Perempuan; Dalam Manifestasi Tuhan

April 25th, 2008

God is a girl
Whatever you want
Do you belive it
Can you receive it … …

Kutipan lirik lagu God is a Girl, milik duo perempuan bernama T.a.T.u., mungkin bagi sebagai orang akan dianggap naif atau hanya sebagai ungkapan frustasi perempuan atas hegemoni kaum lelaki. Bahkan jika duo ini mengadakan konser di Indonesia, mungkin saja kedatangan mereka akan mengundang reaksi negatif (baca : cekal) dari lembaga yang bukannya mengurusi umatnya tapi lebih banyak mengurusi sertifikasi makanan dan para penontonnya mungkin saja di-sweping oleh kelompok preman berjanggut yang mengaku dirinya laskar Tuhan, yang beberapa waktu juga melakukan pencekalan terhadap sebuah band papan atas. Mungkin juga tulisan ini, jika sampai dibaca oleh mereka, akan dicekal juga.

Benarkah Tuhan itu seorang perempuan? Ataukah Ia seorang laki-laki? Atau Beliau seorang banci? Mungkinkah ia seorang kulit putih? Atau ia seorang negro seperti Morgan Freeman dalam film Bruce Almighty?

Coba kita bertanya pada teman-teman kita yang beragama Hindu tentang siapa Durgha, Saraswati dan Sri, tentu akan dijawab mereka adalah manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Berarti Tuhan itu seorang perempuan donk! Nanti dulu, ketiganya dikenal dengan nama Tri Sakti (bukan nama kampus lho), dan keberadaan mereka adalah sebagai pendamping dari Tri Murti (ini juga bukan nama sekolah SMU di Surabaya). Coba diberi penekanan pada kata “pendamping”, tentunya akan terlihat sebagai sebuah arogansi laki-laki. Mungkin ini karena keterbasan kita sebagai manusia dalam mengharfiahkan fungsi kedua-duanya, padahal Tuhan itu satu, tidak ada duanya dan para bijak menyebutnya dengan berbagai nama.

Tapi jika kita lihat dari sisi fungsi dari kedua model manifestasi Tuhan diatas, akan terlihat keistimewaan dari perempuan itu sendiri. Brahma bertugas sebagai Pencipta, Wisnu sebagai Pemelihara dan Siwa bertugas sebagai Pelebur, ketiganya disebut sebagai Tri Murti. Sedangkan Saraswati adalah sumber dari ilmu pengetahuan, Sri adalah pembawa kesuburan dan kemakmuran dan Durgha adalah sumber dari segala kekuatan. Mungkin kaum maskulin akan berkata “kami adalah sumber dari kehidupan”, tapi perempuan memberikan mereka jiwa dan spirit yang terpancar dari belaian kasih sayangnya.

Bagaimana jika setiap makhluk hidup tidak mempunyai pengetahuan, bagaimana jika setiap makhluk hidup tidak memiliki kekuatan dalam menjalani kehidupannya dan bagaimana pula jika setiap makhluk hidup tidak mendapat kesuburan dan kemakmuran dunia?

Berkaca pada teori evolusi Darwin, yang dulunya sangat ditentang oleh sebuah lembaga agama yang sekaligus merupakan sebuah negara kecil, yang selalu ingin mengatur seluruh tatanan hidup para pemeluknya, bahwa setiap makhluk hidup berevolusi sebagai akibat dari pengetahuan dan kekuatan yang mereka miliki untuk berevolusi untuk dapat bertahan hidup dan berkembang-biak seperti apa yang kita lihat sekarang. Seekor Cheetah bisa menjadi hewan pemburu tercepat di darat karena kemampuannya untuk mengembangkan teknik berburunya. Demikian pula manusia, yang dulunya pernah setara dengan kehidupan primata, dengan wajah dan rambut di tubuh yang hampir menyerupai seekor kera, juga mengalami evolusi. Gambaran tentang manusia yang menyerupai kera dalam teori evolusi Darwin inilah yang sangat ditentang oleh lembaga agama tersebut yang bekeyakinan bahwa Adam adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Tuhan.

Tak dapat dipungkiri bahwa ketiga unsur dari Tri Sakti sangat berguna dalam kehidupan makhluk hidup di dunia. Dan ketiga unsur ini mengalir dari rahim seorang ibu dan dari setiap tetesan air susunya. Coba bayangkan jika sejak awal para makhluk hidup feminim tidak ingin mengandung seorang bayi atau tidak mau menyusui bayinya, dapatkah kita berkembang seperti layaknya sekarang ini? Walaupun sekarang ilmu pengetahuan sudah mampu menciptakan inseminasi buatan dan kloning, tapi tetap hal ini berawal dari sana.

Coba kita dengarkan sebuah pepatah lampau, induk harimau (betina) tidak mungkin memakan anaknya sendiri. Ini adalah ejekan buat kaum lelaki. Memang dalam realitas pepatah ini benar adanya, dengan perkecualian jika si induk betina merasa nyawa anaknya terancam, tapi hal ini jarang terjadi. Bagaimana dengan induk jantannya? Seperti biasa arogansi lelaki berlaku juga disini, jika si anak adalah jantan dan si induk jantan merasa kedudukannya sebagai pemimpin terancam maka ia tanpa ragu memakan anaknya sendiri. Hal ini juga berlaku dalam keluarga Berang-berang.

