Perempuan; Dalam Manifestasi Tuhan

Friday, 25 April 2008

God is a girl
Whatever you want
Do you belive it
Can you receive it … …

Kutipan lirik lagu God is a Girl, milik duo perempuan bernama T.a.T.u., mungkin bagi sebagai orang akan dianggap naif atau hanya sebagai ungkapan frustasi perempuan atas hegemoni kaum lelaki. Bahkan jika duo ini mengadakan konser di Indonesia, mungkin saja kedatangan mereka akan mengundang reaksi negatif (baca : cekal) dari lembaga yang bukannya mengurusi umatnya tapi lebih banyak mengurusi sertifikasi makanan dan para penontonnya mungkin saja di-sweping oleh kelompok preman berjanggut yang mengaku dirinya laskar Tuhan, yang beberapa waktu juga melakukan pencekalan terhadap sebuah band papan atas. Mungkin juga tulisan ini, jika sampai dibaca oleh mereka, akan dicekal juga.

Benarkah Tuhan itu seorang perempuan? Ataukah Ia seorang laki-laki? Atau Beliau seorang banci? Mungkinkah ia seorang kulit putih? Atau ia seorang negro seperti Morgan Freeman dalam film Bruce Almighty?

Coba kita bertanya pada teman-teman kita yang beragama Hindu tentang siapa Durgha, Saraswati dan Sri, tentu akan dijawab mereka adalah manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Berarti Tuhan itu seorang perempuan donk! Nanti dulu, ketiganya dikenal dengan nama Tri Sakti (bukan nama kampus lho), dan keberadaan mereka adalah sebagai pendamping dari Tri Murti (ini juga bukan nama sekolah SMU di Surabaya). Coba diberi penekanan pada kata “pendamping”, tentunya akan terlihat sebagai sebuah arogansi laki-laki. Mungkin ini karena keterbasan kita sebagai manusia dalam mengharfiahkan fungsi kedua-duanya, padahal Tuhan itu satu, tidak ada duanya dan para bijak menyebutnya dengan berbagai nama.

Tapi jika kita lihat dari sisi fungsi dari kedua model manifestasi Tuhan diatas, akan terlihat keistimewaan dari perempuan itu sendiri. Brahma bertugas sebagai Pencipta, Wisnu sebagai Pemelihara dan Siwa bertugas sebagai Pelebur, ketiganya disebut sebagai Tri Murti. Sedangkan Saraswati adalah sumber dari ilmu pengetahuan, Sri adalah pembawa kesuburan dan kemakmuran dan Durgha adalah sumber dari segala kekuatan. Mungkin kaum maskulin akan berkata “kami adalah sumber dari kehidupan”, tapi perempuan memberikan mereka jiwa dan spirit yang terpancar dari belaian kasih sayangnya.

Bagaimana jika setiap makhluk hidup tidak mempunyai pengetahuan, bagaimana jika setiap makhluk hidup tidak memiliki kekuatan dalam menjalani kehidupannya dan bagaimana pula jika setiap makhluk hidup tidak mendapat kesuburan dan kemakmuran dunia?

Berkaca pada teori evolusi Darwin, yang dulunya sangat ditentang oleh sebuah lembaga agama yang sekaligus merupakan sebuah negara kecil, yang selalu ingin mengatur seluruh tatanan hidup para pemeluknya, bahwa setiap makhluk hidup berevolusi sebagai akibat dari pengetahuan dan kekuatan yang mereka miliki untuk berevolusi untuk dapat bertahan hidup dan berkembang-biak seperti apa yang kita lihat sekarang. Seekor Cheetah bisa menjadi hewan pemburu tercepat di darat karena kemampuannya untuk mengembangkan teknik berburunya. Demikian pula manusia, yang dulunya pernah setara dengan kehidupan primata, dengan wajah dan rambut di tubuh yang hampir menyerupai seekor kera, juga mengalami evolusi. Gambaran tentang manusia yang menyerupai kera dalam teori evolusi Darwin inilah yang sangat ditentang oleh lembaga agama tersebut yang bekeyakinan bahwa Adam adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Tuhan.

