Taj Mahal, Monumen Cinta?

February 15th, 2008

Bangunan Taj MahalShah Jahan membangunnya sebagai kenangan terhadap mendiang permaisurinya, Muntaz Mahal. Berdiri megah menjulang bertahtakan arsitektur nan indah ini terletak di kota Agra, Uttar Pradesh, India. Taj Mahal, begitu ia dikenal. Bangunan marmer serba putih ini, kini dikenang sebagai, sesuai dengan jargon promosi wisata pemerintah India, monumen perlambang cinta kasih sayang nan tiada tara.

Benarkah itu?

Muntaz Mahal bukanlah satu-satunya wanita yang hadir dalam hidup Shah Jahan. Ia memiliki, seperti kebiasaan para raja di masa dahulu, beberapa orang selir dan juga beberapa perempuan lain yang menjadi selingkuhannya. Bahkan, konon kabarnya, ia berselingkuh dengan putri kandungnya sendiri.

Pembangunan Taj Mahal sendiri dilakukan dengan mengerahkan ribuan pekerjapaksa selama duapuluh tahun, dengan menelan biaya yang amat mahal. Bayangkan saja, harga singgasananya saja pada abad ke-VII ditaksir mencapai lebih dari 6 juta Poundsterling. Dan agar keindahan Taj Mahal ini tidak tersaingi oleh bangunan lain didunia, setelah pembangunannya dirampungkan, konon pula kabarnay, Shah Jahan langsung memenggal kepala arsitek pembangunannya serta memotong tangan para tukang pahat dan tukang batu yang terlibat didalamnya.

Jika kenyataannya seperti itu, masihkah ia layak dipandang sebagai bangunan cinta kasih sayang nan tiada tara?

Bila ditelusuri lagi, naiknya Shah Jahan sebagai raja bukanlah dengan cara yang terhormat. Ia menggulingkan kekuasaan ayahanya sendiri dan lalu memenjarakannya. Ia juga membunuh kakak-kakaknya sendiri guna melapangkan jalannya menuju kekuasaan. Tragedi ini tidak berhenti sampai disini. Shah Jahan sendiri akhirnya digulingkan oleh Aurangzeb, anak kandungnya sendiri! Ia dipenjarakan disebuah bangunan yang letaknya tidak jauh dari kawasan Taj Mahal.

Andaikata ia tidak digulingkan dari tahtanya, ada kemungkinan Shah Jahan akan kembali mewujudkan ambisi megalomaniaknya, yakni merealisasikan rencana pembangunan istana marmer serba hitam, yang akan digunakan sebagai mahamakamnya sendiri, berdampingan dengan Taj Mahal.

Notabene : Tulisan ini dijiplak dari rubrik Kelirumologi di Majalah Intisari yang diasuh oleh Pak Japra (Jaya Suprana). Namun maaf saya lupa kapan persisnya tulisan ini dimuat.

Soekarno dan Warga Keturunan Cina di Indonesia

February 14th, 2008

Soekarno dan Mao Ze DongDulu sekitar tahun 1950an, Presiden Soekarno mengeluarkan maklumat mengenai masalah keturunan Cina di Indonesia. Bagi warga keturunan Cina yang memilih untuk menjadi warga negara Indonesia, disuruh untuk segera mengganti nama Cina mereka menjadi nama Indonesia. Misalnya, kakek saya, semula bernama Lie Tie Djoe kemudian berganti menjadi I Made Tedja.

Mungkin banyak yang menganggap hal ini sebagai salah bentuk diskriminasi rasial, dan tak sedikit pula yang membenci Soekarno karena hal ini. Tapi bagi saya, hal tersebut merupakan salah satu langkah Soekarno guna membangkitkan gelora nasionalisme Indonesia dalam sanubari setiap keturunan Cina yang ada di Indonesia. Harus diakui pada masa-masa tersebut, perjuangan nasionalisme merupakan kampanye pergerakan yang paling ampuh pada saat itu. Tidak hanya di Indonesia, juga diberbagai negara-negara dunia ketiga, seperti Kuba, Libya, Cina, Turki, India dan lain-lain.

Tidaklah mungkin bagi kita untuk bergabung dalam satu bangsa bila kita sendiri tidak berbaur secara sosial dengan masyarakat yang ada dalam bangsa tersebut. Sama tidak mungkinnya jika kita hendak mempertahankan satu entitas murni yang berbeda dengan entitas yang ada disekitar. Karena hal tersebut akan menciptakan satu eksklusifitas yang mungkin akan menimbulkan friksi-friksi yang bisa mengerucut menjadi satu bom waktu bagi konflik yang berkepanjangan. Dan keadaan yang berlangsung pada masyarakat Indonesia pada waktu itu sangat memungkinkan untuk terjadi hal tersebut.

