UNAS yang Menanas

Saturday, 19 April 2008

Nanas, jika kita mendengar kata ini, kita pasti langsung teringat pada suatu buah yang menurut teka-teki dilukiskan sebagai “bersisik bukannya naga, berpayung bukannya raja”. Mendengar kata nanas, kita pasti langsung membayangkan nikmatnya rujak atau dahsyatnya Tequila.

Nanas muda, sebagian orang akan mahfum tentang sebuah mitos jika memakan buah ini merupakan cara menggugurkan kandungan atau bayi yang tidak diharapkan, secara alami.

Menyoal tentang Ujian Nasional (Unas) yang selalu menimbulkan “korban” berupa banyaknya siswa-siswa kelas tiga sekolah menengah atas yang tidak lulus sebagai akibat standar nilai yang ditetapkan, yang menjadi syarat dari kelulusan siswa, tidak terpenuhi. Bahkan terdapat satu sekolah menengah yang keseluruhan siswa kelas tiganya tidak memenuhi syarat tersebut, akibatnya 100% siswa kelas tiga di sekolah tersebut tidak lulus Unas (Bali Post, 19/06/2006). Kejadian seperti ini pernah membuat beberapa siswa dan orang tuanya, didampingi artis Sophia Latjuba, melapor ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

UUD 1945 sebagai hukum tertinggi di Indonesia menegaskan bahwa setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia dan setiap warga negara berhak untuk mendapat pendidikan. Karena pendidikan merupakan hak dasar bagi setiap orang, maka negara sebagai pelindung hak-hak dasar warga negara dan penduduk di wilayahnya adalah organ utama penyelenggaraan pendidikan.

Pasal 35 UU No. 23/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mensyaratkan adanya “kompetensi kelulusan” yang ditetapkan secara nasional. Atas dasar ini, Unas yang sebelumnya bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan kelulusan siswa, dijadikan sebagai proses evaluasi nasional di bidang pendidikan oleh Pemerintah dalam hal ini Depdiknas.

Depdiknas, oleh beberapa pihak terlalu dituding telalu banyak minum Tequila, sehingga kebijakan yang ditetapkan mengenai UNAS ini di anggap sebagai “jurus mabuk”, sebagai akibat ketiadaan standar evaluasi yang seharusnya ditetapkan oleh departemen tersebut.

Ada 3 mata pelajaran yang diujikan dalam UNAS, yakni bahasa Indonesia, matematika, dan bahasa Inggris, dengan standar nilai kelulusan masing-masing adalah empat koma sekian. Jika mengacu pada standar nilai bahwa angka 6 adalah cukup, angka 5 adalah hampir cukup dan angka 4 adalah kurang, maka standar nilai tersebut nyata belum tinggi dalam proses kelulusan siswa. Dapat juga diartikan bahwa beberapa siswa-siswa yang lulus UNAS tersebut memiliki kemampuan Bahasa Indonesia, Matematika dan Bahasa Inggris yang hampir cukup namun masih kurang.

Ini berarti UNAS adalah nanas muda yang nantinya dimakan untuk menggugurkan calon-calon bayi penerus bangsa yang tidak “diharapkan”, dalam arti bayi yang memiliki kemampuan Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Matematika, kurang.
Dengan standar yang rendah pun orang-orang masih protes, apalagi jika nantinya standar tersebut ditingkatkan menjadi 5 atau 6. Akankah kita bangga mempunyai seorang anak yang ternyata memiliki kemampuan rendah di 3 bidang tersebut.

Pendidikan adalah proses di mana manusia berharap semua mimpi yang diidamkan tercapai lewatnya. Ada baiknya juga kita pertimbangkan pendapat dari salah seorang proklamator kita :
Kita harus mengajar para intelektual yang muda-muda, yang pada suatu saat akan menggantikan kita untuk meneruskan cita-cita bangsa ini. Mendidik bangsa ini agar menjadi bangsa yang rasional dan berpengetahuan. Tujuan akhir dari semua ini adalah untuk mewujudkan suatu keadaan dimana diri kita dan kader-kader kita akan menjadi pemikir, pejuang dan pemimpin bagi agama, bangsa dan kemanusiaan. Ini adalah janji kepada tanah air. Ini merupakan soal prinsip. Soal kehormatan suatu bangsa.
Muhammad Hatta.

Ada 2 komentar untuk “UNAS yang Menanas”

  1. wira berujar:

    salam kenal, Ujian Nasional memang masih menjadi pro dan kontra, kasihan juga siswa2 jaman sekarang, kayaknya berat sekali untuk bisa lulus. Padahal kesuksesan di lapangan pekerjaan tidak mutlak ditentukan oleh Ujian Nasional ini.

  2. poyink berujar:

    Pemerintah yang aneh. Lha wong 3 mata uji aja banyak yang gagal lulus, mau ditambah

Beri komentar