemikiran dari kawan-kawan sampradaya yang terlalu provokatif dan bahkan sering memojokkan beberapa sisi religi yang mereka jalani selama ini dengan cara yang ekstrim.
Begitu luasnya kandungan nilai-nilai religi yang terdapat dalam Hindu sehingga dalam menginterpretasikannya diserahkan pada masing-masing individu, kembali lagi, believe it or not. Masalah agama, adalah masalah hubungan antara manusia dengan Tuhan. Memang dibutuhkan sebuah bimbingan dan renungan dalam meresapi nilai-nilai ajaran Hindu, namun apakah ini harus dilakukan dalam bentuk paksaan atau seperti yang dilakukan oleh salah satu sampradaya terhadap Tantri dan kawan-kawan, ini yang harus dipertanyakan. Apakah Hindu itu sebuah agama misi?

Coba kita berkaca pada novel ”Dan Damai di Bumi!”, karya Karl May. Dengan setting cerita pada masa invasi misionaris-misionaris Kristen ke dunia timur, May coba mengajak kita untuk merenungkan kembali sikap fanatisme dalam kehidupan beragama kita. Interaksi yang terjalin antara May yang Kristen, Seijjid Omar yang muslim, Tsi dan pamannya yang konfusianis, dan Waller sang misionaris dan Marry putrinya , di awal cerita, sungguh memberikan cerminan terhadap sikap fanatisme dalam kehidupan keagamaan kita. Di akhir cerita mereka tetap pada keyakinan masing-masing, namun bersatu dalam ”Shen”, demi terciptanya perdamaian dunia.

Kutipan puisi May dalam novel tersebut, mungkin dapat kita renungkan maknanya :

Bawalah warta gembira ke seantero dunia
Tetapi tanpa mengangkat pedang tombak,
Dan jika engkau bertemu rumah-ibadah,
Jadikanlah ia perlambang damai antarumat,

Berilah yang engkau bawa, tetapi bawalah kasih semata,
Segala hal yang lain tinggalkan di rumah.
Justru karena ia pernah berkorban nyawa,
Melalui dirimu kini ia mengasihi selamanya.

Bawalah warta gembira ke seantero dunia
Hayati dan sebarkanlah tanpa ragu
Jadikanlah dunia sebagai rumah- ibadah
Tempat ajaranNya berkumandang merdu

Berikanlah kasih-sayang semata-mata
Agar denyutnya mengalir ke semua negara
Maka dunia ’kan menjadi rumahNya
Dan kembali menjelma sebagai Taman Firdaus!

Sejatinya puisi lebih ditujukan pada misionaris-misionaris Kristen pada saat itu. Ini dapat kita lihat baris ketiga, bait kedua puisi di atas, yang berbunyi ”justru karena ia pernah berkorban nyawa”, siapa lagi dia, jika bukan Yesus Kristus sang Mesiah. Bagaimana jika May seorang Hindu dan masih hidup pada saat ini. Mungkin saja puisi ini akan ditujukan pada ”misionaris-misionaris” sampradaya.

Namun terlepas dari semua itu, satu pesan moral yang hendak disampaikan May dalam novel ini, patut kita cermati. Bahwa apapun bentuk keyakinan kita terhadap agama kita (dalam hal ini Hindu), haruslah dapat membuat kita bersatu demi mewujudkan kedamaian (santhi), baik di hati maupun di bumi. Walaupun untuk menciptakan kedamaian di bumi sangat susah, setidaknya tercipta kedamaian di hati. Kedamaian di hati umat Hindu yang resah terhadap keberadaan sampradaya di Indonesia.

Dan sudah seharusnyalah kita berkaca pada sejarah Kristen di masa lalu yang berawal dari terbentuknya ordo-ordo seperti Benediktin, Fransiskan dan sebagainya, kemudian ”terpecah” menjadi Kristen Katolik, Protestan, Ortodoks Syria dan lain-lain. Islam sepeninggal Muhammad, yang ”terbagi” dalam dua mainstream besar, Suni dan Syiah. Lihat pula bagaimana mereka ”terpecah” hingga menciptakan mazhab-mazhab seperti Wahabi, Salafi, Hanafi, dan masih banyak yang lainnya. Bagaimana ajaran Budha ”terpecah” menjadi Mahayana, Hinayana, Nichiren Sosyu, Sangha Teravada, dan lain-lain. Lihat pula sejarah Empu Kuturan menyatukan umat Hindu di Bali lewat konsep Kahyangan Tiga-nya.

Satu pertanyaan yang dapat saya ajukan disini kepada para kompatirot saya yang seagama yang terhormat, apakah kita hendak membiarkan Hindu mengalami perpecahan?

Ada 2 komentar untuk “Dan Damai di Hati”

  1. Wayan Budi berujar:

    Agak aneh saya denger istilah misionaris sampradaya he he :), menurut saya Tantri harusnya tidak menghindar, justru menghadapinya, hanya saja kita jg perlu pendalaman thd ajaran leluhur kita. Hindu janganlah sampai terpecah-pecah dan juga tidak perlu penyeragaman spt agama tetangga. Justru keistimewaan Hindu terletak pada keragaman tsb, spt bunga yg warna-warni disebuah taman pastilah lebih indah daripada bunga yg seragam, iya kan? orang-orang sampradaya perlu jg instropeksi diri, bahwa hanya Tuhan-lah yg tahu tingkat spiritual seseorang. Selalu saya katakan bahwa belum tentu sekali orang2 sampradaya mempunyai tingkat spiritual yg lebih tinggi, silahkan saja ingin mengembangkan ajarannya melalui penerbitan buku-buku dan dipajang di toko buku, bukan melalui cara-cara misionaris. Orang-orang nantinya otomatis bergerak dan berproses melakukan sadhana/bhaktinya kepada Tuhan sesuai dgn tingkat kesadaran dirinya masing-masing. Semoga pikiran baik datang dari segala arah. Suksma.

  2. Tude berujar:

    jawaban saya ada pada Marketing Hindu :idea:

Beri komentar