Mungkin saja Soekarno berkaca pada tragedi Holocaust yang menimpa masyarakat Yahudi Eropa tahun 1940-an. Begitu pula dengan diskriminasi rasial yang mereka terima di Eropa semenjak Perang Salib berlangsung. Dan penyebab hal ini mungkin eksklusifitas masyarakat Yahudi, yang salah satunya melarang adanya perkawinan antara orang Yahudi dengan masyarkat selain Yahudi. Seperti, kisah Shakespeare dalam Merchant of Venice. Mungkin berkaca dari hal itu pula, Pemerintah Republik Rakyat Cina menerapkan prinsip ius sanguinis dalam hal kewarganegaraan mereka, agar mampu melindungi kaum Cina yang tersebar di seantero penjuru dunia.

Langkah Soekarno ini juga sejalan dengan konsep nation-state Indonesia yang ia usung, yakni kehendak untuk bersatu (le dÈsir d’Ítre ensemble – Ernest Renan), rasa senasib sepenanggungan (eine aus Schiksals-gemeinschaft erwachsene Character-gemeinschaft – Otto Bauer) dan rasa persatuan orang dengan buminya (Endang Suryadinata - Jawa Pos, 3/8/2007). Konsep ini terkait erat dengan semangat antikolonialisme Hindia-Belanda dan Jepang serta keinginan untuk menjadi bangsa yang merdeka yang bergelora dikalangan pribumi pada waktu itu.

Sebagai seorang humanis, Soekarno mencoba merangkul para warga keturunan Cina ini sebagai satu kesatuan bangsa Indonesia. Karena sangat jelas ketiga konsep tersebut tidak mungkin ada di kalangan warga keturunan Cina di Indonesia. Walaupun ada mungkin jumlahnya sangat sedikit. Ditambah pula keturunan Cina menerima perlakuan dari pemerintah kolonial Hindia-Belanda, yang berbeda dengan warga pribumi. Bahkan banyak warga keturunan Cina pada masa penjajahan menjadi Tuan Tanah di Indonesia, yang secara tidak langsung menambah berat penderitaan masyarakat Indonesia yang hidup dalam belengggu penjajahan.

Saya menyaksikan secara langsung bagaimana eksklusifitas warga keturunan Cina ini di Surabaya banyak menciptakan antipati dikalangan warga sekitar mereka. Misalnya hanya menggunakan bahasa Mandarin ketika bercakap-cakap dengan sesama mereka, kaum muda mereka yang cenderung hanya bergaul dengan sesama mereka, dll. Dan entah karena apa, saya pun turut berantipati terhadap mereka, terutama membenci eksklusifitas mereka dan merasa jijik karenanya.

Eksklusifitas hanya akan melahirkan kebencian yang berujung pada konflik sosial.