Lalu bagaimana dengan manusia? Tentu kita sudah tak asing lagi dengan berita di koran tentang cerita seorang ayah yang tega memperkosa anak perempuannya sendiri. Mungkin harus belajar banyak pada keluarga kuda laut, dimana dalam setiap proses kelahiran si induk jantan mendapat tugas untuk mengandung setiap telur yang ada. Mungkin banyak yang tidak dapat menerima jika mereka disamakan dengan binatang yang urat katanya berasal dari kata winatang dalam bahasa Sansekerta yang berarti sesuatu yang diburu dengan watang (tombak), tapi jangan lupa juga bahwa kita ini adalah hewan yang berasal dari kata hayawan dalam bahasa Arab yang berarti sesuatu yang memiliki hayat.

Sungguhlah teramat adil sistem pembagian fungsi-fungsi dari Tuhan dalam Hindu yang digambarkan melalui Tri Murti dan Tri Sakti, yang mematahkan kearogansian lelaki dalam setiap kehidupan dunia sekaligus menjawab kesetaraan gender dalam agama Hindu itu sendiri melalui dasar yang sangat prinsipil. Dan bahwa lelaki dan perempuan itu diciptakan untuk saling melengkapi adalah juga benar adanya. Bukankah Tri Murti tidak akan sempurna tanpa adanya Tri Sakti? Dan bukankah sebuah Lingga tidak akan sempurna jika tidak dilengkapi juga dengan sebuah Yoni. Hanya karena kita terpengaruh oleh peradaban yang mengunggulkan arogansi lelaki atas perempuan yang menyebabkan kita sedikit lebih mengunggulkan manifestasi Tuhan sebagai Tri Murti daripada manifestasi dalam Tri Sakti. Bukankah kedua model manifestasi Tuhan tersebut adalah bersumber dari Tuhan itu sendiri. Juga bagaimana ketika menyebut sebuah Lingga-Yoni cukup dengan sebutan Lingga saja, padahal keduanya ada dalam satu tempat yang kita sering sebut cukup sebagai Lingga saja.

Laki-laki hanya tetap berkutat pada kearogansiannya, sedangkan perempuan memberikan sentuhan-sentuhan akal budi, akhlak dan spirit dalam kehidupan serta tidak lupa memberikan nyawa pada setiap kehidupan, yang terkandung dalam setiap tetes air susu yang mengalir darinya. Persis seperti kata sebuah iklan rokok, perempuan itu bikin hidup lebih hidup. Bisa juga ditambahkan, gak ada loe gak rame…

Antara kejeniusan dan kegilaan

April 22nd, 2008

Kata Albert Einstein, jenius adalah menemukan suatu pemahaman melalui metode pencarian yang berbeda.

Saya tahu, saya bukan orang jenius, mendekati pun tidak. Namun saya selalu berangan-angan menjadi orang jenius, jika tidak anak-anak dan cucu-cucu saya harus jenius. Oleh karena itu saya mempersiapkan beberapa nama untuk anak-anak saya, misalnya Alvin Taruna Pandunagari, Topan Dairo Adiguna atau Arbi Jaka Sanathadharma.

Kata psikolog, jenius dan gila merupakan satu hal yang sulit untuk terpisahkan dalam diri manusia. Karena kejeniusan yang dimiliki, terkadang apapun yang dipikirkan dan dikatakan oleh tersebut dianggap suatu kegilaan bagi masyarakat lain di sekitarnya.

Benar saya tidak jenius, tapi banyak teman-teman saya menyebut saya gila. Saya tidak pernah tahu, kenapa mereka menyebut saya gila. Mungkinkah karena saya jenius atau saya memang benar-benar gila alias kurang waras.

Sisi negatifnya, mungkin orang lain akan menjauhi saya, karena takut tertular kegilaan saya. Padahal menurut ilmu kedokteran, gila bukan merupakan penyakit menular, melainkan lebih pada terganggunya mental psikis seseorang karena adanya tekanan-tekanan tertentu dalam hidupnya.

Sisi positifnya, karena saya gila atau bahasa hukumnya sedang terganggu kesehatan jiwanya, berarti saya sedang berada dalam pengampuan. Karena saya berada di bawah pengampuan, maka segala perbuatan yang saya lakukan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Akibatnya, jika saya mencaci, mencemarkan nama baik, memfitnah, atau membuat kabar tidak benar lainnya, dalam setiap tulisan saya disini, maka secara hukum tidak dapat menuntut saya di pengadilan.

Jadi apapun yang saya tulis disini, adalah benar-benar karena pengaruh kegilaan saya. Bila anda membaca tulisan saya, membenarkannya dan bahkan mengaguminya, saya curiga, jangan-jangan anda juga orang gila seperti saya. :mrgreen:

UNAS yang Menanas

April 19th, 2008

Nanas, jika kita mendengar kata ini, kita pasti langsung teringat pada suatu buah yang menurut teka-teki dilukiskan sebagai “bersisik bukannya naga, berpayung bukannya raja”. Mendengar kata nanas, kita pasti langsung membayangkan nikmatnya rujak atau dahsyatnya Tequila.

Nanas muda, sebagian orang akan mahfum tentang sebuah mitos jika memakan buah ini merupakan cara menggugurkan kandungan atau bayi yang tidak diharapkan, secara alami.

