Kenapa Selalu Ada Seremoni?
Pada tulisan saya sebelumnya, saya bercerita tentang kesibukan yang membatasi kegiatan menulis untuk blog ini, yakni pesta pernikahan sepupu saya. Heran, kenapa orang-orang kita selalu menyibukkan diri dengan acara seremonial semacam ini? Kenapa uang yang seharusnya lebih baik ditabung untuk kepentingan masa depan anak-anak mereka kelak, harus dihamburkan demi sebuah pesta?
Apalah artinya sebuah pesta pernikahan yang semarak bila kelak nanti sang mempelai tak mampu untuk menyekolahkan anak-anak mereka kejenjang perguruan tinggi? Apalah artinya sebuah pesta yang meriah bila kelak nanti sang mempelai tak mampu membayar biaya operasi rumah sakit ketika anak-anak mereka sakit?
Saya jadi teringat pada sebuah kisah yang dialami oleh satu pasangan yang ada didesa saya. Dulu ketika mereka menikah, usaha orangtua si suami sedang dalam masa jayanya. Saya ingat, pada upacara pernikahan mereka, ada sekitar 15 ekor babi disembelih untuk dijadikan “Balesan” dan juga makanan suguhan bagi para tamu dan undangan yang datang. Bayangkan saja, untuk daging babi saja mereka menghabiskan sekitar 10 juta rupiah dengan standar harga dimasa itu.
Ditahun 1997, ketika negara ini dilanda krisis moneter, usaha keluarga mereka mengalami kebangkrutan. Saat saya bertemu dengan si suami beberapa waktu lalu, saya bertanya, bagaimana kabar anak-anaknya? Sudah kelas berapa? Dan nanti bila sudah lulus SMU hendak dikuliahkan dimana? Katanya anaknya yang pertama sekarang sudah kelas 1 SMP sekelas dengan adik bungsu saya. Anak yang kedua akan segera menginjak bangku SMP, sedangkan yang ketiga baru kelas 3 SD.
Ya begitulah hidup. Terkadang kita lebih suka menghambur-hamburkan sesuatu daripada berpikir untuk menyimpannya demi kepentingan dimasa depan. Memang pernikahan mungkin hanya sekali seumur hidup seseorang. Tapi kelak sebagai orangtua kita akan memikul tanggungjawab untuk menjamin kehidupan dan pendidikan yang berkualitas bagi anak dan cucu kita kelak dimasa depan. Jangankan dalam lingkup sebuah keluarga, dalam cakupan yang lebih luas, berapa banyak acara seremonial yang diselenggarakan oleh aparatur negara dan pemerintahan kita? Adakah itu menghasilkan sesuatu yang positif bagi bangsa kita, sehingga negara ini tidak terpuruk seperti sekarang ini? Adakah itu terlihat bermanfaat selain hanya menghambur-hamburkan uang negara? Kalau sudah lebih besar mudarat tinimbang manfaatnya, kenapa itu masih terus dibiarkan berlanjut? Dan kenapa pula kita diam membutakan mata melihat hal semacam ini dalam kehidupan kita sehari-hari?
Beri komentar