Hari Ini Beberapa Tahun Yang Lalu

February 8th, 2008

“Selamat pagi, pak!”.
“Pagi. Silahkan duduk dan, seperti biasa, ada beberapa pertanyaan yang harus saudara jawab. Bisa kita mulai?”
“Bisa pak”
“Nama saudara?”
“Putu Winarta”
Terdengar suara mesin ketik.
“Marga saudara?”
“Lie”
“Lengkapnya?”
“Lie Liang Wei, pak”
“Umur?”
“16 tahun”
“Apakah saudara mengerti mengapa anda dipanggil ke ruangan ini?”
“Mengerti pak”
“Bisa saudara jelaskan”
“Saya dipanggil kesini terkait dengan beberapa hal yang menyangkut masalah status kewarganegaraan dan nasionalisme saya”
“Baik. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa Pancasila yang menjadi dasar negara ini tidak menghendaki adanya pembeda-bedaan kelas dalam masyarakat yang bermotifkan SARA. Apakah saudara mengerti akan hal tersebut?”
“Mengerti pak”
“Dengan kata lain, Pancasila menginginkan adanya sebuah harmonisasi kehidupan masyarakat di Indonesia yang dilandasi oleh prinsip Bhineka Tunggal Ika. Apakah saudara juga mengerti tentang hal itu?”
“Mengerti pak”
“Dan oleh karenanya, Pancasila anti terhadap segala bentuk perlakuan yang sifatnya mementingkan kepentingan golongan atau kelompok masyarakat tertentu diatas kepentingan golongan atau kelompok masyarakat lainnya. Apakah saudara paham mengenai hal itu?”
“Paham pak”
“Bahwa berdasarkan hal tersebut, maka pihak kepolisian sebagai aparatur negara diberi tugas untuk menjaga agar ketertiban dan keamanan tetap berlangsung dimasyarakat. Baik, sampai disini apakah saudara paham atau ada beberapa pertanyaan yang hendak saudara ajukan?”
“Paham pak”
“Ada pertanyaan?”
“Tidak pak”
“Baik. Bila tidak akan saya lanjutkan. Seperti yang kita ketahui, kemarin merupakan perayaan tahun baru Imlek. Dan, seperti juga telah kita ketahui, para warga peranakan Cina di Indonesia merayakan hari tersebut dengan bersembahyang ke kelenteng yang ada disekitar mereka. Apakah saudara bersama anggota keluarga saudara melakukan hal yang sama?”
“Iya pak”
“Bahwa perayaan tersebut bukanlah bersifat ritual keagamaan, melainkan tradisi Kong Hu Cu yang dijalankan turun-temurun dikeluarga saudara. Apakah betul begitu?”
“Betul pak”
“Karena hal itu adalah tradisi budaya belaka, tentunya dalam hal ini saudara tidak menganggap Kong Hu Cu sebagai sebuah agama. Apakah betul begitu?”
“Betul pak”
“Perlu dijelaskan, bahwa negara Republik Indonesia tidak melarang para warga peranakan Cina untuk menjalankan tradisi tersebut. Namun, patut diketahui tradisi tersebut sifatnya asing karena tidak tumbuh dan berkembang di Indonesia melainkan berasal dari negara Cina. Dan sebagai seorang warganegara Pancasila, sudah sepatutnyalah kaum peranakan Cina di Indonesia untuk menghormati tradisi dan kebudayaan leluhur yang telah tumbuh dan berkembang sejak masa lamapu di Indonesia. Apakah saudara paham akan hal tersebut?
“Paham”
“Dan oleh karenanya, hingga saat ini saudara masih menjadi salah satu pemeluk dari kelima agama yang diakui oleh negara. Dalam hal ini, saudara mengaku beragama Hindu, apakah betul begitu?
… … … … … … … …
“Saya ulangi. Hari ini telah datang menghadap seorang anak laki-laki berusia 16 tahun, bernama Lie Liang Wei atau yang dikenal dengan nama Putu Winarta. Terlahir dari seorang warga keturunan bernama Lie Sie Say, yang berayahkan Lie Tie Djoe atu yang dikenal dengan nama I Made Teja kepada siapa ia memperoleh kewarganegaraan Indonesia pada awal mulanya.”
“Kepadanya telah ditanyakan beberapa hal yang terkait dengan masalah status kewarganegaraannya, yang ia jawab dengan sangat memuaskan … … … Sekian pertanyaan dari kami dan suadara diperbolehkan kembali ketempat saudara.”
“Terimakasih pak. Selamat siang. Oh ya, ini ada titipan dari bapak saya”

Notabene : Selamat tinggal diskriminasi Ang Pao!

Akhirnya Datang Juga [Akhirnya Mati Juga]

January 28th, 2008

Pengadilan Terakhir Bagi SoehartoSetelah sekian hari mengisi lembaran berita harian atas berita tentang sakit yang mendera ditubuh rentanya, akhirnya ia tak kuasa juga menolak datangnya malaikat untuk membawakan maut dijiwa yang fana itu. Malaikat yang sama yang menjemput kematian orang-orang yang tak ia inginkan semasa ia memerintah.

Untunglah ia sekarang sudah mati. Bila tidak, berapa banyak lagi uang negara yang harus dikeluarkan untuk menanggung sakitnya. Dan bila itu ditambahkan dengan jumlah uang negara yang ia curi dibalik jubah Bapak Pembangunan, bertambah panjang pula daftar dosa diatas tubuh rentanya.

Ia begitu dicintai, walau tak sedikit yang membenci.

Dibalik semua kemajuan, kenyamanan dan ketentraman yang pernah ia ciptakan semasa berkuasa, terdapat borok yang nantinya akan berakhir bak bola salju, manakala anak dan cucu kita harus menerima kenyataan bahwa negara yang mereka cintai menunggak hutang sekian banyak. Bahwa tanah pertiwi yang mereka hormati terancam ambruk tertimpa kebangkrutan. Dan dibalik semua itu, tersimpan lubang menganga tentang perilaku menyimpang sanak dan kroninya yang bergelimang mewah, menari diatas derita kemiskinan rakyat negeri ini.

Selamat jalan, pak. Semoga akhirat dapat memberimu keadilan yang terindukan diatas keadilan-keadilan semu yang pernah ia ciptakan diatas kepastian hukum yang ia nistakan.