Menyoal tentang Ujian Nasional (Unas) yang selalu menimbulkan “korban” berupa banyaknya siswa-siswa kelas tiga sekolah menengah atas yang tidak lulus sebagai akibat standar nilai yang ditetapkan, yang menjadi syarat dari kelulusan siswa, tidak terpenuhi. Bahkan terdapat satu sekolah menengah yang keseluruhan siswa kelas tiganya tidak memenuhi syarat tersebut, akibatnya 100% siswa kelas tiga di sekolah tersebut tidak lulus Unas (Bali Post, 19/06/2006). Kejadian seperti ini pernah membuat beberapa siswa dan orang tuanya, didampingi artis Sophia Latjuba, melapor ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

UUD 1945 sebagai hukum tertinggi di Indonesia menegaskan bahwa setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia dan setiap warga negara berhak untuk mendapat pendidikan. Karena pendidikan merupakan hak dasar bagi setiap orang, maka negara sebagai pelindung hak-hak dasar warga negara dan penduduk di wilayahnya adalah organ utama penyelenggaraan pendidikan.

Pasal 35 UU No. 23/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mensyaratkan adanya “kompetensi kelulusan” yang ditetapkan secara nasional. Atas dasar ini, Unas yang sebelumnya bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan kelulusan siswa, dijadikan sebagai proses evaluasi nasional di bidang pendidikan oleh Pemerintah dalam hal ini Depdiknas.

Depdiknas, oleh beberapa pihak terlalu dituding telalu banyak minum Tequila, sehingga kebijakan yang ditetapkan mengenai UNAS ini di anggap sebagai “jurus mabuk”, sebagai akibat ketiadaan standar evaluasi yang seharusnya ditetapkan oleh departemen tersebut.

Ada 3 mata pelajaran yang diujikan dalam UNAS, yakni bahasa Indonesia, matematika, dan bahasa Inggris, dengan standar nilai kelulusan masing-masing adalah empat koma sekian. Jika mengacu pada standar nilai bahwa angka 6 adalah cukup, angka 5 adalah hampir cukup dan angka 4 adalah kurang, maka standar nilai tersebut nyata belum tinggi dalam proses kelulusan siswa. Dapat juga diartikan bahwa beberapa siswa-siswa yang lulus UNAS tersebut memiliki kemampuan Bahasa Indonesia, Matematika dan Bahasa Inggris yang hampir cukup namun masih kurang.

Ini berarti UNAS adalah nanas muda yang nantinya dimakan untuk menggugurkan calon-calon bayi penerus bangsa yang tidak “diharapkan”, dalam arti bayi yang memiliki kemampuan Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Matematika, kurang.
Dengan standar yang rendah pun orang-orang masih protes, apalagi jika nantinya standar tersebut ditingkatkan menjadi 5 atau 6. Akankah kita bangga mempunyai seorang anak yang ternyata memiliki kemampuan rendah di 3 bidang tersebut.

Pendidikan adalah proses di mana manusia berharap semua mimpi yang diidamkan tercapai lewatnya. Ada baiknya juga kita pertimbangkan pendapat dari salah seorang proklamator kita :
Kita harus mengajar para intelektual yang muda-muda, yang pada suatu saat akan menggantikan kita untuk meneruskan cita-cita bangsa ini. Mendidik bangsa ini agar menjadi bangsa yang rasional dan berpengetahuan. Tujuan akhir dari semua ini adalah untuk mewujudkan suatu keadaan dimana diri kita dan kader-kader kita akan menjadi pemikir, pejuang dan pemimpin bagi agama, bangsa dan kemanusiaan. Ini adalah janji kepada tanah air. Ini merupakan soal prinsip. Soal kehormatan suatu bangsa.
Muhammad Hatta.

Menyindir Seseorang

March 11th, 2008

Polling :
Suatu sore anda sedang jenuh dirumah, dan memutuskan berjalan disekitar kawasan rumah anda untuk penyegaran suasana. Rupanya sore tersebut merupakan hari keberuntungan anda. Dijalan, anda menemukan tiga lembar uang kertas pecahan Rp. 100 ribu dengan kondisi utuh.

Uang yang pertama terlihat masih baru, tapi tergeletak diatas bekas muntahan seseorang. Uang yang kedua terlihat kusam, agak “kucel”, ada sedikit noda tinta terciprat dipermukaannya dan diatasnya ada sedikit kotoran ayam menempel. Sedang uang yang satunya lagi, mengapung diatas selokan yang kotor dan banyak nyamuk beterbangan disekitarnya. Kira-kira uang mana yang anda akan ambil? [Tidak usah dijawab]

Atas nama Baal, si Raja Perang, adalah sangat konyol jika kita memilih untuk mengambil hanya salah satu, ataupun salah dua, apalagi tidak mengambil, diantara uang yang ada. Dan terlihat lebih konyol lagi serta pandir ketika saya, dengan kata-kata yang seolah-olah bijaksana, berujar bahwa pada dasarnya saya, tidak pandang bulu untuk pilah-pilih dalam mencari penghasilan. Berapapun besarannya, selama itu berujud uang dan berlaku sah, pasti akan saya kejar.

Dan semuanya kekonyolan itu terletak pada ketidaksesuaian antara penggunaan variabel uang pecahan Rp. 100 ribu dengan pesan yang ingin disampaikan. Jangankan uang pecahan Rp. 100 ribu, pecahan Rp. 10 ribu pun pasti akan anda ambil bila anda menemukannya tergeletak begitu saja tanpa ada pemiliknya. Walau ada kotoran manusia atau bangkai hewan didekatnya.

