Hipnotis dan Penipuan
Hari rabu, tanggal 21 Mei 2008, kemarin saya pulang kekampung halaman di Padangbai. Walau terpaksa harus membolos dari kantor. Keesokan harinya, hari kamis, kami sekeluarga berencana pergi ke Nusa Penida untuk bersembahyang di Pura Penataran Ped. Kebetulan juga hari kamis itu adalah hari otonan (hari kelahiran berdasarkan weton) saya.
Kami terpaksa membatalkan rencana kepergian kami karena tidak ada satu pun speedboat yang mau berangkat hari itu, walau ada banyak penumpang yang juga memiliki tujuan sama dengan kami. Ini disebabkan oleh kencangnya angin yang berhembus dan kondisi ombak dilaut yang tidak bersahabat.
Sekitar jam 12.30 siang, tak ada pilihan lain bagi saya untuk memejamkan mata dan tertidur. Kemudian sekitar jam 5.00 sore, saya dibangunkan oleh sepupu saya. Ada orang beli pulsa ditoko sebesar Rp. 4 juta, tapi tidak mau bayar! Wow!!! Dengan mata yang masih merah, mirip Kyo, saya berlari ketoko.
“Mas, ayo cepat lunasi uang pembelian pulsanya. Situ mau menipu ya?”
“Demi Allah saya tidak menipu. Ini saya disuruh bos saya untuk membelikan pulsa buat anak-anak buahnya. Ini duitnya ada ditas pinggang saya” katanya sambil memperlihatkan tas pinggangnya yang menggembung.
“Ayo cepat bayar! Kalau tidak saya laporkan polisi!” ancam saya.
“Silahkan saja laporkan ke polisi saya tidak takut! Demi Allah, nanti pasti saya bayar.”
Melihat gelagatnya yang hendak melarikan diri, langsung saya pegang kerah bajunya. Buk! Buk! Dua bogem mentah saya melayang keperutnya. Aneh dia tidak meringis kesakitan, malah tersenyum. Saya rampas tas pinggangnya, sialan, hanya ada selembar uang lima ribuan. Lagi-lagi tinju saya melayang, kali ini kedadanya. Dan tetap saja reaksinya hanya tersenyum. Apa orang ini sudah sinting?
Lalu datang ibu saya bersama dua orang polisi. Dia diringkus, diborgol dan digelandang ke kantor KPPP. Dalam perjalanan kekantor KPPP, saya masih sempat melayangkan bogem saya kemukanya, walau mengakibatkan polisi yang meringkus keduanya membentak saya. Gila, lagi-lagi reaksinya hanya tersenyum.
Dikantor KPPP, orang ini meracau dengan tidak karuan. Saya pikir hanya coba-coba berkelit mencari alasan, berpura-pura menjadi orang gila. Dan yang paling saya benci adalah ketika ia mengulangi perkataan “Demi Allah” berulangkali. Saya tampar pipinya. Adik saya yang perempuan juga ikut menendang kakinya. Hehe… kompak! Ibu saya datang berusaha menenangkan saya
“Jangan pukuli orang itu kasihan. Ia langganan ibu. Mungkin tadi ia dihipnotis lewat handphone. Ibu tadi dengar percakapannya ditelepon, ia dijanjikan hadiah oleh seseorang.”
Kemudian orang itu digelandang keruangan untuk diinterogasi. Pakaiannya dilucuti karena ditakutkan ia membawa jimat, mengingat beberapa pukulan keperutnya hanya dibalas dengan senyuman.. Amarah saya masih tidak tertahan, lalu diam-diam saya masuk keruangan itu. Sambil komat-kamit saya mengucap, “Om Ang Namah, Om Ung Namah, Om Mang Namah”, lalu saya tampar kepalanya. Tidak begitu keras, tapi ternyata cukup efektif menyadarkannya, walau dengan begitu saya diusir dengan kemarahan oleh petugas. Tapi mata saya masih merah, dan polisi-polisi itu tidak berani bertindak lebih pada saya.
Dan usut punya usut, ternyata orang ini memang benar ditipu dan terkena gendam. Ia diiming-imingi hadiah uang tunai sebesar 15 juta ditambah sebuah sepeda motor, Yamaha Vixion. Untuk mencairkan semua hadiah ini, ia harus menransfer sejumlah pulsa kenomor pribadi milik karyawan yang terlibat dalam pemberian hadiah tersebut.
Ia menerima telepon itu dari jam 1 siang, masuk ketoko sekitar jam 3 sore. Telepon tersebut baru terputus sekitar jam 5 sore, itupun karena dirampas oleh adik saya yang perempuan. Dan gendam atau hipnotis itu ternyata dilakukan via handphone. Saya pertama-tama tidak percaya. Tapi dari penjelasan ibu, adik, maupun sepupu saya, mau tidak mau saya percaya.
Harusnya orang ini tidak tertipu untuk membeli pulsa sedemikian banyak, mengingat adik dan ibu saya sudah memperingatkan bahwa ada kemungkinan ia ditipu. Ada banyak orang yang sudah diselamatkan oleh ibu saya dari penipuan hadiah semacam ini. Tapi sayangnya orang ini menolak.
Saya menyesal telah menganiaya orang ini. Maksud hati minta maaf, tapi orang ini malah berterimakasih pada saya karena telah menampar kepalanya. Ia bilang pengaruh gendamnya baru hilang setelah saya tampar kepalanya. Sebelumnya ia mengaku sedikitpun tidak merasa sakit ketika ia dipukuli oleh saya maupun oleh polisi. Dasar orang gila!
Ternyata pengaruh daya gendam atau hipnotis bisa sampai jauh itu? Kenapa ada orang yang tega melakukan hal sekejam itu? Dan semoga damai di bumi.
October 17th, 2008 at 5:24 pm
Memang yang kena hipnotis itu kepalanya bli… jadi dia akan sadar ketika kena tabok kepalanya , hehehe
October 17th, 2008 at 5:25 pm
Memang yang kena hipnotis itu kepalanya bli… jadi dia akan sadar ketika kena tabok kepalanya , hehehe — tapi blm tentu juga deng, yang mantap itu doanya “Ang Ung Mang”,
Jadi, seharusnya bli ngucapin doa itu terus ketika mukul perut, menendang kaki, dan pemukulan2 lainnya
December 19th, 2008 at 1:18 am
Menyikapi tulisan tentang hipnotis di atas, saya ingin menyampaikan bahwa yang diberitakan oleh masyarakat dan media masa sebagai “hipnotis” sebenarnya bukanlah hipnotis. Hipnotis yang sesungguhnya tidak bisa digunakan untuk kejahatan. Hipnotis hanya bisa terjadi apabila seseorang bersedia dihipnotis. Hampir semua yang diberitakan dan dianggap oleh masyarakat sebagai hipnotis sebenarnya hanyalah penipuan, pembiusan, atau perampasan belaka dan tidak mengandung unsur hipnotis. Memang banyak kesalah-pahaman mengenai hal ini, untuk itu saya sudah menulis cukup banyak tentang fakta-fakta hipnotis di http://www.hypnosis45.com. Semoga informasi ini bisa membuat teman-teman paham.