Terselip tanya dihati, kenapa bangkaimu harus disimpan oleh pertiwi? Kenapa tak berakhir seperti kolega Tagalog-mu? 1 Diawetkan dan diabadikan dalam kotak kaca untuk dipajang dan dipertontonkan pada khalayak ramai sehinggadikemudian hari anak-cucu kita dapat mengenang semua keburukanmu dan berjanji dalam hati takkan lagi mengulangi apa yang telah kau nistakan di dunia ini.

Sekarang kita hanya tinggal menunggu apakah uang negara yang pernah ia curi akan dikembalikan atau tidak? Ataukah sandiwara tentang pengadilan cepat akan berakhir seperti dagelan politik yang biasa terjadi di republik ini.


Notabene :
1 Sekitar tahun 1996-an, Mendagri kala itu, Syarwan Hamid pernah menuduh Gus Dur dan Megawati seolah-olah hendak meniru tiga serangkai dari Filipina yang berperan besar dalam aksi “People Power” menjatuhkan rezim yang berkuasa saat itu. Gus Dur berperan seperti Kardinal Sin serta Megawati sebagai Corazon Aquino. Namun menurut Syarwan, hal tersebut tidak akan terjadi karena tidak ada tokoh yang berperan sebagai Fidel Ramos. Nama Amien Rais sempat dimunculkan sebagai figur Fidel Ramos.
Mendengar hal ini, Gus Dur dengan enteng menjawab, jika mereka diibaratkan sebagai tiga serangkai, Kardinal Sin, Aquino dan Ramos, lalu siapa yang menjadi Ferdinand Marcos-nya?
[Diambil dari : Biografi Abdurahman Wahid yang ditulis oleh Greg Bartons]

Foto doambil dari Berpolitik.Com

Hewan Paling Aneh di Dunia

January 20th, 2008

Tahun 1990-an pihak Institut Pertanian Bogor pernah memperkenalkan hewan aneh yang mereka sebut sebagai DOMBING. Secara fisik bentuk kepala dan perawakanya seperti kambing pada umumnya namun disekujur tubuhnya tumbuh bulu-bulu ikal panjang seperti layaknya domba. Tak usah heran karena hewan DOMBING ini merupakan hasil perkawinan silang antara domba dengan kambing.

Beberapa bulan lalu, di luar negeri, pernah diperkenalkan hewan yang mocong, telinga dan perawakannya mirip keledai namun sekujur tubuh dan kaki tampak ada belang berwarna hitam layaknya zebra. Ya, hewan ini merupakan hasil perkawinan silang antara keledai dengan zebra. Mungkin di Indonesia hewan ini bisa diberi nama KELEBRA.

Tingkat keanehan dua hewan ini masih bisa dibilang biasa, karena masih bisa dijelaskan dengan geneologi. Begitu pula dengan hewan yang sering disebut “aneh” oleh masyarakat kita, seperti, ayam berkaki empat, sapi bermuka dua, kambing berkaki tiga, dan sejenisnya, semua masih tergolong biasa-biasa saja. Ilmu genetika masih bisa menjelaskannya. Seperti menjelaskan asal-usul harimau putih yang banyak dipelihara dikebun binatang, yang asal-usulnya dari harimau bengala jantan berwarna putih yang bernama Mohan.

Dari penelusuran literatur yang selama ini saya lakukan dan dari buku-buku yang saya baca, saya berhasil menemukan bahwa ada 4 binatang yang paling aneh di dunia, yakni :

  • Semut, karena kalau ditanya apapun, jawabnya selalu : “ooeee… ooeee”.

Semut-semut kecil, saya mau tanya
Apakah kamu didalam tanah tidak takut cacing
… … … …
Ooeee… ooeee…, itu katamu
Ooeee… ooeee…, itu jawabmu
[Melissa; Semut-semut Kecil]

  • Burung Kutilang, karena bila mengangguk dan berseru, suaranya : “trilili…li…li…li…li…li…li…”

Dipucuk pohon cemara
Burung kutilang berbunyi
… … … …
Mengangguk-angguk sambil berseru
trilili…li…li…li…li…li…li…
[NN; Burung Kutilang]

  • Belalang dan Kupu-kupu, karena kalau siang makan nasi, kalau malam minum susu.

Pok ame-ame
Belalang, kupu-kupu
Siang makan nasi
Kalau malam minum susu
[NN; Pok Ame-ame]

Robohnya Pura Kami

January 17th, 2008

Tadi malam saya mendapatkan sebuah pesan singkat dari seorang kawan yang berdomisili di Mataram, Lombok Barat. Isinya tentang informasi bahwa pada tanggal 15 Januari, pukul 23.30 wita, Pura Sangkareang yang berlokasi di Kecamatan Narmada, Lombok Barat, telah dirusak oleh sekelompok orang tak dikenal. Nampaknya peristiwa ini merupakan lanjutan dari peristiwa perusakan pura yang terjadi beberapa waktu lalu di daerah yang sama.