Bagaimana bila begini :
Anda sedang berjalan disebuah kawasan pedestrian yang berada dekat dari tempat anda bekerja. Tak seberapa jauh berjalan, anda menemukan tiga lembar uang kertas tergeletak ditaman kecil yang berada disebelah pedestrian tersebut. Yang pertama, uang pecahan Rp. 100, terlihat masih baru. Tak seberapa jauh, tergeletak uang pecahan Rp. 500, dengan kondisi kusam dan bekas terinjak. Dua meter kekanan dari uang kedua, terdapat uang pecahan Rp. 1.000, dengan genangan ludah menempel diatasnya.
Kira-kira mana yang anda akan ambil?

Notabene : Daripada ia cuma lewat sekedar menampakkan wajah vektor-palsu-nya, agar seolah-olah ia rajin berkunjung kesini, maka lebih baik ia dipaksa untuk berkomentar. Bila ia tidak merasa disindir karena ini, maka biarlah semua terlihat konyol adanya.

Maaf, Sekolah Tidak Membuat Kita Menjadi Pintar

March 6th, 2008

Pada dasarnya, kita harus berlapang dada menerima kenyataan bahwa pola kurikulum pendidikan dan metoda belajar-mengajar yang diterapkan di Indonesia, tidak akan pernah membuat kita menjadi PINTAR. Mendekati pun tidak.

Kita juga harus berlapang dada menerima realita bahwasanya penerapan kurikulum pendidikan yang ada selama ini tidak dilandasi oleh suatu konsep filosofi pendidikan yang paten, melainkan lebih didasari pada logika politik untuk menyatakan eksistensi seorang kader partai. Kita tidak mungkin menyebut perubahan kurikulum yang selalu terjadi pada setiap pergantian Menteri Pendidikan sebagai suatu bentuk dinamis karena terkadang perubahan itu hanya berjalan ditempat. Dan walaupun terjadi perubahan, namun perubahan itu dilakukan tanpa tujuan pasti serta tidak dilakukan secara berjenjang. Sehingga praktek dilapangan, para guru dan siswa kesulitan untuk mengadopsi kurikulum baru tersebut.

Belum lagi, fakta kita harus tunduk pada prinsip bahwa GURU ADALAH TUHAN. Oleh karena itu, Guru selalu benar; Guru tidak pernah salah.

Akibatnya, walau kita telah 12 tahun menimba ilmu dari sekolah dasar hingga ke sekolah menengah atas, terutama karena kurikulum yang selalu berubah-ubah, ketika memasuki bangku perguruan tinggi, kita masihlah tetap ORANG BODOH. Setelah melewati fase perkuliahan Strata-1, saat itu kita hanya menjadi ORANG yang AGAK BODOH. Kemudian, bila kita melanjutkan ke Strata-2, setelah menamatkan jenjang Magister kita hanya menjadi ORANG yang SEDIKIT BODOH. Apabila melanjutkan ke Strata-3, setelah menyelesaikan studi doktoral kita, saat itu kita baru menjadi ORANG yang SEDIKIT. Kecuali bila kita memiliki kecerdasan diatas rata-rata, misalnya 123 seperti saya :mrgreen: , setelah menamatkan studi doktoral, kita mungkin bisa menjadi ORANG yang AGAK PINTAR.

Memang seperti itulah kenyataan ironis yang ada terkait masalah pendidikan di Indonesia.

Lalu kapan kita akan menjadi ORANG PINTAR? Untuk menjadi orang pintar kita tidak memerlukan sekolah. Cukup dengan sedikit rapalan mantra jampi-jampi, tapa semadi, sedikit ilmu kanuragan, pakaian serba hitam, serta kumis, cambang dan jenggot yang sedikit lebat, niscaya anda akan disebut ORANG PINTAR. Tapi ini tidak berlaku menyeluruh, sebab meskipun ia disebut ORANG PINTAR, orang-orang tidak pernah memanggil Ki Joko Bodo sebagai Ki Joko Pintar. Dengan jalan pintas, untuk menjadi ORANG PINTAR kita hanya perlu minum TOLAK ANGIN.

Tapi kapan kita bisa menjadi PINTAR? KITA AKAN MENJADI PINTAR APABILA KITA MAU BELAJAR. Seorang THOMAS ALFA EDISON tidak perlu tamat sekolah dasar untuk menemukan Bohlam Lampu dan Pita Rekaman. Seorang Megawati pun tidak perlu menamatkan pendidikan Strata-1 untuk menjadi seorang presiden. 1

Sekolah tidak pernah menjanjikan kepintaran, raihan impian cita-cita ataupun harapan akan perubahan hidup. Namun sekolah hanya menjanjikan sebuah proses untuk meraih kesemuanya itu. Dan untuk bergelut dalam proses tersebut, tidak ada jalan lain bagi kita kecuali BELAJAR dan BELAJAR. Sekolah, dalam arti formal, terbatas pada ruang, gerak dan waktu. Tapi BELAJAR tidak terbatas oleh apapun. Kapan dan dimanapun kita bisa BELAJAR, selama kita mau melakukannya.

Notabene : sebuah ungkapan kasih sayang untuk seorang adik, yang memilih untuk drop-out dari perkuliahan Teknik Elektro Universitas Udayana, gara-gara seorang dosen yang, entah kenapa memiliki sentimen pribadi terhadap keluarga kami.
1 Konon, tekanan politiklah yang membuat Megawati Soekarnoputri tidak pernah menamatkan kuliah Strata-1-nya, baik di Fakultas Kedokteran maupun Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Ode Untuk Jiwa Merdeka

March 3rd, 2008

Minggu sore, 10 Februari 2008, di Popo Danes Art Cafe, Denpasar.

