Apa kata Freud tentang Kegilaan Ini?

Friday, 23 May 2008

Konon kabarnya pikiran manusia dideskripsikan dalam tiga unsur. Pertama adalah “prinsip kesenangan” atau bisa disebut juga id. Yang kedua adalah realitas. Sedangkan yang terakhir adalah superego.

Ketika masih balita, kita menangis jika tidak mendapatkan susu. Begitu juga ketika kita ingin digendong dan dipeluk oleh ibu. Kita merengek ketika ingin dibelikan mainan atau permen. Jadi semenjak bayi kita telah membawa suatu ego imajiner berbentuk kesenangan dalam diri kita. Dalam istilah Sigmund F, ini disebut sebagai id. Id ini tetap ada dalam diri kita sampai kita tua.

Tapi tidak selamanya apa yang kita inginkan dapat terwujud. Kita ingin dibelikan sepeda, tapi sayang saat itu orangtua kita belum mempunyai cukup uang untuk membelinya. Walaupun kita telah lelah seharian menangis menjerit-jerit, kita tetap bisa mendapatkan sepeda. Fase-fase semacam itu adalah fase kita belajar untuk mengatur keinginan kita akan kesenangan dan menyesuaikannya dengan realita yang ada. Disadari atau tidak, kita mulai mengembangkan ego yang berfungsi sebagai pengatur itu. Kita mungkin menekan semua keinginan-keinginan itu dan menyingkirkannya.

Lalu ada superego. Sejak kecil kita selalu dihadapkan pada berbagai tuntutan moral baik dari orangtua kita maupun masyarakat. “Jangan lakukan itu!”, “Jangan seperti itu!”, dan “Seharusnya kamu begini!”. Sampai tua pun kita akan menghadapi tuntutan moral semacam itu. Seolah-olah harapan moral dunia itu telah menjadi bagian dalam diri kita sendiri. Inilah yang disebut superego. Ego yang berasal dari luar diri kita namun berpengaruh besar terhadap diri kita.

Superego inilah yang memberitahu kita baik dan buruknya serta pantas atau tidaknya keinginan yang kita miliki. Lebih khusus superego ini memelihara apa yang disebut sebagai perasaan bersalah dalam diri kita.

Kembali menurut Sigmund F, kesadaran hanya mengisi sebagian kecil dari pikiran manusia. Kesadaran itu ibarat puncak gunung es yang muncul dipermukaan laut. Dibawah permukaan laut, kita akan menemukan pinggang dan kaki gunung tersebut. Dengan kata lain, dibawah ambang batas kesadaran manusia ada lubuk hati atau bawah sadar.

Dan apa sesungguhnya “bawah sadar” itu? Dalam istilah Pak Sigmund, bawah sadar merupakan berbagai hal yang telah kita tekan dan kita usahakan untuk melupakannya sebab hal-hal tersebut mungkin “tidak pantas”, “tidak menyenangkan”, “menjijikkan” maupun “mengerikan”.

Ketika keinginan atas suatu kesenangan ini berseteru dengan realitas yang ada dan tidak dapat diterima oleh kesadaran kita, maka superego akan membuang jauh-jauh keinginan itu dari pikiran kita. Mungkin kata yang lebih tepat adalah memendamnya dalam-dalam, sebab kita tidak mungkin membuang sesuatu keluar dari pikiran kita seperti halnya kita membuang sampah. Sewaktu-waktu keinginan semacam itu akan menemukan jalan tersendiri untuk muncul kembali dari pikiran kita.

Dan apa kira-kira yang akan terjadi keinginan-keinginan semacam itu banyak terpendam dalam pikiran kita sementara kita terus-menerus berusaha menekannya semakin keras agar ia tidak kembali? Dalam porsi ringan, kita tanpa sadar mungkin mengatakan atau melakukan sesuatu hal yang sebenarnya tidak kita niatkan. Dalam porsi yang lebih berat, maka datanglah penyakit seperti yang saya derita ini. GILA, SINTING, GENDENG, EDAN, SEDENG, dan KURANG WARAS. 1

Seperti yang telah saya katakan dalam tulisan sebelumnya, bahwa banyak kawan saya, dan mungkin juga anda, menganggap saya ini GILA. Tentu saja saya menerima saja apa yang mereka katakan dengan sedikit nada ironi dalam hati. Ya, tentu saja ada sedikit ironi berkecamuk. Apa pasalnya?

Pertama-tama saya akan bertanya pada anda, apakah anda ORANG GILA? Jika anda menjawab bukan atau tidak, silahkan lanjutkan membaca tulisan dibawah ini.

Saya, dan mungkin juga anda, pastilah pernah sesekali atau beberapa kali bertemu dengan orang GILA yang berkata bahwa dirinya bukan orang GILA. Jika anda memiliki sedikit keisengan, cobalah bertanya pada ORANG GILA, apakah dia GILA? Saya yakin, ia akan menjawab bahwa ia bukan ORANG GILA.

Jadi kesimpulan yang bisa didapat disini adalah tiap-tiap ORANG GILA tidak pernah mengakui bahwa dirinya GILA. Bila ada orang berkata bahwa dirinya GILA, sesungguhnya ia bukanlah ORANG GILA. Namun sebaliknya, bila ada orang yang ditanya apakah dirinya GILA dan menjawab bahwa ia bukan ORANG GILA, dapat dipastikan bahwa ia adalah ORANG GILA.

Jadi siapakah yang sesungguhnya GILA? Saya ataukah anda?

Notabene :
1 Disini titik perhentian pesan buat pasangan Pakar Gendam dan Mitha. Agar keponakan saya dapat dijaga dengan baik oleh mereka supaya kelak tidak menjadi gila seperti pamannya ini.
Boleh juga untuk pasangan Anton Mujahir dan Lode Gurami, bila mereka mengakui saya sebagai paman dari anaknya.

Beri komentar