Terlepas dari semua itu, saya memohon pada seluruh umat Hindu yang ada di Indonesia, khususnya yang berada di Lombok Tengah, untuk menahan diri dan tidak berinisiatif melakukan tindakan balasan. Tidak ada alasan bagi kita untuk membalas semua tindakan yang kurang terpuji dengan jalan kekerasan. Tat Twam Asi dan Ahimsa, pada dua ajaran itu kita bersandar.

Patut diingat bahwa suku Sasak yang ada di pulau Lombok terkenal dengan rasa toleransi yang tinggi terhadap keberagaman agama. Masyarakat Sasak menciptakan sebuah alkulturasi penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam suatubentukkeyakinan yang disebut sebagai Watu Telu. Yakni alkulturasi antara ajaran Hindu, Islam dan kepercayaan lokal masyarakat Sasak. Manifestasinya bisa kita dalam bentuk ritual Perang Tupat, yakni sebuah acara saling melempar ketupat yang diselenggarkan di Pura Narmada.

Bangsa ini sudah lelah dengan kecamuk konflik yang diboncengi sentimen negatif agama. Hendaknyalah kita tidak ikut menambah kucuran darah yang membasahi pertiwi ini hanya karena ulah oknum yang tidak menginginkan kedamaian tercipta di bumi nusantara.

Kepada kompatriot blogger saya : Semeton Bali, Dokter IMCW, Baladika, Dharma Putra, Anton Muhajir, Brokencode, Tude Gendam, Wayan Sudane, Dewi Jember, dan kawan-kawan yang lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, mohon untuk menyebarluaskan info ini dan berdoa agar tidak terjadi aksi balas dendam atas peristiwa ini. Terimakasih.

Mengenai tradisi perang topat, silahkan anda baca disini.

Salut Untuk Sang Diktator

January 16th, 2008

Kamu yang sudah tua, apa kabarmu?
Katanya baru sembuh, katanya sakit
Jantung, ginjal dan encok sedikit syaraf
Hati-hati Pak Tua, istirahatlah di luar banyak angin
[Elpamas; Pak Tua]

Ketika nenek saya sakit dan harus dirawat inap di rumah sakit, banyak kawan-kawan blogger menjenguknya di bangsalnya yang kebangetan ituh. Sebagian besar dari mereka mendoakan agar nenek saya ini segera sembuh dari sakitnya dan kembali bisa berkicau dengan merdu “tralala-trilili”. Nenek saya yang cantik ini memang telah menjadi idola [IDaman Orang giLA] para blogger Indonesia. :mrgreen:

Lalu ketika Sang Jenderal Murah Senyum itu sakit, koran dan televisi ramai memberitakannya. Para kerabat dan handai taulan silih berganti menjenguknya. Para teladan negeri ini pun tak luput untuk melakukan hal yang sama. Entah ia menteri, jenderal atau apapun, semua pasang muka dihadapannya, entah mencari simpati atau sekedar tanda tunduk pada Sang Jenderal yang telah membuat mereka menjadi kroni yang menyebabkan negeri ini menderita wabah kronis yang secara kronologis tumbuh dan berkembang sejak Sang Jenderal memegang tampuk kuasa negeri ini.

Ia dianugerahi gelar Pemimpin Terkorup oleh badan dunia. Ia selalu menghindari persidangan di Pengadilan, dengan alasan sakit, untuk membuktikan apakah benar dirinya melakukan atau tidak melakukan praktik korupsi selama berkuasa. Dan gelar itu akan tetap melekat abadi padanya karena tidak akan pernah ada putusan hukum yang menyatakan bahwa ia tidak bersalah atas tuduhan korupsi tersebut. Gajah mati meninggalkan gadingnya, harimau mati meninggalkan belangnya.

Dan dengan lihainya pokrol-pokrol yang ada disebelahnya mengeluarkan jurus waringin sungsang, memutarkan balikkan dalil-dalil hukum. Bahwa seorang yang sudah tua dan sakit-sakitan sudah tidak selayaknya diajukan ke meja hijau. Salah besar tentu saja. Karena orang tua dengan kondisi kesehatan apapun, kecuali cacat mental dan atau mengalami gangguan jiwa, tetap layak diajukan ke Pengadilan. Apabila putusan Pengadilan menyatakan ia bersalah, hakim dapat mempertimbangkan agar ia dibebaskan untuk tidak menjalani hukumannya.