Dipanggung berdiri seorang berbadan tambun dengan kepala botak yang mengilat, berceloteh tentang teriakan serak jiwa-jiwa yang sepenuhnya rindu untuk menikmati kemerdekaannya sebagai manusia, ditengah negeri merdeka yang tak pernah ingin sedikitpun membiarkan bangsanya berdiri tegak dengan gagah sebagai manusia merdeka dihadapan bangsa-bangsa lain didunia. Kerinduan atas ekstase kemerdekaan yang membuat kita selama ini tak lebih ibarat seorang bocah remaja yang berkhayal dalam fantasinya yang paling liar untuk mereguk kenikmatan birahi dalam onani-nya.

Bermula dari keinginan untuk melakukan gerakan anti terhadap segala upaya untuk mewujudkan satu tatanan yang mengikat jiwa-jiwa manusia agar tunduk menyalahi kodratinya yang terlahir tanpa sehelai kain menutup tubuhnya. Dan atas nama segala Tirani Mayoritas dari Demokrasi, yang berlindung dibalik topeng “Vox Vopulli Vox Dei”, maka terkutuklah segala keinginan dan usaha untuk menyeret bocah-bocah bertelanjang badan kedalam bui penjara dengan jerat Undang-undang Pornografi dan Pornoaksi.

Kepada mereka, tangan kiri mengacung erat mengepal, “Hanya ada satu kata, LAWAN!”.

Ditelinga terdengar Isiah Berlin membisikkan dalil “kemerdekaan negatif”-nya. Satu-satunya agen yang paling mungkin untuk membatasi kemerdekaan individu adalah pemerintah. Oleh karenanya, dengan segala adab dan budi kita sebagai manusia, arahkanlah mata dan telinga kita untuk mengawasi semua gerak-gerik keputusan dan kebijakan pemeritah, untuk diteriakkan lewat mulut kita bilamana ada satu coreng menyimpang dari awalnya. Sebab itu adalah swa-dharma kita sebagai anak manusia yang terlahir dan menyusu pada ibu pertiwi, untuk kemudian terbujur kaku berkalang tanah dalam dekapnya.

Hembuskanlah selalu kedalam telinga-telinga mereka, segala bisikan tentang sajak kerinduan jiwa yang ingin merdeka. Segala do’a dan pinta terucap, semoga bisikan-bisikan ini menjadi angin yang akan membawa perubahan pada negeri ini kelak dikemudian hari. Dan terberkatilah mereka-mereka yang selama ini tak kenal lelah untuk membisikkan itu pada mereka-mereka yang rindu atas jiwa yang merdeka.

Notabene : Sebuah ode untuk jiwamerdeka.blogspot.com

Mendebat Pancasila

February 29th, 2008

Entah kenapa bulan ini PANCASILA menjadi inspirasi bagi saya untuk menulis. Padahal harusnya, dibulan penuh cinta ini, tulisan-tulisan romansa asmara menggelora yang banyak saya tulis. Apakah itu karena saya jatuh cinta terhadap “PANCASILA”? Ooh … tidak … saya masih lelaki normal. Maaf, hanya sekedar intermezo saja.

PANCASILA. Entah kenapa semenjak kelahirannya pertamakali pada sidang BPUPKI, hingga sekarang terus mengalami perdebatan yang tak henti. Mulai dari, siapa penggagas pertamanya, Yamin ataukah Soekarno? Kapan ia harus diperingati, 1 Juni ataukah 1 Oktober? Patutkah keberadaannya sebagai ASAS TUNGGAL dipertahankan? Apakah ia merupakan nilai-nilai luhur tradisi Indonesia ataukah merupakan nilai-nilai yang berasal dari penbgaruh asing? Dan lain sebagainya, hingga ke hal-hal yang bersifat konyol sekalipun.

Saya pernah membaca salah satu buku koleksi Perpustakaan DPRD Kota Surabaya, saya lua judulnya, tentang teori konspirasi yang mengaitkan PANCASILA dengan ISRAEL dan YAHUDI. Konon, menurut buku itu, Soekarno merupakan seorang kafir keturunan ISRAEL dan orangtua beliau merupakan seorang penganut YAHUDI yang taat. Gagasan Soekarno tentang PANCASILA sebenarnya dia ambil dari dasar negara ISRAEL. Buku ini sangat konyol karena pidato Soekarno tentang dasar negara ini, diucapkan jauh sebelum kaum YAHUDI dilokalisasi oleh Pemerintah Inggris ditanah PALESTINA. Didalamnya, buku itu, juga banyak menajiskan dan mengkafirkan ini-itu, seperti demokrasi, nasionalisme dan lain sebagainya. Tapi setidaknya, buku tersebut, turut menyumbang perdebatan mengenai keberadaan PANCASILA, walau dengan cara konyol.

Sebenarnya perdebatan mengenai keberadaan PANCASILA itu sendiri tidak hanya terjadi dimasa sekarang, tapi jauh pada saat Orde Lama masih berkuasa pun hal tersebut sudah terjadi. Pada tanggal 16-20 Februari 1959, bertempat di Sasana Hinggil Dwi Adad, Yogyakarta, perdebatan akademis mengenai Pancasila secara resmi untuk pertamakali dilangsungkan. Adapun yang hadir sebagai pembicara adalah : 1

  1. Prof., MR., H., Muhammad Yamin; dengan makalah berjudul : Tinjauan Pancasila terhadap revolusi fungsional;
  2. Prof., MR., Drs., Natanegara; dengan makalah berjudul : Pancasila dan religi;
  3. Prof., dr., N. Driyarkoro S.Y.dengan makalah berjudul : Berita pikiran ilmiah tentang kemungkinan jalan keluar dari kesulitan mengenai Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia; serta
  4. Ruslan Abdulgani; dengan makalah berjudul : Pancasila sebagai landasan demokrasi terpimpin.