Tak dapat dipungkiri bahwa ketiga unsur dari Tri Sakti sangat berguna dalam kehidupan makhluk hidup di dunia. Dan ketiga unsur ini mengalir dari rahim seorang ibu dan dari setiap tetesan air susunya. Coba bayangkan jika sejak awal para makhluk hidup feminim tidak ingin mengandung seorang bayi atau tidak mau menyusui bayinya, dapatkah kita berkembang seperti layaknya sekarang ini? Walaupun sekarang ilmu pengetahuan sudah mampu menciptakan inseminasi buatan dan kloning, tapi tetap hal ini berawal dari sana.

Coba kita dengarkan sebuah pepatah lampau, induk harimau (betina) tidak mungkin memakan anaknya sendiri. Ini adalah ejekan buat kaum lelaki. Memang dalam realitas pepatah ini benar adanya, dengan perkecualian jika si induk betina merasa nyawa anaknya terancam, tapi hal ini jarang terjadi. Bagaimana dengan induk jantannya? Seperti biasa arogansi lelaki berlaku juga disini, jika si anak adalah jantan dan si induk jantan merasa kedudukannya sebagai pemimpin terancam maka ia tanpa ragu memakan anaknya sendiri. Hal ini juga berlaku dalam keluarga Berang-berang.

Lalu bagaimana dengan manusia? Tentu kita sudah tak asing lagi dengan berita di koran tentang cerita seorang ayah yang tega memperkosa anak perempuannya sendiri. Mungkin harus belajar banyak pada keluarga kuda laut, dimana dalam setiap proses kelahiran si induk jantan mendapat tugas untuk mengandung setiap telur yang ada. Mungkin banyak yang tidak dapat menerima jika mereka disamakan dengan binatang yang urat katanya berasal dari kata winatang dalam bahasa Sansekerta yang berarti sesuatu yang diburu dengan watang (tombak), tapi jangan lupa juga bahwa kita ini adalah hewan yang berasal dari kata hayawan dalam bahasa Arab yang berarti sesuatu yang memiliki hayat.

Sungguhlah teramat adil sistem pembagian fungsi-fungsi dari Tuhan dalam Hindu yang digambarkan melalui Tri Murti dan Tri Sakti, yang mematahkan kearogansian lelaki dalam setiap kehidupan dunia sekaligus menjawab kesetaraan gender dalam agama Hindu itu sendiri melalui dasar yang sangat prinsipil. Dan bahwa lelaki dan perempuan itu diciptakan untuk saling melengkapi adalah juga benar adanya. Bukankah Tri Murti tidak akan sempurna tanpa adanya Tri Sakti? Dan bukankah sebuah Lingga tidak akan sempurna jika tidak dilengkapi juga dengan sebuah Yoni. Hanya karena kita terpengaruh oleh peradaban yang mengunggulkan arogansi lelaki atas perempuan yang menyebabkan kita sedikit lebih mengunggulkan manifestasi Tuhan sebagai Tri Murti daripada manifestasi dalam Tri Sakti. Bukankah kedua model manifestasi Tuhan tersebut adalah bersumber dari Tuhan itu sendiri. Juga bagaimana ketika menyebut sebuah Lingga-Yoni cukup dengan sebutan Lingga saja, padahal keduanya ada dalam satu tempat yang kita sering sebut cukup sebagai Lingga saja.

Laki-laki hanya tetap berkutat pada kearogansiannya, sedangkan perempuan memberikan sentuhan-sentuhan akal budi, akhlak dan spirit dalam kehidupan serta tidak lupa memberikan nyawa pada setiap kehidupan, yang terkandung dalam setiap tetes air susu yang mengalir darinya. Persis seperti kata sebuah iklan rokok, perempuan itu bikin hidup lebih hidup. Bisa juga ditambahkan, gak ada loe gak rame…

Beri komentar