Begitulah Sang Jenderal. Angkuh dan sekehendaknya sendiri. Maka tak salah bila ia disebut Diktator. Karena ciri utama seorang diktator adalah kebal terhadap hukum. L’estat cest moy.

Teriring sujud yang mendalam, dalam hati saya tetap mendoakan agar Sang Jenderal diberi umur panjang. Karena percuma saya mendoakan agar El-Maut segera mengakhiri saja nyawa Sang Jenderal. Tidak ada yang bisa menghindari karmaphala. Baik-buruknya perbuatan yang dilakukan, hasilnya harus selalu kita nikmati. Tak terhitung jumlah nyawa yang terbuang percuma di tangan Sang Jenderal dan antek-anteknya. Tak terhitung jumlah uang rakyat yang ditilap bersama sanak saudara dan familinya serta kroni-kroninya. Entah berapa banyak kejahatan yang pernah ia lakukan ketika ia berkuasa. Dan entah berapa banyak kejahatan yang lahir dari kejahatan-kejahatan yang pernah ia lakukan.

Kini saatnya untuk menikmati semuanya dalam sakit, lelah dan nafas yang tersengal-sengal. Siapa menabur angin, ia akan menuai badai.

Silahkan baca juga disini.

Berita Cuaca

January 13th, 2008

Banjir Bojonegoro

Dari Bojonegoro dilaporkan bahwa daerah yang paling parah terendam banjir yang diakibatkan oleh luapan air Bengawan Solo ini adalah disekitar kawasan Rumah Sakit Umum Daerah Bojonegoro. Dihubungi terpisah, Kepala RSUD Bojonegoro, mengatakan bahwa ruangan yang paling parah terendam banjir adalah ruang jenazah, mengingat ruangan tersebut berada dilantai paling bawah komplek rumah sakit tersebut. Dari data yang berhasil dihimpun oleh pihaknya, dilaporkan 6 mayat meninggal dunia, 10 mayat menderita luka berat dan 5 mayat lainnya berhasil selamat dengan cara berenang.

Berdasarkan data dari Satgas Bencana Alam, hingga hari ini jumlah korban banjir bojonegoro semakin bertambah. Tercatat hari ini, jumlah korban meninggal dunia sebanyak 12 orang, 16 perak dan 9 perunggu.

[dijiplak dari jawabos.co.id :mrgreen: ]

Banjir Jakarta

Sementara itu, banjir kiriman yang menggenangi wilayah Jakarta, terutama di daerah sepanjang aliran sungai Ciliwung, telah mengakibatkan kemacetan di wilayah ibukota semakin parah serta menimbulkan kerugian yang diperkirakan nilainya mencapai miliaran rupiah. Kondisi ekologis sungai Ciliwung serta daerah resapan air disekitarnya yang parah akibat ulah tangan-tangan jahil manusia dituding sebagai penyebabnya.

Oleh karenanya, Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Wibowo, menghimbau kepada warga Jakarta agar bahu-membahu untuk mengungkap dan menangkap siapa yang telah jahil mengirimkan banjir ke wilayah mereka.

[dijiplak dari kompos.com :mrgreen: ]

Tewas Tersambar Petir

Dua orang pengendara sepeda motor dilaporkan meninggal dunia akibat tersambar petir di jalur by pass Krian, Mojokerto. Dua orang pengendara nahas ini meninggal dengan tubuh menderita luka bakar yang sangat parah.

Belum diketahui pasti identitas dari kedua jenazah tersebut. Untuk kepentingan visum, saat ini kedua jenazah telah dibawa ke rumah sakit setempat untuk diotopsi.

Sampai saat berita ini diturunkan, pihak kepolisian setempat masih berupaya melakukan penyisiran ditempat kejadian perkara serta melakukan pengejaran untuk menangkap si pelaku.

[dijiplak dari korantempe.com :mrgreen: ]

Harry Potter and the Deathly Hallows

January 10th, 2008

3 hari lagi, tepatnya tanggal 13 Januari 2008, rencananya pihak Gramedia selaku pemegang lisensi penerbitan novel Harry Potter di Indonesia akan meluncurkan seri terakhir novel petualangan penyihir remaja yang bernama Harry Potter dalam edisi bahasa Indonesia. Rilisan pertama seri terakhir tersebut diedarkan dalam bentuk versi sampul tebal [hardcover]. Sedangkan untuk versi sampul biasa [softcover] dijadwalkan akan diluncurkan pada tanggal 27 Januari 2008.