Kemudian didapat kesimpulan antara lain sebagai berikut : 2

  • Keberadaan Pancasila sebagai dasar negara pada dasarnya tidak perlu diperdebatkan lagi;
  • Masuknya golongan fungsional dalam badan-badan negara merupakan cerminan adanya demokrasi dalam Pancasila;
  • Jaminan pemeliharaan dan perkembangan keyakinan agama yang ada pada sila pertama, merupakan pengakuan Pancasila terhadap keberadaan agama; dan
  • Kembali secara prinsipiil pada Undang-Undang Dasar 1945. 3

Notabene : Oleh-oleh dari Yogyakarta untuk seorang teman yang belum pernah sama sekali menjejakkan kaki di Yogyakarta.
1 Diambil dengan tidak hormat dari ornamen yang ada di BENTENG VREDEBURG, Yogyakarta.
2 Maaf ternyata kemampuan mengingat otak saya sudah payah. Saya tidak bisa menyebutkan secara pasti kesimpulan yang dihasilkan pada saat itu. Sayang pada saat berkunjung kesana, saya tidak membawa pulpen dan kertas. Mungki teman yang kebetulan dari Jogja bisa bantu melengkapi.
3 Ini kemudian menjadi salah satu dasar Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Presiden 1959, yang salah satu isinya adalh kembali ke Undang-Undang Dasar 1945.

Indoktrinasi Pancasila

February 24th, 2008

Hati-hati terhadap Pancasila. Gara-gara ada burung perkutut yang bisa menirukan lagu “GARUDA PANCASILA”, seorang teman harus merelakan uang bekal perjalanannya amblas disikat oleh perampok, tepatnya “TUKANG GENDAM”. Dan gara-gara ini pula, kami, hingga saat ini menambahkan embel-embel “GENDAM” dibelakang nama panggilannya. Coba lihat didaftar tautan yang ada pada SIDEBAR, cari nama yang ada kaitannya dengan ilmu hitam.

Begitulah efek INDOKTRINASI PANCASILA yang gencar dikampanyekan oleh rezim Orde Bau Baru. Sedemikian hebatnya INDOKTRINASI itu hingga bahkan seorang maling pun menggunakan PANCASILA untuk beraksi. Tidak hanya maling kelas kroco yang beraksi diatas mikrolet, yang mana teman saya itu menjadi salah satu korbannya. Tapi juga para maling kelas wahid yang konon katanya berjuang atas nama rakyatnya.

Apa-apa yang ada harus dilandasi dan dijiwai oleh semangat PANCASILA, setidaknya mengandung kata PANCASILA. Karena PANCASILA mengandung segala kebaikan. Demokrasi yang baik adalah DEMOKRASI PANCASILA. Warganegara yang baik adalah warganegara yang PANCASILAIS. Pemuda yang baik adalah PEMUDA PANCASILA.

Asas yang paling baik adalah ASAS PANCASILA. Penggunaan ASAS PANCASILA sebagai asas tunggal di Indonesia, pada rezim Orde Bau Baru, merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar bagi setiap pendirian organisasi. Dari partai politik, organisasi mahasiswa, hingga ke organisasi tradisional model desa pekraman, subak dan banjar, seperti yang ada di Bali, pun harus menggunakan PANCASILA sebagai landasan organisasinya. Mungkin, bahkan komplotan maling pun harus menerima PANCASILA sebagai asas tunggal. Sampai-sampai seorang teman saya mengusulkan, agar semua agama dan aliran kepercayaan yang ada di Indonesia dilebur menjadi satu saja, menjadi AGAMA PANCASILA.

Bahkan kudeta yang dilakukan oleh PKI pada tanggal 30 September 1965 bukan dianggap sebagai sebuah kudeta. Namun melainkan sebagai sebuah ujian terhadap PANCASILA. Oleh karenanya, peristiwa tersebut lebih dikenal sebagai Gerakan 30 September oleh PKI (G 30 S/PKI). 1 Dan sehari setelahnya, tanggal 1 Oktober, diperingati sebagai HARI KESAKTIAN PANCASILA. Tapi sayangnya, 7 jenderal, 3 perwira, dan Ade Irma Suryani yang gugur pada peristiwa G 30 S/PKI tersebut, dianggap sebagai Pahlawan Revolusi. Seharusnya mereka disebut Pahlawan Pancasila.

Tulisan ini bukanlah ditujukan untuk mendebat ataupun menggugat, bahkan tidak sekalipun untuk menghina, PANCASILA. Hanya sebuah kritik terhadap INDOKTRINASI PANCASILA dari seorang pecinta konsep PENDIDIKAN BERKESADARAN ala PAULO FREIRE. Sebab, dari pengalaman beberapa kali mengikuti Penataran P4, yang terjadi bukanlah pembangunan suatu konsep kesadaran, namun melainkan penjejalan sebuah ide yang bernama PANCASILA. Mungkin hal ini, dipengaruhi karakter militeristik yang ada pada saat itu. Akibatnya, konsep yang tertanam bukanlah sebuah konsep yang kuat dan mengakar, melainkan sebuah konsep rapuh yang rentan terhadap infiltrasi ide lain diluarnya. Terlebih lagi, bila penjejalan ide itu tidak berjalan dengan baik atau si penerima ide itu memiliki sifat dasar pemberontak. Sekali lagi, itu dikarenakan tidak adanya pembangunan konsep berkesadaran.