Ya, kapanpun rencana seri terakhir novel Harry Potter tersebut akan diluncurkan dalam edisi bahasa Indonesia, saya hanya berharap bahwa novel tersebut benar-benar akan diluncurkan dalam edisi bahasa Indonesia yang sesungguhnya. Dalam artian bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tidak seperti 6 seri sebelumnya yang konon kabarnya menggunakan bahasa Indonesia, tapi entah bahasa Indonesia dari negara mana.
Berikut adalah penggalan kalimat aneh yang bisa ditemukan pada seri ke-6 novel Harry Potter dalam bahasa Indonesia yang berjudul Hary Potter dan Pangeran Berdarah Campuran.

  • Yeee, itu mah sama juga bohong, kau kan sudah mati,” ledek Ron. [halaman 210 ]
  • Biasanya ia tidak berbaring di tempat tidur membaca buku pelajaran. Sikap seperti ini, seperti yang dikatakan Ron, kecuali Hermione, yang memang sudah ajaib dari sononya… [halaman 301]
  • “makan malamnya tidak parah-parah amat”… [halaman 309]
  • Yak kita pergi ke Three Broomstick” … [halaman 310]
  • Ron kau ngeliatin apa sih?… [halaman 313]
  • Pada halaman 303, anda bisa menemukan kata “sori” disebutkan sebanyak 2 kali.

Sebenarnya masih ada beberapa lagi, tapi saya enggan untuk menuliskannya. Begitu juga dengan ke-5 seri yang lain. Selain menghabiskan tenaga dan ruang untuk ditulis, saya tidak bayar untuk melakukan koreksi atas penggunaan bahasa Indonesia yang ada di buku tersebut. Sedangkan pihak Gramedia sendiri sudah memiliki tenaga penerjemah profesional yang saya yakini memiliki kapabilitas terpercaya. Semoga pihak Gramedia lebih teliti melakukan pemeriksaan bahasa dalam setiap buku-buku yang mereka terbitkan.

Dan terakhir saya harap, kata-kata seperti : er, yeah, shh, sori, sebaiknya diganti saja dengan padanan kata yang sama dalam bahasa Indonesia. Kita tidak akan pernah mendengar orang Indonesia bergumam sengau “eerrr …“, setiap mereka berucap. Atau mendesis “sshhh” untuk mengisyaratkan diam. Apa susahnya bila kata-kata itu misalnya diganti dengan, “eee”, “yah”, “ssstt”, dan “maaf”.

[Tambahan, Tanggal 17 Januari 2008]

Hari ini saya sedang browsing di salah satu warnet yang ada di daerah Karang Menjangan. Alangkah terkejutnya ketika saya menemukan file berekstensi .PDF yang berisi salinan buku Harry Potter yang ketujuh dalam bahasa Indonesia, Harry Potter dan Relikui Kematian. Saya tidak tahu siapa yang tega melakukan tindakan ini. Walaupun salinan ini hanya sampai pada halaman 400-an, yakni sampai Harry memasuki memori ingatan dari Severus Snape yang masih tersimpan di pensieve yang terletak diruangan kepala sekolah Hogwarts.

Saya menduga ini merupakan cara promosi dari pihak Gramedia. Tapi untuk kejelasannya, semoga pihak gramedia bisa mengklarifikasi. Ini terpaksa saya sertakan file yang saya maksud tersebut. Segera setelah ada klarifikasi dari pihak Gramedia, bila diperlukan saya bersedia untuk menghapusnya dari direktori blog ini. Terimakasih.

Harry Potter dan Relikui Kematian [pdf]

Sarekat Islam dan Organisasi Kebangkitan Nasional [2]

December 30th, 2007

Sarekat Islam bisa dibilang mengambil semacam kebijakan “non-kooperatif” terhadap pemerintah Hindia Belanda, sesuai dengan tujuan awal berdirinya, yakni untuk sebisa mungkin tidak melakukan perdagangan dengan pemerintah Hindia Belanda dan antek-anteknya. Ada penekanan khusus terhadap kata perdagangan disini.

Untuk beberapa saat lama, Sarekat Islam tetap berjalan sesuai dengan relnya yakni sebagai wadah organisasi para pedagang Islam. Saya tidak tahu dengan pasti mulai kapan masuknya infiltrasi ide-ide anti-kolonialisme yang sesungguhnya, dalam hal ini semangat untuk menjadi bangsa merdeka, mulai merasuk didalam tubuh organisasinya.

Begitu pula dengan masuknya infiltrasi ide dari para anak ideologis Snevliet, seperti Semunov, Darsonov, Alminski, Muso dkk ke dalam tubuh organisasi tersebut yang menyebabkan pecahnya organisasi tersebut menjadi SI Merah dan SI Putih. *

Namun satu hal yang patut digarisbawahi disini adalah fakta bahwa Sarekat Islam didirikan untuk mewadahi serta melindungi kepentingan para pedagang Islam dikala itu. Benar atau tidak pernyataan saya ini? Lalu bagaimana dengan pernyataan yang ini :
suatu saat HOS Cokroaminoto menjadi anggota Volkskraad yang membuat ia bermusuhan dengan mantan menantunya. Benar atau salah?

Kembali pada inti permasalahan, yakni tentang predikat sebuah organisasi kebangkitan nasional. Masing-masing dari kita tentu punya kriteria tersendiri untuk melabelkan predikat tersebut. Baiklah jika beberapa dari anda menganggap Sarekat Islam sebagai organisasi kebangkitan nasional yang pertama. Terlepas dari perspektif apa yang anda pakai, tidak ada salahnya kita sedikit memfokuskan pandangan pada dua hal.

Yang pertama, patut diingat bahwa fase awal tahun 1900-an merupakan fase pergerakan nasional dalam babad sejarah Indonesia. Pergerakan nasional yang dimaksud adalah tumbuhnya kehendak untuk bersatu dalam kebersamaan untuk menentang imperialisme
yang amat menindas. Dari titik ini, coba kita pertanyakan kembali pada diri kita, patutkah sebuah organisasi dagang kita sebut sebagai organisasi nasional? Sama halnya dengan menyebut Boedi Oetomo, yang tak lebih dari kumpulan sekelompok priyayi Jawa, sebagai organisasi kebangkitan. Betul bahwa mahasiswa STOVIA, tapi lihatlah anggota yang tergabung didalamnya.

Yang kedua adalah kata “nasional” yang menyertai kata “organisasi kebangkitan”. Kata “nasional” bermakna sebagai suatu keadaan kebangsaan yang menyeluruh. Bergunjing tentang kebangsaan yang menyeluruh, saya kira kawan Badrus harus membuka celana mata dengan lebar untuk melihat fakta bahwa masyarakat Indonesia tidak hanya terdiri dari orang Islam saja. Dan sebuah organisasi yang hanya bergerak disatu kepentingan sektarian saja apakah patut untuk diberi predikat organisasi kebangkitan nasional. Sama halnya ketika bertanya, masih layakkah PAN menyandang kata Nasional dibelakangnya ketika ia mulai menjurus sebagai parpol yang bernuansa agamis yang tidak lebih merupakan representasi kaum Muhammadiyah ditataran politik praktis?

Ada yang salah dengan pemahaman konsep nasionalisme dan nation-state (negara bangsa) didalam benak anda.**

Pernyataan kawan Badrus yang lain, bahwa Sarekat Islam tidak dianggap sebagai organisasi kebangkitan yang pertama di Indonesia karena tidak terdaftar secara resmi pada Pemerintah Hindia Belanda.

Sekali lagi kita berbicara tentang metode penelitian sejarah. Dimana suatu nota atau catatan tertulis dimasa lampau bisa menjadi bukti untuk menyusun sebuah alur sejarah.

Sebuah organisasi modern, saya harus menyebut seperti ini untuk membedakannya dengan organisasi sosial masyarakat adat yang sudah sejak dulu ada di Indonesia, pastilah memiliki sekurang-kurangnya sebuah visi dan sebuah misi. Sehingga tujuan pendirian organisasi tersebut serta arah perkembangannya dapat diketahui dengan jelas.

Saya tidak mengetahui secara pasti bagaimana aturan yang berlaku pada saat itu untuk membentuk sebuah organisasi. Namun bila benar Sarekat Islam berdiri pada tahun 1906 dan tidak terdaftar di dinas pemerintahan Hindia Belanda, maka ada sedikit pertanyaan ragu yang akan muncul. Benarkah Sarekat Islam pada waktu sudah mencerminkan sebuah organisasi modern yang membedakannnya dengan organisasi tradisional masyarakat adat yang sudah ada sebelumnya? Tidakkah Sarekat Islam itu mula-mula berdiri sebagai sebuah organisasi sosial paguyuban antar pedagang Islam? Jika benar ia hanya sebuah organisasi sosial paguyuban, apa yang membuatnya layak untuk menyandang predikat sebagai organisasi kebangkitan nasional.

Notabene :
* Nama-nama ini saya ambil dari sebuah novel yang beberapa tahun yang lalu pernah laris di Indonesia dan kemudian dilarang beredar oleh rezim Orde Baru. Apa kira-kira judul novel tersebut? Jawaban benar pertama akan saya beri tautan dari blog ini.
Ditunggu hingga hingga 11 Januari 2008. Syarat dan ketentuan berlaku :).

** Saya akan menulis artikel tentang konsep nasionalisme dan nation-state bila ada waktu.