Dulu, sewaktu masih awal-awal menjadi mahasiswa, sewaktu masih bodoh, saya tidak bisa mengemukakan satu alasan logis pun kenapa saya menerima Pancasila sebagai dasar negara. 2 Setelah menimba ilmu tata negara di fakultas, ternyata saya baru memiliki kenapa saya memilih PANCASILA sebagai dasar negara.

Notabene :
1 Beberapa orang, terutama, setahu saya, kaum tua di Bali, masih menyebutnya sebagai GESTAPU (Gerakan September Tigapuluh). Beberapa lagi menyebutnya sebagai GESTOK (Gerakan Satu Oktober).
2 Dulu awal menjadi mahasiswa, saya adalah orang bodoh. Sekarang, setelah lulus kuliah S-1, saya adalah orang yang agak bodoh.

Kenapa Orang Indonesia Suka Membunuh?

February 21st, 2008

Kenapa orang Indonesia suka membunuh? Karena orang Indonesia tidak terlalu suka MEMFITNAH. Kenapa orang Indonesia tidak terlalu suka MEMFITNAH? Karena FITNAH lebih kejam daripada PEMBUNUHAN. Daripada anda memfitnah seseorang, lebih baik anda membunuhnya. Bila dikaitkan dengan terorisme, maka akan timbul pertanyaan seperti ini : kenapa Amrozy dkk lebih memilih menjadi seorang teroris? Karena Amrozy dkk tidak suka MEMFITNAH.

Silahkan anda menganggap saya bergurau atau tidak mempercayai pernyataan tersebut. Namun sebaiknya, saya sarankan anda melakukan penelitian terhadap perkara pidana yang diputus oleh lembaga peradilan yang ada diseluruh Indonesia, dan jangan terkejut jika anda mendapati kenyataan bahwa jumlah perkara PEMBUNUHAN yang ada lebih banyak daripada perkara FITNAH (pencemaran nama baik). FITNAH dalam bahasa hukum diterjemahkan sebagai “PENCEMARAN NAMA BAIK”.

Entah kenapa pepatah “FITNAH lebih kejam daripada PEMBUNUHAN” bisa ada di Indonesia. Dan entah apa dasar logika berpikir yang dipakai sebagai perbandingan, sedemikian rupa sehingga dosa PEMBUNUHAN dianggap lebih ringan dibanding dosa karena MEMFITNAH. Apakah karena hal ini didasari oleh pepatah lain, “UJUNG LIDAH LEBIH TAJAM DARIPADA MATA PEDANG”, sehingga keduanya akan terlihat saling melengkapi? Dengan kata lain, bila pepatah yang pertama dibalik : “PEMBUNUHAN lebih kejam daripada FITNAH”, maka pepatah yang kedua terlihat konyol karenanya.

Andai boleh saya berandai-andai, jika saya MEMFITNAH, misalnya, bahwa Baladika telah melakukan operasi penggantian kelamin di Thailand. Paling-paling orang akan menuduh Baladika hanya sebagai “seorang lelaki yang terlahir tomboy”. Dan jika suatu saat ia ternyata menikah dengan seorang wanita, paling orang akan menyebut bahwa operasi kelaminnya gagal; atau Baladika telah bertobat untuk kembali menjadi LELAKI PAKAR LENDIR SEJATI; atau, paling buruk mereka akan disebut pasangan homoseksual. Dan bila mereka ternyata kelak istrinya hamil dan kemudian melahirkan anak, paling orang akan menyebut istrinya sebagai seorang heteroseksual; atau anaknya dianggap anak haram. Dan kesemua FITNAH yang saya tuduhkan akan menjadi terbantahkan manakala seorang Baladika berani memamerkan “ALAT LENDIRNYA” pada kita semua, untuk membuktikan bahwa itu masih asli dan belum pernah “TURUN MESIN”. 1

Bagaimana bila saya MEMBUNUH Baladika? Misalnya, bila Baladika telah mempunyai anak-istri, maka saya telah membuat anak menjadi seorang yatim dan istrinya menjadi seorang janda. Lebih dari itu saya telah membuat keluarga itu kehilangan orang yang menjadi penopang hidup mereka dan mungkin akan membuat mereka kehilangan kesempatan untuk menikmati hidup yang indah dimasa depan. Terutama sekali, saya telah merampas hak asasi Baladika untuk hidup dan untuk menikmati “TETES-TETES LENDIR” yang terus mengalir dari rekening PAYPAL-nya. 2

Sekali anda MEMFITNAH, belum tentu anda dicap sebagai “TUKANG FITNAH”. Tapi sekali anda MEMBUNUH, selamanya anda akan dicap sebagai “PEMBUNUH”. Dan walau anda berkali-kali melakukan fitnahpun, anda tidak akan dicap “TUKANG FITNAH”; paling “SI MULUT BUSUK” atau “SI PAHIT LIDAH”.

Pun demikian, didalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), jika kita hendak menakar bobot kedua dosa itu secara legal. Baik PEMBUNUHAN maupun PENCEMARAN NAMA BAIK merupakan TINDAK PIDANA KEJAHATAN, Namun bila kita bandingkan ancaman hukuman maksimal atas kedua tindak pidana kejahatan tersebut, tindak pidana PEMBUNUHAN ancaman hukuman terberatnya adalah hukuman mati. Sedang PENCEMARAN NAMA BAIK tidak sampai 3 tahun penjara, kecuali mungkin di masa kolonial. 3

Jadi anda lebih suka yang mana, MEMFITNAH atau MEMBUNUH :?:

Maka atas dasar ini, saya mengusulkan agar pepatah “FITNAH lebih kejam daripada PEMBUNUHAN” diganti saja menjadi : “FITNAH LEBIH KEJAM DARIPADA TIDAK MEMFITNAH”. Dan kepada para LASKAR-YANG-SUKA-MAIN-HAKIM-SENDIRI itu, agar merobek dan membakar setiap buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia yang mencantumkan pepatah “FITNAH lebih kejam daripada PEMBUNUHAN”, daripada merobek buku-buku pelajara sejarah yang tidak mencantumkan kata PKI (Partai Komunis Indonesia) didalamnya.

Notabene :
1 Menjadikan Baladika sebagai perumpaan disini lebih didasari pada “dendam kesumat” saya pada perlakuannya yang tidak mengacuhkan saya ketika menjabat tangannya pada acara “Launching Bali Blogger Community”. Saat ini masih mencari inspirasi untuk membalas perlakuan Balivetman dan Antonemus.
2 Saya telah memikirkan cara terbaik untuk membunuh Baladika, yakni dengan menjatuh uang sebanyak 1 juta Dollar Australia, dalam bentuk pecahan 20 sen, diatas kepalanya.
3 Karena termasuk dalam TINDAK PIDANA PELANGGARAN, hukumannya sebenarnya bukan PIDANAN PENJARA, melainkan PIDANA KURUNGAN.
:arrow: Atas permintaan saudara Ahmad Mardianto, penambahan spasi untuk memisahkan masing-masing paragraf telah dilakukan.
Lagi asyik makan lontong Cap Go Meh.

Si Baju Merah; Dia Yang Namanya Tak Boleh Disebut

February 18th, 2008

Sore itu, 10 Februari 2008, sehabis berselancar ria didunia maya, disalah satu warnet yang ada dikawasan Jalan Akasia, Denpasar, tak bisa dibendung lagi keinginan untuk segera datang ke Popo Danes Art Cafe di Jalan Hayam Wuruk, untuk menghadiri peresmian berdirinya BBC.

BBC. Ada yang menafsirkannya sesuai dengan lagu Samidjan dkk, Benci Bilang Cinta. Ada pula yang menafsirkannya sebagai British Broadcasting [ini tafsiran saya - red]. Bali Blogger CommunityTapi, mengutip dari keterangan resmi dari penggagas acara, yakni Sdr. Anton Mujahir, Luh De Gurami, dan kawan-kawan, BBC merupakan singkatan dari Bali Blogger Community. Komunitas, tidak jelas apakah bersifat sosial-paguyuban ataukah LSM ataukah ORSOSPOL, yang mewadahi para blogger asal Bali. Bersatu untuk menggalakkan pola pikir dan jiwa yang merdeka serta menolak segala bentuk penyeragaman informasi.

Entahlah apa dosa-dosa saya dimasa lalu, saya sudah berhenti “turun ke jalan”, sudah lama tidak memegang “loudspeaker” untuk berorasi, sudah lama tidak menjabat lagi sebagai korlap aksi unjuk rasa, dan juga sudah tidak lagi mengangkat dan mengepalkan tangan kiri setiap kali berteriak merdeka. Tiba didepan Popo Danes Art Cafe, pihak Intelkam Polda Bali yang konon katanya pemilik Jin Hape, yang konon pula katanya akan segera pindah ke JinHp.com. Pertanyaan pertama yang ia sodorkan kepada saya; “berapa earning anda?”. Aduh, mohon maaf pak, demi Gorky saya bersumpah tidak melakukan aktivitas internet yang sifatnya melawan hukum! Ketika saya ajak masuk, ia menjawab “sedang menunggu “Kode yang Rusak” dan Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut“. Segala puji bagi Trotsky, ternyata bukan saya yang menjadi target operasi. Tak disangka jejak-jejak lendir yang ditinggalkan kedua pakar lendir begitu amis hingga terendus oleh penciuman aparat kepolisian.

Singkat kata, datanglah seseorang, berbaju merah dipadu jaket berbahan “jeans” dengan topi berwarna coklat bertengger diatas kepalanya. Dari wajah, sekilas bisa diterka bahwa ia seorang peranakan tionghoa. Entahlah, dengan gaya malu-malu dan logat Jawa yang kentara, ia mengaku bernama “Kode yang Rusak“.Baladika dan Brokencode

Lalu terdengar suara sang Mujahir memanggil nama seseorang. Orang ini, atau tepatnya, makhluk ini, Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut! Dengan baju merahnya ia berjalan keatas panggung ditengah gemuruh teriakan para pemujanya. Sempat terpikir selintas ia akan membawakan tarian birahi diatas panggung, tapi sayangnya tidak. Dengan gabungan jurus jinak-jinak merpati dan malu-malu kucing, ia memperkenalkan diri. Tak tampak pikat pesona seorang “Penjahat Kelamin” pada dirinya.

Dan ia lewat didepan saya begitu saja. Melengos pergi, tanpa peduli bahwa saya menjabat tangannya dan ingin berkenalan dengannya. Oh terberkatilah Ketua Mao dengan segala sumpah serapah dunia. Sungguhlah dia, Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut. Kau Tahu Siapa???

Notabene : Foto diambil dari bang mosalaki